Welcome to Difa Oral Health Center

Opening Hours : Selasa-Jumat 14:00-20:00, Sabtu-Minggu 09:00-15:00
  Contact : +62813-1650-6535

dokter gigi dan HIV

Bila saya ODHA dan saya harus ke dokter gigi (1)

Permasalahan stigma dan diskriminasi orang yang hidup dengan HIV (ODHA) di praktek dokter gigi merupakan permasalahan yang dialami banyak negara di dunia. Kondisi ini menyebabkan ODHA cenderung tidak terbuka terhadap status kesehatannya kepada dokter gigi karena takut ditolak.

Apa perlunya harus terbuka kepada dokter gigi mengenai status kesehatan ?

Human Immunodeficiency Virus atau HIV merupakan suatu infeksi virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, yang ditunjukkan dengan penurunan jumlah CD4. Sehingga pada ODHA memiliki kekebalan tubuh yang lebih rendah atau lebih rentan terkena infeksi penyakit dari pada yang bukan ODHA. Prinsip ini yang sebetulnya harus dipegang oleh tenaga kesehatan terutama dokter gigi dalam menangani pasien ODHA.

Beberapa tindakan oleh dokter gigi seperti pembersihan karang gigi dan pencabutan gigi, merupakan tindakan yang dapat digolongkan dalam tindakan invasif (tindakan medis yang mempengaruhi keutuhan jaringan tubuh pasien). Tindakan invasif perawatan di dokter gigi pada pasien ODHA dapat beresiko menimbulkan infeksi pasca tindakan bila dilakukan pada saat jumlah CD4 pasien ODHA sedang rendah (dibawah 200).

Penting bagi dokter gigi untuk mengetahui status kesehatan pada pasien ODHA agar dapat merawat pasien dengan baik, dan juga dapat melindungi pasien dari terjadinya infeksi dan efek samping lain pasca tindakan.

Selain itu, obat anti retroviral (ARV) yang dikonsumsi rutin oleh ODHA juga seharusnya menjadi hal yang patut diketahui oleh dokter gigi, sebagai pertimbangan dalam meresepkan obat. Beberapa obat seperti anti nyeri dapat menimbulkan interaksi silang dengan ARV yang dikonsumsi oleh ODHA.

Obat ARV seperti efaviren dan etravirin dapat menyebabkan peningkatan efek dari obat anti nyeri seperti asam mefenamat, diklofenak dan ibuprofen yang lazim diberikan oleh dokter gigi dalam mengatasi sakit gigi. Selain itu kombinasi ARV tenofovir dengan asam mefenamat dan diklofenak dapat menyebabkan peningkatan efek obat ARV di dalam tubuh dan menyebabkan kerusakan ginjal bila dikomsumsi bersamaan dalam jangka waktu panjang. (untuk lebih lengkap dapat dilihat di sini )

Oleh karena itu menjadi penting bagi ODHA untuk mengetahui status kesehatan diri sendiri dan jenis obat ARV yang dikonsumsi agar dapat membantu dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik dan aman.

Salam sehat,

Penulis : drg. Widya Apsari Sp.PM

Refrensi:

  1. http://www.hiv-druginteractions.org/PrintableCharts.aspx
  2. http://www.dentalcare.com/media/en-us/education/ce70/ce70.pdf

 

Skip to toolbar