Welcome to Difa Oral Health Center

Opening Hours : Selasa-Jumat 14:00-20:00, Sabtu-Minggu 09:00-15:00
  Contact : +62813-1650-6535

All posts by Widya

IMG_3570

Tes HIV di Dokter Gigi?

Selama ini dokter gigi selalu identik dengan senyum indah dan gigi bagus. Namun terkadang dokter gigi lupa bahwa ruang lingkup dari dokter gigi bukan hanya gigi semata, tapi juga berbagai bagian rongga mulut seperti gusi, bibir, langit-langit, bahkan air ludah.

Saat ini berbagai penelitian di luar negri sudah melibatkan dokter gigi dalam pemeliharaan kesehatan tubuh dan juga diagnosis penyakit tubuh seperti HIV.

Bahkan bahwa tes HIV yang selama ini identik dengan menggunakan darah dapat dilakukan dengan cairan air ludah. Tes HIV dengan menggunakan air ludah dipandang lebih mudah, sederhana, dan tanpa rasa sakit, namun dengan keakuratan yang sama dengan menggunakan darah.

Nah, inovasi pemeriksaan HIV dengan air ludah ini menjadi sangat berguna dan dapat mendukung upaya pemerintah dalam mengajak sebanyak-banyaknya masyarakat untuk melakukan tes HIV dan mengenal status HIV nya.

Tadi siang tim Difa OHC berkesempatan mencoba tes HIV dengan menggunakan air ludah yang bernama ChemBio yang dibawa oleh drg. Theodorus Hedwin Sp.PM dari Amerika.

Semoga dalam waktu dekat Chembio ini dapat masuk ke Indonesia dan dapat digunakan oleh masyarakat Indonesia.. Amin

Read More
fluor

Fluor atau Fluoride, Zat Penuh Kontroversi (Bag.3-Habis)..

Jika memang fluoride berguna untuk melindungi terjadinya gigi berlubang, mengapa masih banyak kelompok yang anti terhadap fluoride ini?

Kita semua tentu setuju dengan pernyataan segala sesuatu yang berlebihan menjadi tidak baik. Nah, hal tersebut juga berlaku untuk asupan fluoride dalam tubuh.

Berapa kadar fluoride yang aman untuk tubuh ?

Air Kemasan

Kandungan fluoride pada air kemasan di Indoensia mengikuti atutan WHO (2011) dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum, yaitu tidak lebih dari 1,5 mg/l.

Bidang Kedokteran Gigi

Untuk penggunaan di kedokteran gigi, konsentrasi fluoride rendah adalah sebanyak 0.25 – 1 mg per tablet; 1000 – 1500 mg per kg pada pasta gigi, atau konsentrasi fluoride tinggi sebanyak 400-60000 mg/kg di dalam 10 000 mg/liter atau gel, untuk penggunaan secara topikal.

Untuk konsentrasi rendah umumnya terdapat pada produk kesehatan gigi dan mulut yang dijual bebas, seperti pasta gigi dan obat kumur. Sedangkan untuk kadar tinggi, terdapat dalam produk gel dan juga varnish yang aplikasinya harus dengan petunjuk dokter gigi.

Makanan

Kadar fluoride dalam makanan seperti sayur, buah, dan daging, sangat tergantung dari kondisi alam disekitar makanan tersebut berada dengan kadar yang bervariasi.

Namun diperkitakan paparan fluoride secara alami tidak akan lebih dari 1 mg/liter, sehingga tidak memiliki pengaruh terhadap berbagai efek samping yang selama ini takuti oleh sekelompok masyarakat.

Sehingga hal yang harus kita pertanyakan adalah sudah cukupkah asupan fluoride saya ?

Jangan sampai anda sibuk menghindari flouride sampai kesehatan gigi dan tubuh anda dan keluarga menjadi taruhannya.. Karena bagaimanapun gigi adalah anugerah dari Tuhan yang harus kita jaga seumur hidup kita.

Salam Sehat,

(Penulis : drg Widya Apsari Sp.PM)

Sumber:

 

Baca juga:

Read More
Fluoride+benefits

Fluor atau Fluoride, Zat Penuh Kontroversi (Bag. 2)

Fluoride merupakan mineral ion yang secara natural terdapat pada air, tanah, udara, dan juga berbagai makanan secara alami. Umumnya paparan fluoride pada makanan dan minuman berasal dari paparan ion flouride dari alam (vulkanik, mata air, tanah, dll).

Apa saja makanan dan minuman yang mengandung fluoride ?

Pada penelitian, diketahui kadar fluoride tertinggi terdapat pada teh, seafood, daging, bayam, dan gelatin. Dan sedikit pada buah citrus, sayuran, telur, dan susu. Namun kadar fluoride sendiri menjadi bervariasi tergantung dari kondisi geografis di suatu wilayah.

Untuk mengecek kandungan fluoride dari berbagai makanan bisa cek disini

Sedangkan produk kesehatan gigi yang selama ini mengandung fluoride adalah pasta gigi, obat kumur, dan juga berbagai produk pencegahan gigi berlubang di dokter gigi adalah varnish dan gel

Fluoride+benefits

Bagaimana fluoride dapat mencegah terjadinya gigi berlubang ?

Fluoride dapat melindungi gigi secara sistemik (melalui asupan ke dalam tubuh) dan topikal (melalui paparan dari luar).

Secara sistemik fluoride berperan dalam proses mineralisasi pembentukan gigi di dalam tulang rahang dan juga dengan peningkatan kadar fluoride di dalam air ludah. Sehingga pada saat pembentukan benih gigi, dengan adanya kadar fluoride yang cukup, akan terbentuk gigi yang susunan mineral yang kuat dan tidak mudah larut oleh asam dari bakteri dan juga makanan.

Sedangkan secara topikal, fluoride berperan pada saat gigi sudah tumbuh sempurna, dengan cara melapisi gigi sehingga tahan terhadap bakteri penyebab gigi berlubang, dengan cara membantu pembentukan kembali mineral dari lapisan gigi yang larut akibat asam dari bakteri penyebab gigi berlubang dan makanan.

Sejauh mana fluoride dapat mencegah terjadinya gigi berlubang ?

Menurut penelitian yang ada, paparan fluoride, terutama melalui air minum, dapat mencegah terjadinya gigi belubang pada gigi susu sebesar 35% dan pada gigi permanen sebesar 26%. Dan secara signifikan meningkatkan individu dengan bebas gigi berlubang pada gigi susu sebesar 15% dan pada gigi permanen sebesar 14%.

Secara umum, fluoride di dalam air minum dapat mengurangi terjadinya gigi berlubang sebesar 40 -60 %

Jika fluoride sangat signifikan untuk membantu kita memiliki struktur gigi yang kuat, mengapa fluoride ini terus menjadi kontroversi ? Berapa banyak asupan fluoride total yang kita dapatkan dari makanan ? Apakah kebutuhan fluoride sudah tercukupi melalui makanan ?

(Penulis : drg. Widya Apsari Sp.PM)

Sumber:

Baca selanjutnya:

Read More
Yuk kita sama-sama belajar memahami apa itu zat fluoride itu.

Fluor atau Fluoride, Zat Penuh Kontroversi (Bag.1)

Bagi anda yang pernah merasakan sakit gigi, atau anda yang merasakan biaya perawatan gigi yang bolak-balik dan menguras kantong, atau anda memiliki pengalaman dengan anak yang mengalami sakit gigi sehingga menjadi susah makan pasti setuju dengan pertanyaan lebih baik mencegah sakit gigi dan gigi berlubang daripada harus bolak -balik ke dokter gigi.

Anda tidak asing lagi dengan zat fluor atau fluoride yang sering disebut-sebut sebagai zat yang dapat mencegah gigi berlubang. Namun anda juga pasti pernah mendengar atau membaca tentang bahaya fluoride bagi tubuh. terutama anak-anak.

Bahkan beberapa berita secara terang-terangan menyebutkan kita harus hindari makan dan minuman yang mengandung fluor.

Memang apa saja makanan dan minuman yang mengandung fluoride? dan berapa kadarnya? Berapa batas kadar aman bagi tubuh?

Yuk kita sama-sama belajar memahami apa itu zat fluoride itu.

(Penulis : drg. Widya Apsari Sp.PM)

Baca selanjutnya

Read More
health eat

Gigi Rapi untuk Kesehatan Tubuh

Gigi rapih dan tersusun rapih dan terlihat indah pada saat tersenyum merupakan dambaan banyak orang. Alasan itu yang umumnya digunakan seseorang dalam memutuskan untuk melakukan perawatan ortodontik, atau kawat gigi, atau behel.

Tapi tahu kah jika gigi geligi yang rapih lebih terkait dengan “kesehatan” dibandingkan dengan “keindahan” ?

“Orthodontic treatment is for recognize fuction of teeth.. Than, beauty will follow” — drg. Adianti

Nah, apa saja fungsi utama dari gigi? Tentu yang pertama adalah untuk mengunyah dan memotong makanan dan untuk berbicara. Coba bayangkan bila gigi depan atas kita maju kedepan (tongos) apakah kita bisa menggigit makanan dengan leluasa? Kemudian apakah kita dengan leluasa berbicara dengan gigi yang maju kedepan? Jawabannya tentu tidak

Proses makan merupakan kebutuhan utama manusia untuk hidup. Jadi dengan gigi yang tersusun rapih, proses makan menjadi lebih nyaman, sehingga asupan nutrisi menjadi lebih baik.

Bahkan pada beberapa orang tidak dapat mengunyah dengan menggunakan gigi geligi pada dua sisi. Sehingga selalu mengunyah pada satu sisi gigi gerahamnya.

Nah apa dampaknya bila mengunyah dengan satu sisi rahang ini dibiarkan? Dampak pertama adalah penumpukan karang gigi disisi yang tidak digunakan untuk mengunyah makanan. Kemudian perubahan bentuk wajah oleh karena pembesaran otot wajah yang lebih sering digukanan untuk makan. Dan juga pada tingkat yang lebih parah mengunyah makanan pada satu sisi rahang dapat menyebabkan kerusakan pada sendi rahang.

Gigi geligi yang susunannya cenderung bertumpuk memiliki kemungkinan terjadinya penumpukan plak dan karang gigi serta terjadinya karies atau gigi berlubang yang lebih besar dari pada gigi geligi yang tersusun rapih.

Jadi perawatan ortodontik atau kawat gigi atau behel tidak melulu berhubungan dengan kecantikan, tapi lebih pada aspek kesehatan kita.

Complete physical health begins your smile.. — Difa OHC

ortho

Difa Oral Health Center
Jalan Benda Raya no 98G. Cilandak Timur. Jakarta Selatan.
Tep: (021)7812317. Whatsap/SMS : 081316506535. Line: bit.ly/difaOHC .BBM : 5804B228. Email :contact@difaohc.com

 

Read More
Kesehatan Gigi dan Mulut untuk Kesehatan Tubuh secara Keseluruhan

Kesehatan Gigi dan Mulut untuk Kesehatan Tubuh secara Keseluruhan

 

Tanggal 8-11 Juli 2016 lalu salah satu dokter gigi Difa Oral Health Center (Difa OHC) yaitu drg. Widya Apsari Sp.PM mengikuti lokakarya yang diselenggarakan oleh Angsamerah dengan tema “Pengayaan Praktis; Manajemen Klinis (SEX, HIV & DRUGS), Komunikasi Interpersonal, dan Strategi Bisnis di Layanan Kesehatan Primer, bagi Dokter Umum di Layanan Sektor Swasta”. Lokakarya penuh inspirasi dan manfaat.

Loh kok dokter gigi ikut lokakaryanya dokter umum? Dengan tema SEX, HIV, & DRUG? Apa kolerasinya?

Layanan kesehatan saat ini sudah memasuki era pelayanan kesehatan melalui pendekatan berbagai disiplin ilmu. Begitu juga dengan layanan kesehatan gigi dan mulut. Berbagai kondisi kesehatan di dalam rongga mulut memiliki dampak kepada kesehatan tubuh, dan juga sebaliknya. Tidak terkecuali pada kondisi HIV, Penyakit Menular Sexual (PMS), maupun Penggunaan Drugs.

Gambaran tertentu dari rongga mulut dapat menjadi dasar diagnosis dini HIV dan juga PMS. Sehingga dokter gigi dapat menjadi orang pertama yang merujuk pasien untuk melakukan pemeriksaan diagnosis HIV dan PMS, sehingga pasien mendapat pengobatan sedini mungkin sebelum terjadi komplikasi medis yang lebih serius.

Selain itu, beberapa perawatan gigi dan mulut pada pasien dengan penyakit dan kondisi tubuh yang spesial, mengharuskan dokter gigi memiliki pengetahuan kesehatan tubuh disamping ilmu tentang gigi agar dapat merawat pasien dengan baik.

“Rongga mulut adalah cermin dari kondisi dan kesehatan tubuh anda”

Tidak hanya HIV dan PMS yang menimbulkan gambaran khusus pada rongga mulut, berbagai penyakit seperti diabetes melitis (DM), anemia, hepatitis, dan juga malnutrisi pun dapat diketahui dari kondisi rongga mulut seseorang. Dan juga kondisi CD4 yang rendah pada pasien HIV, hipertensi, gula darah tinggi pada pasien DM dan juga kadar Hemoglobin (darah merah) yang rendah pada pasien juga seharusnya menjadi perhatian yang dokter gigi sebelum memutuskan melakukan perawatan gigi pada pasien.

Sehingga sudah selayaknya seorang dokter gigi selain memiliki pengetahuan tentang bagaimana merawat gigi geligi, juga harus memiliki pengetahuan mengenai kesehatan tubuh dan penyakit sistemik agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pasien-pasiennya.

http://blog.angsamerah.com/lokakarya-angsamerah-juni-2015-praktis-dan-menginspirasi/

Jalan Benda Raya no 98G. Cilandak Timur. Jakarta Selatan.
Tep: (021)7812317. Whatsap/SMS : 081316506535. Line: bit.ly/difaOHC .BBM : 5804B228. Email :contact@difaohc.com
Read More
difaOHC

Difa Oral Health Center sebagai pelopor Kesehatan Rongga Mulut

"Complete phycical health begins with your smile"

Itu merupakan tagline Difa Oral Health Center, sebagai wujud kontribusi dokter gigi dalam menjaga kesehatan tubuh melalui kesehatan gigi dan mulut.

Apa yang membedakan Difa Oral Health Center dengan klinik gigi lainnya?

Kami menyebut Difa Oral Health Center (Difa OHC) bukan sebagai klinik gigi, namun kami adalah klinik dokter gigi. Dokter gigi yang tidak hanya merawat kesehatan gigi geligi, namun dokter gigi yang merawat seluruh bagian dari kesehatan rongga mulut costumer. Sehingga konsep Difa OHC sebagai klinik dokter gigi yang bukan semata memberikan layanan kesehatan gigi, namun kami memberikan layanan kesehatan rongga mulut secara keseluruhan.

Itu juga yang mendasari mengapa kami memilih nama ” Difa Oral Health Center” dan bukan “Difa Dental Health Center”. Kami memberikan fokus layanan kesehatan yang lebih luas dari sekedar perawatan gigi, namun layanan kesehatan rongga mulut secara keseluruan.

Apa yang dimaksud dengan “layanan kesehatan rongga mulut, dan bukan sekedar perawatan gigi?”

Difa OHC memperhatikan seluruh aspek dan bagian dari rongga mulut, yang meliputi lidah, air ludah, mukosa pipi (kulit pipi dalam), bibir, gusi, langit-langit, dan tentu saja gigi. Karena untuk mencapai kesehatan rongga mulut, tidak cukup hanya dengan memperhatikan kesehatan gigi, namun aspek lain pun menjadi bagian yang harus kita perhatikan dari customer kami.

Bagaimana konsep dari Difa Oral Health Center yang ingin ditunjukkan kepada customer dan juga calon customer?

Difa OHC ingin dikenal sebagai klinik dokter gigi yang melayani setiap customer kami dengan “sentuhan kemanusiaan dan personal”. Kami sadar bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan secara unik dan berbeda, oleh karena itu konsep utama yang ingin kami sampaikan adalah Difa OHC sebagai klinik dokter gigi yang “non diskriminasi” terutama kepada kelompok masyarakat tertentu yang termarginalkan oleh karena suatu penyakit yang dimilikinya.

Selain itu kami ingin setiap custumer kami mendapat ilmu kesehatan rongga mulut baik setelah berkunjung ke Difa OHC melalui komunikasi yang baik antara staf Difa OHC dengan setiap customer, maupun melalui berbagai media elektronik dan sosial media yang kami miliki.

Target apa saja yang dimimiliki oleh Difa Oral Health Center terhadap setiap customer yang datang?

Kami ingin setiap customer yang datang ke Difa OHC mendapatkan pengetahuan kesehatan dan pengetahuan bagaimana menjaga kesehatan tubuh sendiri, terutama kesehatan rongga mulut.

Jadi layanan pengobatan yang kami berikan, disetai dengan layanan dan edukasi pencegahan penyakit gigi dan mulut, agar tidak terjadi kerusakan pada gigi geligi yang lain diwaktu mendatang. Dan kami berkomitmen untuk selalu menjaga kesehatan rongga mulut setiap costumer kami.

Apa harapan yang dimiliki oleh Difa Oral Health Center terhadap kesehatan rongga mulut masyarakat Indonesia?

Difa OHC memiliki harapan menjadikan kunjungan ke dokter, terutama dokter gigi, bukan semata untuk mengobati “sakit”, namun untuk “menjaga kesehatan”. Sehingga dokter gigi dan staff Difa OHC menjadi patner costumer Difa OHC untuk mencapai kesehatan tubuh melalui kesehatan rongga mulut.

Sehingga dalam beberapa tahun kedepan kami ingin menjadikan “kunjungan ke Difa OHC sebagai bagian dari gaya hidup sehat”

Difa Oral Health Center
Jalan Benda Raya no 98G. Cilandak Timur. Jakarta Selatan.
Tep: (021)7812317.
Whatsap/SMS : 081316506535.
Line: bit.ly/difaOHC .
BBM : 5804B228.
Email : contact@difaohc.com

Read More
Kawat Gigi, Aksesoris atau Alat Terapi ?

Kawat Gigi, Aksesoris atau Alat Terapi ?

Saat ini pemasangan behel atau kawat gigi sudah menjadi bagian dari “life style” atau bahkan dapat dikategorikan sebagai “aksesoris” di gigi geligi.

Bahkan kita dengan mudah dapat menemukan layanan pemasangan kawat gigi atau behel ini di kios-kios pinggir jalan maupun layanan melalui online. Layanan pun bervariasi dari layanan panggil ke rumah maupun berupa produk yang dipasang sendiri oleh si pemesan.

Sebenarnya tren Kawat gigi “do yourself” menjadi ironi di tengah era masyarakat yang “sangat kritis” terhadap layanan kesehatan. Dan juga ironi ditengah gencar-gencarnya kampanye kesehatan dan hidup sehat.

Kawat gigi, atau behel, atau ortodonti merupakan cabang dari ilmu kedokteran gigi yang mempelajari susunan gigi geligi dan susunannya terhadap wajah kita. Bagaimana membuat seseorang menjadi nyaman dalam mengunyah, berbicara, tersenyum sesuai dengan profil wajah dan tulang wajah kita. Bukan semata dilihat dari gigi geligi yg asal rapih saja.

Karena dengan menggerakkan gigi, berarti ada pergerakan tulang penyangga gigi dan gusi. Serta dengan menggerakkan gigi berarti juga akan merubah bentuk wajah kita.

Jadi masih anggap kawat gigi sebagai bagian dari aksesoris di gigi?

(drg. Arfina Arief MM.)

Read More
major_aphthous_stomatitis

Yuk Kenali Sariawan dari Sisi Medis?

Istilah sariawan sangat tidak asing ditelinga kita, bahkan ada diantara kita yang sering sekali mengalami sariawan dan kondisi ini sangat menggangu aktifitas sehari-hari.

Berikut ini simak wawancara Difa Oral Health Center (Difa OHC) dengan salah satu ower Difa OHC yaitu drg. Widya Apsari Sp.PM

Difa OHC: Sebelum masuk ke topik sariawan, bisa dijelaskan mengenai gelar Sp.PM dibelakang nama dokter?

drg. Widya: Sp.PM singkatan dari Spesialis Penyakit Mulut, termasuk salah satu cabang dari spesialisasi kedokteran gigi. Spesialis penyakit mulut ini mempelajari penyakit dijaringan lunak rongga mulut seperti lidah, bibir, pipi bagian dalam, langit-langit, dan juga gusi.
salah satu jenis penyakit yang dipelajari adalah sariwan tersebut, gambaran khas di rongga mulut dari penyakit di tubuh tertentu, dan juga tatalaksana perawatan gigi dan mulut pada pasien dengan penyakit tertentu.

Difa OHC: Sekarang mengenai sariawan, sebetulnya istilah sariawan dalam pandangan ilmu kedokteran itu apa?

drg. Widya: umumnya masyarakat menyebut sariawan sebagai istilah untuk seluruh jenis luka dalam rongga mulut” apakah itu di pipi, lidah bibir, langit-langit, bahkan gusi.
namun, dalam sisi ilmu penyakit mulut istilah sariawan ini amat luas bahkan terdiri dari berbagai diagnosis sesuai dengan penyebab sariawan itu sendiri.

Difa OHC: Bisa disebutkan diagnosa sariawan yang paling umum ditemukan di masyarakat?

drg. Widya: Sariawan yang paling umum ditemukan adalah Stomatitis Aphotsa Recurrent (SAR). ini dialami oleh kurang lebih 20% dari seluruh populasi di dunia. Sedangkan diagnosa sariawan lainnya yang juga umum ditemukan adalah sariawan akibat trauma tergigit (traumatic ulcer), sariawan akibat alergi (stomatitis alergi), sariawan akibat infeksi virus atau bakteri, infeksi jamur kandidia pada rongga mulut, dan juga ada sariawan tertentu yang khas pada penderita penyakit seperti lupus, pemphigus, HIV, bahkan TBC. Sehingga penegakan suatu sariawan amat tergantung dari kemampuan dokter dalam menganalisa keluhan pasien dan juga gambaran klinis dari sariawan tersebut. Nah, kemampuan membedakan berbagai jenis sariawan ini yang dipelajari oleh spesialis penyakit mulut.

Difa OHC: Sekarang pembahasan kita khusus pada Stomatitis Aphtosa Rekurent (SAR) yang paling umum diamali oleh masyarakat kita. Bisa dijelaskan mengenai SAR ini?

drg. Widya: SAR ini adalah suatu luka di jaringan lunak rongga mulut terutama di lidah, pipi dalam, bibir, dan juga dasar mulut dengan tingkat kekambuhan sampai lebih dari 3 kali dalam satu tahun. Adanya ciri adanya “kekambuhan” ini yang tertuang dalam istilah “Recurrent” dalam diagnosis SAR tersebut.

Difa OHC: Apa sebenernya penyebab dari SAR tersebut?

drg. Widya: Hingga saat ini penyebab pasti dari SAR ini belum diketahui secara pasti. Namun saat ini sudah diketahui adanya keterlibatan gen tertentu dalam timbulnya SAR ini. Hal ini ditunjukkan dengan penelitian pada orang tua yang memiliki SAR akan melahirkan 90% anak yang memiliki SAR juga.

Difa OHC: Beberapa dokter bilang stres, kurang vitamin C, hormon, atau kurang makan buah sebagai penyebab sariawan/ SAR, Nah jika demikian apa hubungannya dengan pengaruh gen yang dokter sebutkan tadi?

drg. Widya: Kita semua pernah mengalami stres, masalah hormonal seperti pada saat menstruasi, atau beberapa orang bahkan ada yang tidak pernah manan sayur atau pun buah-buahan namun tidak pernah mengalami SAR. Namun ada sebagian orang yang setiapkali stres, menstruasi, atau absen makan sayur/buah sekali saja langsung mengalami SAR. Nah, disinilah faktor gen itu berperan.

Dida OHC: Jadi faktor stres, hormon, dan konsumsi sayur bisa dikatakan sebagai apa dalam terjadinya SAR?

drg. Widya: Ketiga faktor tersebut dapat digolongkan sebagai faktor pemicu SAR bersama dengan faktor lain seperti trauma mekanis, kekurangan zat besi, asam folat dan juga zat besi, strs fisik maupun pikiran, dan juga sensitif terhadap makanan tertentu. Faktor-faktor ini dapat menjadi pemicu terjadinya SAR pada seseorang yang memiliki gen keturunan terjadinya SAR.

Difa OHC: Bagaimana pengobatan SAR sesuai dengan anjuran medis?

drg. Widya: Pengobatan SAR terdiri dari 3 hal yaitu, mengurangi nyeri, mempercepat penyembuhan dan mengurangi kekambuhan. Upaya paling sederhana dalam mengurangi nyeri dan mempercepat penyembuhan luka dapat dilakukan dengan berkumur dengan obat kumur/cairan antiseptik. Sedangkan untuk mengurangi kekambuhan dapat dilakukan dengan menghindari faktor yang dapat memicu SAR. Jadi seseorang harus tau apa pencetus dari SAR nya, dan berusaha untuk menghindarinya.

Difa OHC: Cairan/ obat kumur antiseptik apa yang dokter anjurkan untuk mengatasi SAR?

drg. Widya: yang paling sederhana, alami dan aman adalah berkumur dengan air garam atau rebusan sirih.

Difa OHC: Saat ini banyak obat sariawan yang beredar dipasaran, bagaimana kita memilih mana yang paling cocok dan aman?

drg. Widya: Yang perlu diketahui dalam memilih obat sariawan yang pas adalah bagaimana cara kerja dari obat sariawan tersebut. Obat sariawan seharusnya memiliki efek melapisi dan melindungi luka di dalam rongga mulut, dan menghilangkan radang sehingga rasa nyeri dan luka cepat sembuh. Obat sariawan yang baik akan tetap menjada asupan darah ke dalam luka sehingga luka menjadi cepat sembuh.

Difa OHC: Kapan waktunya kita harus mengunjungi dokter untuk masalah SAR ini?

drg. Widya: bila sariawan tersebut menggangu sampai tidak bisa makan dan minum, serta menggangu aktifitas sehari-hari, apabila sariwan sampai menimbulkan demam, apabila sariawan tersebut kambuh secara terus menerus, dan bila sariawan tersebut tidak sembuh juga dalam waktu lebih dari 14 hari.

Difa OHC: Sebagai penutup apa saran dokter bagi teman-teman yang sering mengalami sariwan?

drg. Widya: jangan sepelekan sariawan sekecil apapun, dan jangan takut untuk mencari pengobatan ke dokter gigi terutama spesialis penyakit mulut. Terutama jika sariwan disatu lokasi tidak sembuh dalam waktu 14 hari. karena sariawan tersebut merupakan bukan sariawan biasa tapi bisa kearah keganasan/kanker mulut, atau penanda penyakit sistemik tertentu.

image taken from: yusiariani.wordpress.com

Read More
Skip to toolbar