Welcome to Difa Oral Health Center

Opening Hours : Selasa-Jumat 14:00-20:00, Sabtu-Minggu 09:00-15:00
  Contact : +62813-1650-6535

All Posts Tagged: Difa OHC

featured_designthinking-1800x1013

Mencari Solusi Untuk Sistem Kesehatan di Indonesia

Kami membuat Difa Oral Health Center dengan tujuan ingin meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia melalui kesehatan gigi dan mulut.

Untuk itu kami ingin melibatkan teman-teman sekalian untuk terlibat dalam menggali permasalahan apa yang selama ini dirasakan mengenai kesehatan gigi dan mulut, dan sama-sama memikirkan solusi yang tepat dalam meningkatkan layanan kesehatan gigi dan mulut.

Yuk, kita berkontribusi teman-teman sangat peting untuk kemajuan sistem kesehatan di Indonesia.

SURVEY PERMASALAHAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT.

Terimakasih atas pertisipasinya!

Salam sehat,

28 Agustus 20

Read More
breastfeeding week

Pengaruh Menyusu Terhadap Tumbuh Kembang Rahang Anak

drg. Adianti, Sp. Ort

Dalam rangka pekan ASI dunia, yuk mari kita bahas manfaat ASI dari segi tumbuh kembang rahang bayi kita.

Manfaat breastfeeding atau menyusui ASI secara langsung dari payudara ibu telah lama diketahui memiliki dampak psikologis yang besar bagi ibu dan anak. Namun, tahukah moms bahwa dengan memberikan ASI secara langsung (meneteki) maka kita dapat mencegah kemungkinan terjadinya kelainan postur rahang pada bayi kita?

Luz, Garib, dan Auroca (Am J Orthod Dentofacial Orthop 2006;130:531-4) mengatakan bahwa salah satu keunggulan menyusu secara langsung adalah mencegah kelainan perkembangan rahang bawah.

Nah, apa saja kelainan postur rahang yang mungkin dialami anak yang TIDAK menyusu secara langsung?

Kobayashi dkk dalam American Journal of Orthodontic Dentofacial and Orthopedic pada tahun 2010 mengatakan bahwa anak yang tidak pernah menyusu secara langsung dari ibunya akan memiliki resiko untuk mengalami gigitan silang pada gigi belakang 20 kali lebih besar dibanding anak yang menyusu secara langsung selama 12 bulan atau lebih.

Buat yang bingung apa itu gigitan silang, Crossbite Posterior atau gigitan silang pada gigi belakang adalah kelainan dengan posisi gigi-gigi belakang rahang atas berada lebih ke dalam dibandingkan gigi-gigi belakang rahang bawah pada saat menggigit. Bila keadaan ini dibiarkan selama masa tumbuh kembang, maka dapat dipastikan rahang atas akan terhambat pertumbuhannya karena terhalang oleh rahang bawah. Pada kasus yang berat, maka akan menyebabkan kelainan pada wajah.

Selain itu moms, ternyata dengan menyusu secara langsung, maka kemungkinan anak untuk memiliki kebiasaan buruk mengisap dot juga akan berkurang. Aruda dkk (Braz Oral Res. 2009 432 Oct-Dec;23(4):432- 8) mengatakan bahwa anak yang tidak menyusu secara langsung memiliki kemungkinan yang besar untuk memiliki kebiasaan mengisap/mengenyot bila dibandingkan anak yang menyusu secara langsung (non-breastfed dibandingkan dengan breastfed). Puppin & Degan (J Dent Child.2004;71:148-151) juga mengatakan bahwa anak yang menyusu secara langsung hingga usia 3 tahun tidak akan memiliki kebiasaan untuk mengisap dot.

Ingat artikel difa sebelumnya mengenai kebiasaan buruk yang dapat mengubah postur rahang

Salah satu kebiasaan buruk yang dapat menyebabkan banyak kelainan pada tumbuh kembang rahang anak kita adalah menghisap dot yang berkepanjangan. Ternyata nih kebiasaan buruk ini dapat dihindari dengan menyusui anak secara langsung.

Happy breastfeeding moms! Setelah menyusui lupa dibersihkan ya, gigi anaknya.

poster ASI

Read More
minum

Anjuran Minum Air 8 Gelas Sehari, Mitos atau Fakta?

Minumlah air 8 gelas sehari! Siapa yang belum pernah denger jargon/anjuran tersebut?

Ada yang baru ngebayanginnya aja udah mual duluan. “Duh gak kebanyakan tuh?”. Di sisi lain, ada juga yang sudah rutin menuruti anjuran itu setiap hari dan bukan hanya di bulan puasa.

Tapiiii… bener gak sih, tubuh kita butuh asupan air hingga sebanyak 8 gelas perhari?

Maka melanjutkan tulisan sebelum ini, tentang tips minum 8 gelas sehari selama bulan puasa, mari kita telaah, apakah anjuran tersebut mitos, atau fakta.

Pertama, apa kenapa sih air penting untuk tubuh kita?

Air didefinisikan sebagai nutrisi penting, karena diperlukan dalam jumlah yang melebihi kemampuan tubuh untuk memproduksi sendiri. Semua reaksi biokimia dalam tubuh terjadi di dalam air. Air juga mengisi ruang-ruang di dalam dan di antara sel-sel serta membantu membentuk struktur molekul besar seperti protein dan glikogen. Air juga diperlukan untuk pencernaan, penyerapan, transportasi, melarutkan nutrisi, penghapusan produk limbah dan termoregulasi (Kleiner 1999).

Berat tubuh kita terdiri dari 50-80% air, tergantung pada massa otot. Pria biasanya memiliki massa otot dan persentasi kandungan air lebih tinggi daripada wanita.

Waduh, berarti kita memang butuh air banyak banget ya?

Tunggu dulu, kebutuhan kita terhadap air berbeda-beda setiap individu, semuanya terkait dengan sistem metabolisme di dalam tubuh. Kebutuhan air pada perempuan dan lelaki beda, anak-anak dan orang dewasa beda juga, buat yang rajin olahraga dan kerja fisik tentunya juga beda sama yang kerja nya tidak memerlukan banyak gerakan…

Teori sebelumnya mengatakan bahwa untuk dewasa, kebutuhan air hariannya sekitar 2.500-3.000 mL, setara dengan 8 gelas atau lebih.

Menurut penelitian terbaru tentang jumlah air yang sebaiknya kita konsumsi, yang mencoba membantah teori minum 8 gelas sehari, merekomendasikan untuk minum sekitar 900-1.600 mL sehari atau sekitar 4-6 gelas.

Wah berarti selama ini kita minum kebanyakan donk?

Belum tentu juga sih, soalnya kalau diperhatikan ukuran gelas di Indonesia rata-rata masih sekitar 200ml-an. Jadi secara hitung-hitungan masih masuk lah.

Kenapa kita hanya perlu minum air dalam jumlah itu? Karena makanan padat pun turut memberikan kontribusi sekitar 20% dari total asupan air atau sekitar 700-1.000 mL (NNS 1995). Tambahan sekitar 200-250 mL air juga tersedia di dalam tubuh berupa hasil dari metabolisme, karena tubuh harus mempertahankan jumlah air minimal untuk mempertahankan beban ginjal tetap stabil.

Sehingga kalau di total jumlah air yang ada di dalam tubuh kita ya mendekati angka teori lama, yaitu sekitar 2.200-2.900 mL.

Berikut tabel total kebutuhan air berdasarkan usia:

[tab title=”BAYI“]

Usia                               Kebutuhan Air

0-6 bulan                       700 mL
7-12 bulan                     800 mL[/tab] [tab title=”Anak-Remaja“]

Usia                               Kebutuhan Air

1-3 tahun                      1.000 mL
4-8 tahun                      1.200 mL

Anak Perempuan

Usia                               Kebutuhan Air

9-13 tahun                    1.400 mL
14-18 tahun                  1.600 mL

Anak Laki

Usia                               Kebutuhan Air

9-13 tahun                      1.600 mL
14-18 tahun                    1.900 mL[/tab] [tab title=”Dewasa“]

Perempuan

Usia                               Kebutuhan Air

>19 tahun                    2.100 mL

Laki

Usia                               Kebutuhan Air

19 tahun                      2.600 mL[/tab] [tab title=”Hamil & Menyusui“]

Ibu Hamil

Usia                               Kebutuhan Air

14-18 tahun                  1.800 mL
19-50 tahun                  2.300 mL

Ibu Menyusui

Usia                               Kebutuhan Air

14-18 tahun                  2.300 mL
19-50 tahun                  2.600 mL[/tab]

Jadi, bijaklah dalam mengkonsumsi air. Minumlah sewajarnya sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Salam sehat,
drg. Dita Firdiana

Read More
44ca441b-ce77-4c8c-a5e3-0978bba48321

Komunitas Difa OHC di #WinterMeetsSummer Festival #Sensociety Sensodyne

Pada hari sabtu dan minggu tanggal 7 dan 8 Mei 2016 lalu, Difa Oral Health Center bersama 7 komunitas lainnya ikutan di acaranya Sensodyne yaitu Winter Meets Summer Festival sebagai bagian dari #sensociety.

Tujuh komunitas lain yg juga ikut terlibat adalah Komunitas Historia Indonesia, Gugah Nurani Indonesia, Free diving, Backpacker Jakarta, Garuda Baseball and Softball, Sartria Motor Club, dan Indo Sweat Camp.

d4a165d3-f2e3-4b99-9ff0-5e921022f1aa

Di acara ini kami dari komunitas diberi kesempatan oleh Sensodyne #sensociety untuk menceritakan mengenai kegiatan komunitas dan juga projek ke depan dari setiap komunitas.

Kalau Difa Oral Health Center sendiri berada di acara Winter Meets Summer Festival ini sebagai bagian dari pengenalan gerakan edukasi kesehatan gigi dan mulut  kepada pengunjung acara ini dan juga teman-teman komunitas lainnya. Serta untuk memperkenalkan gerakan Dokter Untuk Semua, yaitu suatu gerakan untuk menyadarkan dokter untuk melayani semua lapisan masyarakat, terutama pada teman-teman ODHA yang selama ini sulit mendapat akses kesehatan gigi dan mulut yang manusiawi.

Emang sedikit aneh si, kok klinik gigi ikutan acara komunitas, tapi ternyata buat kita acara ini membawa manfaat yang banyak banget, yaitu menjadi batu loncatan Difa OHC untuk mejalin kerjasama dengan komunitas lainnya.

Nah, kira-kira bentuk kerjasama apa ya yang akan dilakukan oleh Difa OHC bersama komunitas di #sensociety ini?

Tunggu tanggal mainnya ya \o/

Read More
sensociety-7 mei 2016

Winter Meets Summer Festival with Sensodyne and Difa OHC

Yuk ajak teman dan keluarga untuk bergabung bersama Difa Oral Health Center dan Sesodyne di acara Winter Meets Summer Festival tgl 7-8 Mei 2016 di area parkir Gandaria City \o/

Ada apa aja disana?

Disana bakal ada aneka macam kuliner panas dan dingin yang bisa kamu nikmati. Selain itu akan ada 8 komunitas keren yang bakal ngisi acara di acara Winter Meets Summer Festival ini.

Siapa aja 8 komunitas keren yg akan ada disana? Tentu salah satunya adalah Difa Oral Health Center :))

Difa Oral Health Center emang komunitas?? Iya dong, kita adalah komunitas orang-orang yang peduli akan kesehatan gigi dan mulut dan kumpulan orang-orang yang membuat upaya promosi kesehatan gigi dan mulut menjadi menyenangkan.

Penasaran gak sih sama apa yang akan dilakukan Difa Oral Health Center di acara Winter meets Summer Festival ini?

Makanya yuk, catet tanggal dan tempatnya. Dan ajak seluruh teman dan keluarga kamu ke Winter Meets Summer Festival.

Sampai jumpa ya 🙂

cover acara sensodyne (1)

 

Read More
poster acara VCT (2)

Dokter Untuk Semua: Voluntary Counseling and Testing HIV 15 Mei 2016

Apakah selama berperaktek sebagai dokter gigi pernah merasa curiga mengenai jangan-jangan pasien ini HIV?

Sebagai dokter gigi tentu kita sudah dibekali mengetahui gambaran oral dari HIV/AIDS. Dan kita tahu bahwa gambaran oral tertentu mengarahkan pada kemungkinan adanya infeksi HIV pada pasien.

Namun pertanyaannya adalah, bagaimana kita sebagai dokter gigi menyampaikan ke pasien?

Hari Minggu, Tanggal 15 Mei 2015. Pukul 10-16 WIB, di Difa Oral Health Center

Bersama dokter Lusia Sirait, seorang dokter umum yang malang melintang di dunia konseling dan pengobatan HIV dan saat ini menjadi tim Poli HIV di Puskesmas Koja, Dokter gigi Sarah Mersil, dokter gigi spesialis penyakit mulut dan Dosen Universitas Mustopo, dan Suksma Ratri, aktivis ODHA yang sudah malang melintang dalam kegiatan penanggulangan HIV baik di tingkat nasional maupun internasional.

Materi:

1.Gambaran dan penyakit sistemik dari pasien HIV/AIDS – dr. Lusia Sirait

2.Manifestasi oral dari HIV – drg Sarah Mersil Sp.PM

3. Teknik konseling dan testing HIV – Suksma Ratri

4. Simulasi konseling dan testing HIV dan games

Investasi hanya sebesar Rp.300.000,- dan peserta terbatas hanya untuk 10 orang.

Mari menjadi dokter untuk semua kalangan, dan mari membantu pasien dalam mendeteksi HIV melalui pengetahuan anda sebagai dokter gigi..

Read More
quote dr zaenal abidin

Mengapa dokter gigi harus membekali diri dengan pengetahuan tentang HIV?

Program bersama PBB untuk HIV/AIDS (UNAIDS) dan WHO memperkirakan sekitar 4,9 juta orang hidup dengan HIV di Asia pada tahun 2007, termasuk 440.000 orang yang baru terinfeksi pada tahun terakhir. Di wilayah Pasifik diperkirakan 75.000 orang hidup dengan virus ini dengan 14.000 terinfeksi pada tahun 2007. Pada wilayah ini, Papua Nugini memiliki beban penyakit terbesar dengan lebih dari 70% junmlah total dari odha di kawasan Pasifik.

Sebagian besar individu dengan infeksi HIV tidak menyadari status HIV dan datang ke sistem layanan kesehatan pada stadium lanjut, saat respon pengobatan kurang menguntungkan. Mereka datang pada keadaan lanjut oleh karena kurangnya tingkat kesadaran mengenai resiko perorangan terhadap infeksi HIV atau terhalang oleh kekhawatiran terhadap diskriminasi dan sigmatisasi, yang keduanya dapat menghalangi orang-orang untuk menjalani tes. Di sisi lain, dapat pula hilang kesempatan untuk diagnosa dini HIV saat pasien datang kepada tenaga kesehatan yang kurang berpengalaman dengan keadaan klinis umum pada infeksi HIV dalam berbagai stadium penyakitnya.

Deteksi dini infeksi HIV penting untuk berbagai alasan. Konseling dan intervensi dapat diterapkan untuk mencegah penularan HIV yang berlanjut kepada orang lain. Upaya-upaya untuk mengurangi resiko yang dapat memperkuat yaitu penggunaan kondom secara konsisten, menghidari penggunaan jarum suntik bersama-sama, dan menggunakan obat anti retroviral untuk mencegah penularan dari ibu ke bayi. Seorang pasien datang pada stadium dini infeksi HIV dapat dimonitor secara ketat sehingga kombinasi antiretroviral dapat dimulai pada waktu yang tepat untuk mencegah perburukan penyakit.

Dokter gigi dapat berperan dalam upaya deteksi dini infeksi HIV pada pasien melalui bekal pengetahuan keadaan klinis umum maupun ciri klinis pada rongga mulut. Nah sebagai tenaga kesehatan maukah anda menambah pengetahuan mengenai HIV dan turut berpartisipasi dalam program penanggulangan HIV bersama PBB dan WHO?

Sumber: Buku Inikah HIV? Buku Pegangan Petugas Kesehatan, The Australlian Society for HIV Medicine ASHM, 2009

Read More
dokter gigi pasien hiv cover

Dokter Gigi, Pasien HIV, Konseling HIV dan Testing HIV

drg. Widya Apsari Sp.PM

Ini adalah satu pengalaman yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya, ketika saya merujuk seorang pasien untuk tes HIV, dan kemudian pasien tersebut datang kembali dan mengucapkan terimakasih kepada saya.

Hari itu adalah hari minggu, ketika ada seorang pria datang menemui saya karena keluhan pada gusinya. Pria ini berperawakan tegap, muda, dan dengan kemeja santai yang disetrika rapih dan dipadukan dengan jeans dan sepatu kets. Tidak ada beda dengan pria kebanyakan di Jakarta.

Seperti ritual saya dengan pasien lainnya, kami pun saling berjabat tangan dahulu untuk memperkenalkan nama masing-masing. Kemudian beliau mulai bercerita kepada saya mengenai keluhan pada gusi yang sudah dirasa sejak 3 hari belakangan ini. Keluhan yang dirasa adalah sakit dan nyeri yang teramat sangat.

Sepintas terdapat bagian berwarna keabu-abuan pada ujung gingiva interdental papila (bagian gusi berbentuk segitiga pada gusi di antara 2 gigi), dan terlihat ada ulcer pada mukosa pipi (luka menyerupai sariawan pada kulit di bagian dalam pipi) yang menghadap pada bagian yang berwarna abu pada gusi tersebut.

Jujur ini bukan merupakan kali pertama saya melihat lesi (luka) pada gusi semacam ini pada pasien. Sepanjang saya bertugas di RSCM, semasa menempuh pendidikan sebagai dokter gigi spesialis melihat berbagai lesi pada rongga mulut memang sudah hal yang umum saya temukan, termasuk juga kondisi gusi pada pasien ini.

Namun posisi saya saat itu adalah saya masih menjadi dokter yang sedang menempuh pendidikan spesialis, segala keputusan yang saya buat pada pasien  ada di bawah superfisi dokter penanggung jawab pasien. Sedangkan pada saat ini, saya sudah menyandang gelar sebagai Spesiali Penyakit Mulut dibelakang nama saya. Dan pasien ini datang dan membayar saya secara profesional, jadi segala hal yang saya ucapkan dan akan saya lakukan harus se-profesional mungkin.

Lesi pada gusi pasien tersebut merupakan gambaran khas dari kondisi penyakit yang disebut dengan Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG). Umumnya terjadi pada seseorang dengan sistem imun yang rendah, bisa karena malnutrisi maupun karena penyakit  yang menurunkan sistem pertahanan tubuh (imun), seperti leukemia dan juga HIV/AIDS.

Melihat perawakan dan juga pola hidup pasien yang saya ketahui dari sesi tanya jawab, sedikit mustahil bila gambaran ANUG tersebut disebabkan oleh kondisi malnutrisi maupun leukemia.

Berarti kemungkinan penyebab terakhir adalah HIV.

Namun untuk mulai membuka pembicaraan mengenai HIV bagi saya, dan mungkin bagi sebagian besar dokter bukan sesuatu hal yang gampang untuk dilakukan. Walaupun sudah 2 kali mengikuti kursus untuk konseling dan testing HIV, namun pada kondisi “real” tetap saja menjadi sulit dan canggung.  Karena saya harus menemukan alasan tepat mengapa harus cek HIV, dan alasan tepat tersebut terletak pada “faktor resiko” HIV pada pasien.

Kata demi kata yang saya susun dikepala, dan saya ucapkan senatural mungkin, dengan ekspresi wajah yang “lempeng” dibutuhkan dalam melakukan upaya menggiring pasien untuk tes HIV.

Mungkin sebetulnya akan menjadi mudah bila saya langsung memberi obat untuk ANUG dan menyuruh pasien pulang. Namun hal itu tidak saya lakukan.  Saya memilih untuk memutar otak menyusun kata-kata yang halus, enak didengar, dan tidak menyinggung pasien, untuk mencari tahu mengapa sampai ANUG ini dapat terjadi pada gusinya. Karena bila benar ANUG ini disebabkan oleh penurunan sistem imun akibat HIV, maka memberikan obat hanya bersifat menutupi proses penurunan sistem imun yang sedang dibuat oleh HIV yang dapat berakibat lebih parah ke depannya.

Dengan segala keterbatasan komunikasi verbal yang saya miliki, setelah hampir 1 jam kita berbicara akhirnya sampai pada satu titik, pasien setuju untuk melakukan tes HIV.

Namun, apakah saya sudah lega karena sudah mendapat kesediaan untuk melakukan tes HIV?

Belum, setelah itu saya masih berpikir, apakah dia betul mau tes HIV, apakah persetujuan itu dilakukan agar saya senang? dan hanya karena ingin mengakhiri sesi konsultasi dengan saya?

Ternyata kemudian 1 bulan kemudian,  pasien tersebut datang kembali ke saya untuk pembersihan karang gigi. Saya sangat ingat tatapan mata dan wajahnya saat itu lebih berseri, jauh berbeda pada saat pertama kali kita bertemu. Saya kemudian berusaha tidak “kepo” untuk bertanya mengenai bagaimana hasil tes HIV nya.

Di saat saya sudah selesai melakukan pembersihan karang gigi, secara mengejutkan, beliau cerita bahwa hasil tes HIV nya adalah positif, namun dibalik itu, ada mengucapkan terimakasih kepada saya karena saya dapat mendeteksi dini keberadaan HIV pada tubuhnya, sehingga dapat menerima terapi ARV sedini mungkin sebelum terjadi fase penurunan sistem imun yang mungkin membuatnya bisa mencapai fase AIDS bila terlambat dalam deteksi HIV.

Menjadi dokter gigi bukan hanya memeriksa kondisi gigi dan mengobati apa yang dikeluhkan oleh pasien. Namun menulusur dan berusaha mencari tahu mengapa kondisi tersebut terjadi juga perlu dilakukan.

Terimakasih yang tidak terhingga karena bersedia memilih dan mempercayakan keluhannya kepada saya, sehingga memberikan pengalaman hidup yang sangat berharga bagi saya.

Salam sehat selalu dari saya dan seluruh tim Difa Oral Health Center..

Read More
24 april difa Event hari kartini (1)

“Dari Wanita Untuk Indonesia” Persembahan Spesial dari Difa OHC Untuk Wanita Indonesia

Selamat Hari Kartini buat kita semua \o/

Pada hari minggu tgl 24 April 2016 lalu, Difa Oral Health Center mengadalan acara bertajuk “Dari Wanita Untuk Indonesia” dalam rangka memperingati Hari Kartini..

Di acara ini ada 3 orang wanita Indonesia yang menceritakan kisah inspiratif mengenai perjalanan hidup, keluarga, dan juga bisnis yang ditekuni. Ada Dita Firdiana, sebagai founder dari Difa Oral Health Center, Nike Prima dari Living Loving, dan Manda Kumala dari Kartika Jaya Catering yang membagikan cerita inspiratifnya kepada kita semua.

Dita Firdiana adalah seorang dokter gigi, yang sempat tidak ingin melanjutkan studi kedokteran giginya, namun perjalanan hidup justru membawa Dita bukan hanya menjadi dokter gigi, namun mendirikan klinik gigi Difa Oral Health Center.

Kemudian disesi ke dua, Nike Prima menceritakan tentang awal mula karier cermerlang dibidang broadcast yang ditinggalkan karena lebih memilih mengerjakan sesuatu yang dirasakan enjoy sambil mengurus buah hati tercinta.

Dan yang terakhir adalah cerita perjalanan Manda Kumala, yang bangkit dari permasalahan ekonomi sepentinggal ayahnya dengan mendirikan usaha catering bersama ibu dan 2 orang adik laki-lakinya.

Setelah itu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan juga  tak ketinggalan berfoto-foto ria dengan 3 orang narasumber luar biasa ini, dan juga melakukan perawatan skin check oleh Diva Beauty Drink dari Kalbe Family sambil menikmati minuman Diva, nyobain body lotion dari Moayu dan merencanakan kunjungan perawatan kecantikan di Moz5 Salon Muslimah.

 

24 april 22

sponsor 24 april

Dan kesimpulannya dari acara ini adalah, yuk para wanita Indonesia, kita punya kekuatan untuk menjalankan kondrat kita sebagai wanita sekaligus menjadi wanita yang memiliki bisnis. Yang punya niat membuat bisnis sendiri, asal ada kemauan, kerja keras, usaha, dan doa, semua hal tidak ada yang mustahil kita lakukan..

Seru banget ya cara perayaan Hari Kartini nya Difa Oral Health Center kali ini. Yuk buat teman-teman yang belum pernah seru-seruan bareng Difa Oral Health Center di #difaEvent, terus simak semua info dari kami ya \o/

Read More
difa-angsamerah cover

Difa Oral Health Center dan Angsamerah in Collaboration (coming soon)

Hari Senin (18/04/2016) lalu tim Difa Oral Health Center berkunjung ke Klinik Yayasan Angsamerah dijalan Panglima Polim, Jakarta Selatan.

Mungkin banyak dari tmn2 yg belum tahu apa dan siapa itu Angsamerah.

Angsamerah adalah suatu institusi, klinik dan juga yayasan yang menaungi bagian kesehatan yg jarang dilirik oleh sebagian praktisi kesehatan pada umumnya, yaitu kesehatan reproduksi yang didirikan doleh dokter Nurlan Silitonga.

Kenapa menjadi bidang kesehatan yang tidak dilirik? Padahal reproduksi ini penting sekali untuk kelangsungan peradaban manusia di bumi ya padahal..

Selain itu Angsamerah ini juga terdiri dari berbagai ekspert baik dalam bidang kesehatan pribadi, kesehatan masyarakat, kesetaraan gender, komunikasi dan public speaking, dan marketing dan yang sering mengadakan pelatihan bagi berbagai kalangan praktisi kesehatan maupun masyarakat umum.

Dan dikesempatan hari senin lalu juga Difa Oral Health Center turut memperkenalkan pola bisnis social enterpreneur dibidang kesehatan khususnya di gigi dan mulut didepan adik-adik dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Bahwa suatu bisnis kesehatan bukan berarti menunggu pasien datang berobat saja, namun dengan membuat konten edukasi yang selama ini dilakukan Difa Oral Health Center dapat juga diikuti oleh adik-adik semua dalam melalukan bisnis dibidang klinik kesehatan.

Nah penasaran kan apa bentuk kerjasama antara Angsamerah dengan Difa Oral Health Center? Yuk like. follow, dan subscribe akun sosmed kita ya \o/

Read More
Skip to toolbar