Welcome to Difa Oral Health Center

Opening Hours : Selasa-Jumat 14:00-20:00, Sabtu-Minggu 09:00-15:00
  Contact : +62813-1650-6535

All Posts Tagged: AIDS

poster acara VCT (2)

Dokter Untuk Semua: Voluntary Counseling and Testing HIV 15 Mei 2016

Apakah selama berperaktek sebagai dokter gigi pernah merasa curiga mengenai jangan-jangan pasien ini HIV?

Sebagai dokter gigi tentu kita sudah dibekali mengetahui gambaran oral dari HIV/AIDS. Dan kita tahu bahwa gambaran oral tertentu mengarahkan pada kemungkinan adanya infeksi HIV pada pasien.

Namun pertanyaannya adalah, bagaimana kita sebagai dokter gigi menyampaikan ke pasien?

Hari Minggu, Tanggal 15 Mei 2015. Pukul 10-16 WIB, di Difa Oral Health Center

Bersama dokter Lusia Sirait, seorang dokter umum yang malang melintang di dunia konseling dan pengobatan HIV dan saat ini menjadi tim Poli HIV di Puskesmas Koja, Dokter gigi Sarah Mersil, dokter gigi spesialis penyakit mulut dan Dosen Universitas Mustopo, dan Suksma Ratri, aktivis ODHA yang sudah malang melintang dalam kegiatan penanggulangan HIV baik di tingkat nasional maupun internasional.

Materi:

1.Gambaran dan penyakit sistemik dari pasien HIV/AIDS – dr. Lusia Sirait

2.Manifestasi oral dari HIV – drg Sarah Mersil Sp.PM

3. Teknik konseling dan testing HIV – Suksma Ratri

4. Simulasi konseling dan testing HIV dan games

Investasi hanya sebesar Rp.300.000,- dan peserta terbatas hanya untuk 10 orang.

Mari menjadi dokter untuk semua kalangan, dan mari membantu pasien dalam mendeteksi HIV melalui pengetahuan anda sebagai dokter gigi..

Read More
HIV selogan

Bila Saya Dokter Gigi dan Pasien Saya Adalah ODHA (1)

drg. Widya Apsari Sp.PM

Satu cerita, ada salah satu dosen dokter gigi berjenis kelamin laki-laki menolak membimbing mahasiswa Co-ass dalam menambal gigi pasien, karena pasien tersebut adalah ODHA (orang yang hidup dengan HIV/AIDS).  Dosen tersebut beralasan karena belum menikah dan belum punya anak.

Apa yang terlintas dipikiran anda pertama kali setelah membaca cerita tersebut?

Ketika saya mendengar teman saya bercerita tentang kejadian tersebut, yang pertama kali terlintas di pikitan saya adalah “emang dokter itu mau ngapain sama pasiennya?”

Nah coba kita telusuri apakah benar pernyataan dokter tersebut, apakah ada korelasinya antara menolak menangani pasien ODHA dalam menambal gigi dan alasan belum menikah dan belum punya anak..

HIV terdapat dalam sebagian cairan tubuh, yaitu:

1. Darah

2. Air mani

3. Cairan vagina

4. Air susu ibu (ASI)

Penularan HIV dapat melalui :

1. Berhubungan seks yang memungkinkan darah, air mani, atau cairan vagina dari orang terinfeksi HIV masuk ke aliran darah orang yang belum terinfeksi (yaitu hubungan seks yang dilakukan tanpa kondom melalui vagina atau dubur, juga melalui mulut, walau dengan kemungkinan lebih kecil)

2. Memakai jarum suntik secara bergantian dengan orang lain yang terinfeksi HIV

3. Menerima transfusi darah dari donor yang terinfeksi HIV

4. Dari ibu terinfeksi HIV ke bayi dalam kandungan, waktu melahirkan, dan jika menyusui sendiri.

Nah, setelah anda tahu dimana virus HIV itu berada dan tahu bagaimana penularan HIV tersebut, apakah anda sudah mengetahui alasan saya kenapa saya berpikir “Emang dokter itu mau ngapain sama pasiennya?”

Anda tidak akan tahu penyakit yang dimiliki oleh pasien bila pasien tersebut tidak berterus terang kepada anda. Dengan pasien jujur dan berterus terang mengenai penyakit yang dimilikinya, berarti pasien tersebut berbaik hati ingin melindungi agar anda dan pasien lainnya agar tidak tertular.

PELAJARI penyakitnya, KENALI orangnya, dan LAYANI dengan seperuh hati

(Refrensi : www.spiritia.or.id, http://spiritia.or.id/dokumen/buku-hidup.pdf)

Read More
dokter gigi dan HIV

Bila saya ODHA dan saya harus ke dokter gigi (1)

Permasalahan stigma dan diskriminasi orang yang hidup dengan HIV (ODHA) di praktek dokter gigi merupakan permasalahan yang dialami banyak negara di dunia. Kondisi ini menyebabkan ODHA cenderung tidak terbuka terhadap status kesehatannya kepada dokter gigi karena takut ditolak.

Apa perlunya harus terbuka kepada dokter gigi mengenai status kesehatan ?

Human Immunodeficiency Virus atau HIV merupakan suatu infeksi virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, yang ditunjukkan dengan penurunan jumlah CD4. Sehingga pada ODHA memiliki kekebalan tubuh yang lebih rendah atau lebih rentan terkena infeksi penyakit dari pada yang bukan ODHA. Prinsip ini yang sebetulnya harus dipegang oleh tenaga kesehatan terutama dokter gigi dalam menangani pasien ODHA.

Beberapa tindakan oleh dokter gigi seperti pembersihan karang gigi dan pencabutan gigi, merupakan tindakan yang dapat digolongkan dalam tindakan invasif (tindakan medis yang mempengaruhi keutuhan jaringan tubuh pasien). Tindakan invasif perawatan di dokter gigi pada pasien ODHA dapat beresiko menimbulkan infeksi pasca tindakan bila dilakukan pada saat jumlah CD4 pasien ODHA sedang rendah (dibawah 200).

Penting bagi dokter gigi untuk mengetahui status kesehatan pada pasien ODHA agar dapat merawat pasien dengan baik, dan juga dapat melindungi pasien dari terjadinya infeksi dan efek samping lain pasca tindakan.

Selain itu, obat anti retroviral (ARV) yang dikonsumsi rutin oleh ODHA juga seharusnya menjadi hal yang patut diketahui oleh dokter gigi, sebagai pertimbangan dalam meresepkan obat. Beberapa obat seperti anti nyeri dapat menimbulkan interaksi silang dengan ARV yang dikonsumsi oleh ODHA.

Obat ARV seperti efaviren dan etravirin dapat menyebabkan peningkatan efek dari obat anti nyeri seperti asam mefenamat, diklofenak dan ibuprofen yang lazim diberikan oleh dokter gigi dalam mengatasi sakit gigi. Selain itu kombinasi ARV tenofovir dengan asam mefenamat dan diklofenak dapat menyebabkan peningkatan efek obat ARV di dalam tubuh dan menyebabkan kerusakan ginjal bila dikomsumsi bersamaan dalam jangka waktu panjang. (untuk lebih lengkap dapat dilihat di sini )

Oleh karena itu menjadi penting bagi ODHA untuk mengetahui status kesehatan diri sendiri dan jenis obat ARV yang dikonsumsi agar dapat membantu dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik dan aman.

Salam sehat,

Penulis : drg. Widya Apsari Sp.PM

Refrensi:

  1. http://www.hiv-druginteractions.org/PrintableCharts.aspx
  2. http://www.dentalcare.com/media/en-us/education/ce70/ce70.pdf

 

Read More
Pentingnya Mengetahui Gambaran Infeksi HIV di dalam Rongga Mulut

Pentingnya Mengetahui Gambaran Infeksi HIV di dalam Rongga Mulut

Sejak human immunodeficiency virus (HIV) pertama kali di’temukan’ pada tahun 1981, berbagai kondisi di dalam rongga mulut yang terkait dengan penyakit HIV telah dipelajari.

Penelitian telah menunjukkan bahwa 70% -90% dari orang yang terinfeksi HIV akan memiliki setidaknya satu manifestasi di dalam mulut. Studi dari kedokteran gigi menunjukkan bahwa adanya lesi di dalam rongga mulut yang berkaitan dengan HIV menjadi bahan pertimbangan untuk:
• Indikator klinis infeksi HIV pada orang yang sehat, yang belum terdiagnosis;
• Gambaran klinis awal infeksi HIV;
• Penanda klinis untuk klasifikasi dan pemetaan stadium HIV; dan
• Untuk memprediksi perkembangan HIV di dalam tubuh.

Di negara maju, perkembangan HIV dipantau melalui pemeriksaan laboratorium dengan melihat: limfosit CD4 + dan viral load HIV. Sayangnya, tes ini tidak banyak tersedia di negara berkembang. Kalaupun ada, biasanya biaya-nya tidak murah.

Sehingga adanya temuan klinis lainnya penting untuk memandu dokter mengevaluasi dan mengobati HIV. Lalu karena rongga mulut mudah diakses pada pemeriksaan klinis, maka lesi di dalam rongga mulut yang terkait dengan infeksi HIV dapat digunakan sebagai penanda klinis perkembangan penyakit HIV.

Pada tahun 1996, muncul terapi antiretroviral (ARV) yang sangat mengurangi tingkat kematian dan ‘kondisi sakit’ pasien terinfeksi HIV yang memiliki akses terhadap pengobatan tersebut. Tingkat infeksi oportunistik pada ODHA pun telah menurun, termasuk yang terkait HIV lesi didalam rongga mulut.

Evaluasi kesehatan gigi dan mulut adalah bagian penting dari perawatan kesehatan rutin. Pemeriksaan rongga mulut yang menyeluruh penting pada setiap tahap dalam pengelolaan infeksi HIV. Hal ini juga maksudkan untuk mendorong kolaborasi antara praktisi medis umum, dokter khusus penyakit menular, dokter gigi umum dan anak, dan patologi oral untuk memberikan perawatan terbaik bagi pasien yang terinfeksi HIV.

Jadi. kenapa sih perawatan kesehatan rongga mulut adalah bagian penting dari perawatan primer HIV?

Karena manifestasi di dalam rongga mulut adalah tanda-klinis yang umum dijumpai pada ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) baik dewasa maupun anak-anak. Sehingga diagnosis dini dan pengelolaan gambaran tersebut di dalam rongga mulut penting untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup ODHA.

Source: BIPAI: HIV-Curriculum, picture taken from downtren.com

Read More
hiv and dentist

HIV dan Klinik Gigi

Ketika difa OHC menyatakan diri sebagai #klinikGigiRamahODHA, pertanyaan yang pertama timbul adalah tentang sterisasi alat yang kami gunakan. Disini kami sadar bahwa informasi tentang virus  itu sendiri masih sangat rendah dimasyarakat termasuk di teman-teman ODHA itu sendiri.

Apa saja si fakta tentang virus HIV yang berkaitan dengan praktek kedokteran gigi? Yuk kita simak fakta2 nya..

Virus HIV tidak dapat hidup di luar tubuh manusia. Dan akan mati dengan sendirinya setelah keluar dari tubuh selama 1 jam.

Virus HIV mati pd suhu 60 derajat Celcius. Jauh lebih rendah dibandingkan spora virus hepatitis yang baru mati pada suhu 121 derajat Celcius. Maka penularan virus HIV di tempat praktek dokter gigi melalui peralatan yang digunakan adalah hampir tidak mungkin. Karena mayoritas dokter gigi mensterilisasi peralatannya dengan sterilisator yang memiliki panas suhu lebih dari 60 derajat Celcius.

Nah bagaimana dengan virus HEPATITIS yang baru mati pada suhu 121 derajat Celcius? Saat ini berbagai klinik gigi sudah dilengkapi dengan alat bernama AUTOCLAV. Autoclav adalah alat sterilisasi dengan metode panas & tekanan, memiliki suhu lebih dari 121 derajat Celcius. Dengan alat ini maka peralatan dokter gigi telah aman dari hepatitis. 

Beberapa teman ODHA menganggap fungsi sterilisasi untuk mencegah penularan virus HIV kepada pasien lain. Ternyata ini tidak sepenuhnya benar.. Di  fungsi sterilisasi alat, bagi pasien ODHA adalah untuk melindungi mereka dari penyakit-penyakit dan infeksi oportunis yang dengan mudah mengenai pasien ODHA, akibat penurunan daya tahan tubuh oleh infeksi HIV tersebut. Jadi bila pada pasien lain hal tersebut tidak akan menyebabkan masalah, tetapi pada pasien ODHA bisa terjadi infeksi.

Jadi bila difa OHC bisa menjamin bagi pasien ODHA, maka hal tersebut juga berlaku terhadap pasien lain. Karena kita menerapkan prinsip sterilisasi tadi pada semua pasien

Untuk lebih jelas tentang prinsip sterilisasi di bisa dibaca di postingan kita mengenai Universal Precautions.

Source: picture taken from theguardian.com

Read More
Kami adalah Klinik Gigi Ramah ODHA

#klinikGigiRamahODHA

Akses kesehatan adalah hak semua orang, bahkan bila Anda terinfeksi  Anda tetap berhak mendapatkan layanan kesehatan yg manusiawi. Difa Oral Health Center adalah . Bila anda seorang  dan punya masalah dengan kesehatan rongga mulut, jangan sungkan untuk datang dan terbuka kepada staf kami tentang status anda.

Mari bantu kami memberikan pelayanan terbaik kepada anda dengan cara terbuka kpd kami mengenai status kesehatan tubuh anda. Dengan terbuka kepada kami, kami dapat melindungi anda dari kemungkinan infeksi oportunis dan juga interaksi obat-obatan ARV yang Anda minum dengan tindakan medis dan obat-obatan yang (akan) kami berikan. Kami menjamin kerahasiaan status kesehatan anda dan isi rekam medis klinik. Karena isi dari rekam medis adalah milik anda yang kami simpan untuk anda.

Dokumen rekam medis adalah milik dokter, dokter gigi, atau sarana pelayanan kesehatan, sedangkan isi rekam medis merupakan milik pasien. ~ Pasal 47 ayat (1) Undang-Undang no 29 tahun 2014 tentang Praktik Kedokteran.

Read More
12

Penyebab Penyakit Peridontal

Penyebab utama penyakit periodontal adalah interaksi antara bakteri yang ditemukan dalam plak, (lapisan film tipis yang hampir tak terlihat yang terakumulasi pada gigi setiap hari) – dan respon tubuh terhadap bakteri itu. Bakteri ini menghasilkan racun yang mengiritasi dan membuat gusi bengkak. Proses inflamasi ini menghancurkan jaringan gusi yang sehat dan menyebabkan mereka terlepas dari gigi. Jika tidak diobati, tingkat lanjut dari penyakit ini akan merusak tulang yang yang ada dibawahnya.

Ketika plak tidak dibersihkan dari gigi secara teratur, maka plak akan mengeras dan biasa disebut kalkulus (karang gigi), atau tartar. Jika kalkulus terbentuk pada akar gigi dibawah gusi, makan itu akan mengiritasi gusi lebih jauh lagi dan memberikan kontribusi untuk membentuk lebih banyak lagi plak dan penyakit. Hanya dokter gigi yang dapat menghilangkan plak dan kalkulus dari gigi Anda.

periodontal-disease

Setelah bakteri yang ada di dalam plak menyebabkan peradangan dan kerusakan pada jaringan gusi, sejumlah faktor lain akan berpengaruh pada tingkat keparahan dan kecepatan penyakit periodontal yang sedang berlangsung.

Faktor-faktor tersebut diantaranya:
• Merokok atau mengunyah tembakau
• Buruknya kebersihan mulut
• Gigi tiruan Jembatan yang pemasangannya buruk
• Gigi-gigi yang renggang atau bertumpuk
• Tambalan tidak pas
• Makanan yang sering nyangkut di antara gigi
• Menggeretakkan gigi
• Pola makan yang buruk
• Kehamilan atau kontrasepsi oral
• Penyakit sistemik seperti diabetes atau AIDS
• Obat-obatan tertentu

Sumber artikel: California Dental Association
gambar: oralb.co.uk

Read More
Fakta-Fakta Kesehatan Gigi dan Mulut

Fakta Kesehatan Gigi dan Mulut

Tahukah kamu, kalau rongga mulut sering disebut sebagai ‘cermin kesehatan secara keseluruhan’. Sebagaimana yang dikatakan oleh Menteri Kesehatan “seseorang dikatakan tidak sehat bila tidak memiliki gigi-mulut yang sehat.

Tanda-tanda klinis awal gangguan kesehatan gizi atau kesehatan lainnya biasanya pertama kali terlihat di rongga mulut. Oleh sebab itu pengobatan gigi dan mulut penting untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan.

Penderita diabetes yang tidak terkontrol memiliki risiko yang lebih tinggi untuk kehilangan tulang dan jaringan penyanga gigi dan penyakit periodontal yang parah. Obat hipertensi (nifedipin dan amlodipin) dan kebersihan mulut yang buruk dapat menyebabkan pertumbuhan gingiva (gusi) berlebih.

Berikut efek buruknya kebersihan mulut pada tubuh Anda:

CDx1C_nW8AAiEq5

Penyakit sistemik dan kondisi-kondisi kesehatan seperti diabetes & AIDS dapat menempatkan pasien pada risiko tinggi untuk penyakit periodontal dan malnutrisi. Gizi adalah dasar bagi rongga mulut dan secara keseluruhan, sehingga menjaga agar rongga mulut tetap sehat sangat penting untuk menjaga pasien makan dengan baik dan menjaga kualitas hidup.

Masalah pada rongga mulut seperti gigi berlubang memiliki dampak besar pada cara makan makan dan status gizi yang masuk ke dalam tubuh. Sehingga menjadi suatu tantangan bagi para dokter gigi dan tenaga kesehatan gigi lainnya adalah untuk dapat mengenali masalah gizi & mengoptimalkan status gizi demi kesehatan gigi dan mulut secara total.

  1. Orang dengan penyakit Periodontal dua kali kemungkinan terkena penyakit jantung

  2. Pria dengan penyakit periodontal memiliki tujuh kali lebih besar kemungkinan mengalami disfungsi ereksi.

Bakteri dari penyakit periodontal dapat melakukan perjalanan di aliran darah ke paru-paru di mana bakteri tersebut dapat memperburuk sistem pernapasan.

Banyak yang merasa kalau Sakit gigi itu MAHAL ngobatinnya, padahal simpel dan MURAH untuk DICEGAH!

Read More
Skip to toolbar