Welcome to Difa Oral Health Center

Opening Hours : Selasa-Jumat 14:00-20:00, Sabtu-Minggu 09:00-15:00
  Contact : +62813-1650-6535

dokter gigi pasien hiv cover

Dokter Gigi, Pasien HIV, Konseling HIV dan Testing HIV

drg. Widya Apsari Sp.PM

Ini adalah satu pengalaman yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya, ketika saya merujuk seorang pasien untuk tes HIV, dan kemudian pasien tersebut datang kembali dan mengucapkan terimakasih kepada saya.

Hari itu adalah hari minggu, ketika ada seorang pria datang menemui saya karena keluhan pada gusinya. Pria ini berperawakan tegap, muda, dan dengan kemeja santai yang disetrika rapih dan dipadukan dengan jeans dan sepatu kets. Tidak ada beda dengan pria kebanyakan di Jakarta.

Seperti ritual saya dengan pasien lainnya, kami pun saling berjabat tangan dahulu untuk memperkenalkan nama masing-masing. Kemudian beliau mulai bercerita kepada saya mengenai keluhan pada gusi yang sudah dirasa sejak 3 hari belakangan ini. Keluhan yang dirasa adalah sakit dan nyeri yang teramat sangat.

Sepintas terdapat bagian berwarna keabu-abuan pada ujung gingiva interdental papila (bagian gusi berbentuk segitiga pada gusi di antara 2 gigi), dan terlihat ada ulcer pada mukosa pipi (luka menyerupai sariawan pada kulit di bagian dalam pipi) yang menghadap pada bagian yang berwarna abu pada gusi tersebut.

Jujur ini bukan merupakan kali pertama saya melihat lesi (luka) pada gusi semacam ini pada pasien. Sepanjang saya bertugas di RSCM, semasa menempuh pendidikan sebagai dokter gigi spesialis melihat berbagai lesi pada rongga mulut memang sudah hal yang umum saya temukan, termasuk juga kondisi gusi pada pasien ini.

Namun posisi saya saat itu adalah saya masih menjadi dokter yang sedang menempuh pendidikan spesialis, segala keputusan yang saya buat pada pasien  ada di bawah superfisi dokter penanggung jawab pasien. Sedangkan pada saat ini, saya sudah menyandang gelar sebagai Spesiali Penyakit Mulut dibelakang nama saya. Dan pasien ini datang dan membayar saya secara profesional, jadi segala hal yang saya ucapkan dan akan saya lakukan harus se-profesional mungkin.

Lesi pada gusi pasien tersebut merupakan gambaran khas dari kondisi penyakit yang disebut dengan Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG). Umumnya terjadi pada seseorang dengan sistem imun yang rendah, bisa karena malnutrisi maupun karena penyakit  yang menurunkan sistem pertahanan tubuh (imun), seperti leukemia dan juga HIV/AIDS.

Melihat perawakan dan juga pola hidup pasien yang saya ketahui dari sesi tanya jawab, sedikit mustahil bila gambaran ANUG tersebut disebabkan oleh kondisi malnutrisi maupun leukemia.

Berarti kemungkinan penyebab terakhir adalah HIV.

Namun untuk mulai membuka pembicaraan mengenai HIV bagi saya, dan mungkin bagi sebagian besar dokter bukan sesuatu hal yang gampang untuk dilakukan. Walaupun sudah 2 kali mengikuti kursus untuk konseling dan testing HIV, namun pada kondisi “real” tetap saja menjadi sulit dan canggung.  Karena saya harus menemukan alasan tepat mengapa harus cek HIV, dan alasan tepat tersebut terletak pada “faktor resiko” HIV pada pasien.

Kata demi kata yang saya susun dikepala, dan saya ucapkan senatural mungkin, dengan ekspresi wajah yang “lempeng” dibutuhkan dalam melakukan upaya menggiring pasien untuk tes HIV.

Mungkin sebetulnya akan menjadi mudah bila saya langsung memberi obat untuk ANUG dan menyuruh pasien pulang. Namun hal itu tidak saya lakukan.  Saya memilih untuk memutar otak menyusun kata-kata yang halus, enak didengar, dan tidak menyinggung pasien, untuk mencari tahu mengapa sampai ANUG ini dapat terjadi pada gusinya. Karena bila benar ANUG ini disebabkan oleh penurunan sistem imun akibat HIV, maka memberikan obat hanya bersifat menutupi proses penurunan sistem imun yang sedang dibuat oleh HIV yang dapat berakibat lebih parah ke depannya.

Dengan segala keterbatasan komunikasi verbal yang saya miliki, setelah hampir 1 jam kita berbicara akhirnya sampai pada satu titik, pasien setuju untuk melakukan tes HIV.

Namun, apakah saya sudah lega karena sudah mendapat kesediaan untuk melakukan tes HIV?

Belum, setelah itu saya masih berpikir, apakah dia betul mau tes HIV, apakah persetujuan itu dilakukan agar saya senang? dan hanya karena ingin mengakhiri sesi konsultasi dengan saya?

Ternyata kemudian 1 bulan kemudian,  pasien tersebut datang kembali ke saya untuk pembersihan karang gigi. Saya sangat ingat tatapan mata dan wajahnya saat itu lebih berseri, jauh berbeda pada saat pertama kali kita bertemu. Saya kemudian berusaha tidak “kepo” untuk bertanya mengenai bagaimana hasil tes HIV nya.

Di saat saya sudah selesai melakukan pembersihan karang gigi, secara mengejutkan, beliau cerita bahwa hasil tes HIV nya adalah positif, namun dibalik itu, ada mengucapkan terimakasih kepada saya karena saya dapat mendeteksi dini keberadaan HIV pada tubuhnya, sehingga dapat menerima terapi ARV sedini mungkin sebelum terjadi fase penurunan sistem imun yang mungkin membuatnya bisa mencapai fase AIDS bila terlambat dalam deteksi HIV.

Menjadi dokter gigi bukan hanya memeriksa kondisi gigi dan mengobati apa yang dikeluhkan oleh pasien. Namun menulusur dan berusaha mencari tahu mengapa kondisi tersebut terjadi juga perlu dilakukan.

Terimakasih yang tidak terhingga karena bersedia memilih dan mempercayakan keluhannya kepada saya, sehingga memberikan pengalaman hidup yang sangat berharga bagi saya.

Salam sehat selalu dari saya dan seluruh tim Difa Oral Health Center..

Skip to toolbar