Welcome to Difa Oral Health Center

Opening Hours : Selasa-Jumat 14:00-20:00, Sabtu-Minggu 09:00-15:00
  Contact : +62813-1650-6535

All Posts Tagged: dokter gigi

poster A1b

Apasih Sebenarnya Fungsi Dokter Gigi?

Sambil nunggu makan siang, kita bahas hal-hal positif yuk, biar bikin semangat dan penuh rasa syukur dalam menjalani hari Jumat ini. Selama ini kalau mendengar kata “dokter gigi” pasti otak kita langsung mengarah pada hal-hal yang berkaitan sama rasa linu, sakit, bur, suntik. Pasti semua jawabnya IYA.

Yuk coba dingat-ingat, apakah dulu ada yang pernah ditakut-takutin sama orang tuanya dengan cara “Awas loh kalau nakal disuntik terus dicabut sama dokter gigi!!” Atau ada yang sekarang sudah jadi orang tua, dan pernah menakut-nakuti anaknya seperti itu? Duh kok serem amat ya dokter giginya. Sudah seperti lagunya Susan saja, “Mau jadi dokter karena mau suntik orang lewat…”

Balik lagi ke hal-hal positif. Selama ini pernah kepikiran tidak, apa sih gunanya kita merawat gigi? Tentunya selain untuk menghindari sakit gigi! Atau mungkin ada yang merawat gigi untuk menghindari pergi ke dokter gigi?!

Nah, sebenarnya merawat gigi dan mulut itu fungsinya adalah untuk menjaga kualitas hidup kita dan untuk menjaga kesehatan tubuh kita. Mungkin bagi kita yang sudah merasa memiliki tubuh yang sehat, mungkin kesehatan gigi dan mulut belum mejadi kebutuhan utama. Tapi kalau sudah mengalami sakit, terutama sakit kanker, kesehatan gigi dan mulut itu akan menjadi golden ticket buat survive. Baik survive dari penyakit kankernya maupun dari terapi kanker yang dijalani.

Kok bisa?!

Pengindap kanker membutuhkan asupan gizi yang lebih dibandingkan org sehat, dan cara kita mendapatkan asupan gizi adalah melalui mulut. Ketika makanan masuk ke dalam mulut, berarti kita perlu gigi untuk mengunyah makanan tersebut. Apa yang terjadi kalau kita punya masalah di dalam rongga mulut? Sulit makan, tidak nafsu makan, adalah salah satunya, yang akhirnya akan mengakibatkan kurang asupan nutrisi.

Malnutrisi adalah suatu kondisi yang sangat memegang peranan kegagalan dan delay treatment dalam perawatan kanker. Kita harus mengupayakan nutrisi yang baik bagi pasien kanker. Artinya kita juga harus mengupayakan kesehatan gigi dan mulut.

Nah, apakah dokter gigi hanya akan berfungsi jika kita mengalami sakit pada gigi? Ini adalah pendapat yang selama ini keliru. Selain untuk mengobati, peran dokter gigi juga untuk menjaga gigi dan mulut kita semua tetap sehat.

poster A1ba

Jadi mulai sekarang yuk mulai ubah mindset kita selama ini tetang dokter gigi yang identik dengan RASA NGILU, SAKIT dan SUNTIK menjadi AGAR SEHAT. Karena kita semua ingin hidup sehat. Kita harus menjadi sehat untuk tetap produktif, agar berguna bagi orang tua kita, masyarakat,bangsa dan negara.

Dan tentunyanya mejadi sehat untuk melihat dan menemani anak-anak kita tumbuh dan menemaninya hingga dewasa. Jaga kesehatan mulai dari sekarang, dan jadikan dokter gigi sebagai patner kita dalam mendapatkan kesehatan gigi dan mulut secara menyeluruh.

Salam sehat,

Read More
quote dr zaenal abidin

Mengapa dokter gigi harus membekali diri dengan pengetahuan tentang HIV?

Program bersama PBB untuk HIV/AIDS (UNAIDS) dan WHO memperkirakan sekitar 4,9 juta orang hidup dengan HIV di Asia pada tahun 2007, termasuk 440.000 orang yang baru terinfeksi pada tahun terakhir. Di wilayah Pasifik diperkirakan 75.000 orang hidup dengan virus ini dengan 14.000 terinfeksi pada tahun 2007. Pada wilayah ini, Papua Nugini memiliki beban penyakit terbesar dengan lebih dari 70% junmlah total dari odha di kawasan Pasifik.

Sebagian besar individu dengan infeksi HIV tidak menyadari status HIV dan datang ke sistem layanan kesehatan pada stadium lanjut, saat respon pengobatan kurang menguntungkan. Mereka datang pada keadaan lanjut oleh karena kurangnya tingkat kesadaran mengenai resiko perorangan terhadap infeksi HIV atau terhalang oleh kekhawatiran terhadap diskriminasi dan sigmatisasi, yang keduanya dapat menghalangi orang-orang untuk menjalani tes. Di sisi lain, dapat pula hilang kesempatan untuk diagnosa dini HIV saat pasien datang kepada tenaga kesehatan yang kurang berpengalaman dengan keadaan klinis umum pada infeksi HIV dalam berbagai stadium penyakitnya.

Deteksi dini infeksi HIV penting untuk berbagai alasan. Konseling dan intervensi dapat diterapkan untuk mencegah penularan HIV yang berlanjut kepada orang lain. Upaya-upaya untuk mengurangi resiko yang dapat memperkuat yaitu penggunaan kondom secara konsisten, menghidari penggunaan jarum suntik bersama-sama, dan menggunakan obat anti retroviral untuk mencegah penularan dari ibu ke bayi. Seorang pasien datang pada stadium dini infeksi HIV dapat dimonitor secara ketat sehingga kombinasi antiretroviral dapat dimulai pada waktu yang tepat untuk mencegah perburukan penyakit.

Dokter gigi dapat berperan dalam upaya deteksi dini infeksi HIV pada pasien melalui bekal pengetahuan keadaan klinis umum maupun ciri klinis pada rongga mulut. Nah sebagai tenaga kesehatan maukah anda menambah pengetahuan mengenai HIV dan turut berpartisipasi dalam program penanggulangan HIV bersama PBB dan WHO?

Sumber: Buku Inikah HIV? Buku Pegangan Petugas Kesehatan, The Australlian Society for HIV Medicine ASHM, 2009

Read More
dokter gigi pasien hiv cover

Dokter Gigi, Pasien HIV, Konseling HIV dan Testing HIV

drg. Widya Apsari Sp.PM

Ini adalah satu pengalaman yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya, ketika saya merujuk seorang pasien untuk tes HIV, dan kemudian pasien tersebut datang kembali dan mengucapkan terimakasih kepada saya.

Hari itu adalah hari minggu, ketika ada seorang pria datang menemui saya karena keluhan pada gusinya. Pria ini berperawakan tegap, muda, dan dengan kemeja santai yang disetrika rapih dan dipadukan dengan jeans dan sepatu kets. Tidak ada beda dengan pria kebanyakan di Jakarta.

Seperti ritual saya dengan pasien lainnya, kami pun saling berjabat tangan dahulu untuk memperkenalkan nama masing-masing. Kemudian beliau mulai bercerita kepada saya mengenai keluhan pada gusi yang sudah dirasa sejak 3 hari belakangan ini. Keluhan yang dirasa adalah sakit dan nyeri yang teramat sangat.

Sepintas terdapat bagian berwarna keabu-abuan pada ujung gingiva interdental papila (bagian gusi berbentuk segitiga pada gusi di antara 2 gigi), dan terlihat ada ulcer pada mukosa pipi (luka menyerupai sariawan pada kulit di bagian dalam pipi) yang menghadap pada bagian yang berwarna abu pada gusi tersebut.

Jujur ini bukan merupakan kali pertama saya melihat lesi (luka) pada gusi semacam ini pada pasien. Sepanjang saya bertugas di RSCM, semasa menempuh pendidikan sebagai dokter gigi spesialis melihat berbagai lesi pada rongga mulut memang sudah hal yang umum saya temukan, termasuk juga kondisi gusi pada pasien ini.

Namun posisi saya saat itu adalah saya masih menjadi dokter yang sedang menempuh pendidikan spesialis, segala keputusan yang saya buat pada pasien  ada di bawah superfisi dokter penanggung jawab pasien. Sedangkan pada saat ini, saya sudah menyandang gelar sebagai Spesiali Penyakit Mulut dibelakang nama saya. Dan pasien ini datang dan membayar saya secara profesional, jadi segala hal yang saya ucapkan dan akan saya lakukan harus se-profesional mungkin.

Lesi pada gusi pasien tersebut merupakan gambaran khas dari kondisi penyakit yang disebut dengan Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG). Umumnya terjadi pada seseorang dengan sistem imun yang rendah, bisa karena malnutrisi maupun karena penyakit  yang menurunkan sistem pertahanan tubuh (imun), seperti leukemia dan juga HIV/AIDS.

Melihat perawakan dan juga pola hidup pasien yang saya ketahui dari sesi tanya jawab, sedikit mustahil bila gambaran ANUG tersebut disebabkan oleh kondisi malnutrisi maupun leukemia.

Berarti kemungkinan penyebab terakhir adalah HIV.

Namun untuk mulai membuka pembicaraan mengenai HIV bagi saya, dan mungkin bagi sebagian besar dokter bukan sesuatu hal yang gampang untuk dilakukan. Walaupun sudah 2 kali mengikuti kursus untuk konseling dan testing HIV, namun pada kondisi “real” tetap saja menjadi sulit dan canggung.  Karena saya harus menemukan alasan tepat mengapa harus cek HIV, dan alasan tepat tersebut terletak pada “faktor resiko” HIV pada pasien.

Kata demi kata yang saya susun dikepala, dan saya ucapkan senatural mungkin, dengan ekspresi wajah yang “lempeng” dibutuhkan dalam melakukan upaya menggiring pasien untuk tes HIV.

Mungkin sebetulnya akan menjadi mudah bila saya langsung memberi obat untuk ANUG dan menyuruh pasien pulang. Namun hal itu tidak saya lakukan.  Saya memilih untuk memutar otak menyusun kata-kata yang halus, enak didengar, dan tidak menyinggung pasien, untuk mencari tahu mengapa sampai ANUG ini dapat terjadi pada gusinya. Karena bila benar ANUG ini disebabkan oleh penurunan sistem imun akibat HIV, maka memberikan obat hanya bersifat menutupi proses penurunan sistem imun yang sedang dibuat oleh HIV yang dapat berakibat lebih parah ke depannya.

Dengan segala keterbatasan komunikasi verbal yang saya miliki, setelah hampir 1 jam kita berbicara akhirnya sampai pada satu titik, pasien setuju untuk melakukan tes HIV.

Namun, apakah saya sudah lega karena sudah mendapat kesediaan untuk melakukan tes HIV?

Belum, setelah itu saya masih berpikir, apakah dia betul mau tes HIV, apakah persetujuan itu dilakukan agar saya senang? dan hanya karena ingin mengakhiri sesi konsultasi dengan saya?

Ternyata kemudian 1 bulan kemudian,  pasien tersebut datang kembali ke saya untuk pembersihan karang gigi. Saya sangat ingat tatapan mata dan wajahnya saat itu lebih berseri, jauh berbeda pada saat pertama kali kita bertemu. Saya kemudian berusaha tidak “kepo” untuk bertanya mengenai bagaimana hasil tes HIV nya.

Di saat saya sudah selesai melakukan pembersihan karang gigi, secara mengejutkan, beliau cerita bahwa hasil tes HIV nya adalah positif, namun dibalik itu, ada mengucapkan terimakasih kepada saya karena saya dapat mendeteksi dini keberadaan HIV pada tubuhnya, sehingga dapat menerima terapi ARV sedini mungkin sebelum terjadi fase penurunan sistem imun yang mungkin membuatnya bisa mencapai fase AIDS bila terlambat dalam deteksi HIV.

Menjadi dokter gigi bukan hanya memeriksa kondisi gigi dan mengobati apa yang dikeluhkan oleh pasien. Namun menulusur dan berusaha mencari tahu mengapa kondisi tersebut terjadi juga perlu dilakukan.

Terimakasih yang tidak terhingga karena bersedia memilih dan mempercayakan keluhannya kepada saya, sehingga memberikan pengalaman hidup yang sangat berharga bagi saya.

Salam sehat selalu dari saya dan seluruh tim Difa Oral Health Center..

Read More
pregnancy and oral health 1

5 Hal yang Semua Perempuan Harus Tahu Tentang Kondisi Gigi dan Mulut

Apa hubungannya kondisi gigi dan mulut sama perempuan? Bukannya gak ada perbedaan gender untuk urusan gigi dan mulut?

Eith, siapa bilang?? Yuk coba kita simak berikut ini

1.Air ludah atau saliva dan hormon estrogen

Kita semua sudah tahu pastinya, kalau pada masa menopouse terjadi penurunan yang signifikan pada hormon estrogen yang akan mempengarhi kondisi fisik dan emosional dari tubuh perempuan. Nah, ternyata untuk mengetahui apakah seorang wanita sudah memasuki fase menopouse atau belum dapat dilakukan pemeriksaan kadar estrogen yang dilihat dalam air ludah.

2.Perempuan dan kelenjar ludah.

Pada kondisi menopouse dan terjadi penurunan pada kadar estrogen, dapat berpengaruh terhadap produksi air ludah oleh kelenjar dan menyebabkan kondisi yang dikenal dengan nama xerostomia atau keluhan mulut kering pada perempuan menopouse.

3.Perubahan hormon perempuan dan kondisi gusi

Perempuan memiliki kecenderungan terjadinya radang gusi yang berhubungan dengan kondisi hormon, terutama pada masa memasuki pubertas dan kehamilan. Radang gusi yang terjadi pada masa pubertas dikenal dengan nama gingivitis pubertas dan pda kehamilan disebut dengan gingivitis gravidarum. Olehkarena itu penting bagi pada perempuan untuk menjaga kesehatan gigi dengan membersihkan karang gigi secara rutin untuk mencegah terjadinya gingivitis tersebut.

4.Menstruasi dan sariawan

Anda sering mengalami sariawan yang hilang timbul? Nah, salah satu pencetus timbulnya sariawan tersebut ternyata adalah kadar hormon yang berubah ketika proses menstruasi.

5. Kesehatan rongga mulut dan kehamilan

Selama ini menganggap kondisi kesehatan gigi tidak berhubungan dengan tubuh, apalagi dengan proses kehamilan? Ternyata penelitian membuktikan bahwa perempuan yang memiliki kondisi radang gusi dan penyangga gigi (periodontitis) memiliki kecenderungan terjadinya kontraksi dini, sampai menimbulkan efek kelahiran bayi prematur, bayi dengan berat badan di bawah normal, bahkan keguguran.

Yuk, segalanya belum terlambat kok, mulai membiasakan menyikat gigi sehari 2 kali, pagi dan sebelum tidur, serta kunjungi dokter gigi secara rutin untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut dan membersihkan karang gigi secara rutin.

Dengan cara yang sederhana ini, kita bisa melindungi tubuh kita dari berbagai penyakit. Yuk ke dokter gigi

Salam sehat,

(wa/2016)

Refrensi:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3401754/

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3793432/

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3227248/

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4195183/

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2096416/

Read More
Buka Mata Buka Hati cover

Yuk, Mari Kita Buka Mata dan Hati Kita dan Menjadi Dokter untuk Semua Kalangan

Pada tanggal 3 April 2016 kemarin Difa Oral Health Center mengadakan Talkshow bertajuk “Buka Mata Buka Hati – menjadi dokter gigi untuk semua kalangan-”

Acaranya sangat sukses dan berkesan dengan kehadiran narasumber yang keren banget, ada Mba Suskma Ratri atau Ratri Pearman, atau kita memanggilnya dengan Teh Ratriada Mas Samsu Budiman dari Kuldesak.org , atau kita memanggilnya Om Budz, ada dokter gigi Manuel DHL Sp.PM yang merupakan dosen Departemen Penyakit Mulut dari FKG Universitas Moestopo, dan yang terakhir adalah dokter gigi Widya Apsari Sp.PM yang merupakan salah satu founder Difa Oral Health Center.

Acara ini terbilang sukses dengan dihadiri oleh 25 orang dokter gigi dari berbagai daerah di Indonesia, yaitu ada dokter gigi dari Bandung, Jakarta, Cibubur, bahkan ada dari Papua.

Sesi pertama diawali dengan sesi curhatan dari Om Budz tentang diskrimikasi yang sering dialami oleh ODHA atau Orang yang Hidup Dengan HIV/AIDS ketika ke dokter gigi, yaitu adanya penolakan oleh dokter gigi bila mengetahui pasiennya adalah seorang ODHA. Hal ini menyebabkan teman-teman ODHA cenderung berbohong atau tidak mengatakan mengenai status HIV nya ketika datang ke dokter gigi. Nah, setelah berlanjut dengan permasalahan diskriminasi ini sesi berikutnya adalah penjelasan tentang HIV dasar yang dibawakan oleh Teh Ratri.

Teh Ratri dengan bahasa yang lugas dan ringan menjelaskan kepada kita mengenai apa itu HIV, apa yang terjadi bila seseorang terinfeksi HIV, bahaimana HIV bisa menular, dan juga apa perbedaan HIV dengan AIDS.

Berbagai pertanyaan seputar stigma dan pemahaman salah mengenai penularan HIV dibahas di sini, mulai dari apakah benar pemberitaan yang mengatakan bahwa dengan menyuntikkan darah yang terinfeksi HIV ke makanan bisa menularkan HIV ke orang lain? Dan apakah benar cipika cipiki dengan ODHA yang berjerawat dapat menyebabkan penularan HIV ? Dan berbagai pertanyaan lain seputar kabar yang selama ini beredar tentang HIV dibahas disini bersama Teh Ratri dan Om Budz.

703e9eac-1bcd-43f5-a3e6-91fe70df3252

Nah, sesi selanjutnya adalah kolaborasi antara dokter Manuel dan dokter Widya, yang membahas mengenai potensi penularan HIV di praktek dokter gigi dan juga apa yang sebaiknya dokter gigi harus ketahui bila merawat pasien ODHA.

Melalui talkshow ini ternyata kita dokter gigi menyadari masih banyak sekali kita belum ketahui tentang HIV/AIDS, ternyata juga sebagian informasi yang di dapat mengenai HIV/AIDS itu tidak terbukti kebenarannya.

Yuk mari dokter gigi Indonesia, mari membuka mata dan hati kita, dan menjadi dokter untuk semua kalangan tanpa kecuali. #dokteruntuksemua

 

Read More
5 web keren title (1)

5 Website Kesehatan Gigi Terkeren Versi Difa OHC

Ayo jujur, selama ini siapa diantara kalian yang udah merasa kesehatan gigi dan mulut merupakan hal yang penting di dalam kehidupan kita? Jangan kesehatan gigi dan mulut dulu deh, tentang kesehatan tubuh aja.. Ada?

Dan siapa diantara kalian yang sering atau pernah bukain  website atau browsing tentang kesehatan di internet?

Atau buat yang udah punya anak, pernah gak mencoba mencari website yang bisa memberikan edukasi kepada anak-anak tentang kesehatan?

Apa?? Website kesehatan umumnya diperuntukkan untuk tenaga kesehatan aja?  Terus kontennya membosankan dan kebanyakan tulisan? Gak interaktif?

Ada kok website tentang kesehatan yang bagus, keren, menarik, atraktif, lucu, dan bikin ketagihan buat bukain isinya..

Berikut ini 5 website kesehatan gigi dan mulut yang menurut Difa OHC ini kereeeen banget. Yuk kita tengok bareng-bareng..

No 5:  Website dari Colgate http://www.colgate.com/en/us/oc/oral-health

colgate

Emang si website ini untuk kepentungan promosi dan branding produk-produk Colgate, tapi dibagian menu Oral Care Center kita bisa dapet banyak banget informasi seputar kesehatan gigi dan mulut. Mulai dari tentang cara mencegah gigi berlubang, bagaimana menjaga kesehatan gigi pada bayi dan anak-anak, sampai ke masalah veneer dan kedokteran gigi estetik yang lagi ngehits sekarang ini..

Tampilannya simple, tampilan menu yang sederhana dan juga isi artikel yang menurut kita sih cocok dibaca baik oleh dokter gigi, perawata gigi, dan masyarakat umum karena dengan kata-kata yang sederhana dan mudah dimengerti.

No 4: Website dari American Dental Associatiom (ADA) http://www.mouthhealthy.org/en/

ADA

Seperti judulnya website ini merupakan kepunyaan organisasi American Dental Association, atau bisa disamakan dengan organisasi PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia) kali ya.

Nah, diwebsite ini berisi banyak banget informasi seputar kesehatan yang masyarakat umum dan juga dokter gigi harus tahu. Contohnya tentang gimana merawat kesehatan gigi pada saat kehamilan, pada masa bayi dan anak-anak. remaja, sampai usia manula ada disini.. Yang tentunya kalau di Indonesia ilmu kaya gini nih masih awam banget ya, karena dibayangan kita kalau ke dokter gigi ya karena sakit gigi.

Nah di website ini tenaga kesehatan gigi di Amerika sono nih, memberikan segala tips dan pengetahuan untuk merawat kesehatan gigi kita sampai seumur hidup.

No 3: Website dari Washington Dental Service Foundation http://cavityfreekids.org/

cavity free kids

Kalau segala sesuatu yang berhubungan dengan anak-anak itu bikin gemesssss banget gak sih? Dan tampilan ngegemesin itu ada pada website ini.

Gak seperti website sebelumnya yang memang targetannya adalah untuk orang dewasa, website cavityfreekids ini lebih dikhususkan untuk pada orangtua dan guru sekolah, dan juga anak-anak. Gak sekerdar informasi seputar kesehatan gigi pada anak-anak, namun memberikan berbagai lembar aktivitas untuk anak-anak bermain dan juga berlajar tentang kesehatan gigi.

No 2:  Website dari American Dental Association (ADA) juga tapi khusus anak  http://www.mouthhealthykids.org/en/

mouth healthy kids

Ini termasuk website favorit banget nya tim Difa OHC, soalnya berasa pengen jadi anak-anak lagi. hehe :))

Mungkin buat temen-temen yang waktu kecil ngerasa takut sama dokter gigi dan sekarang nyesel karena giginya pada rusak dan males ke dokter gigi karena mahal biaya perawatan gigi, setelah liat website ini pasti jadi mikir “seandainya waktu gw kecil dulu, gue tahu ada website begini, pasti gigi gue gak sehancur sekarang..”

Di website ini tu mayoritas berisi lembar aktifitas, video, dan permainan yang bikin anak-anak punya persepsi menyenangkan kepada dokter gigi yang membantu anak-anak dalam merawat dan menjaga kesehatan gigi.

No 1: Website Sesame Street http://www.sesamestreet.org/parents/topicsandactivities/toolkits/teeth

sesame street

Ini sebenernya bukan website khusus kesehatan gigi, tapi menurut kita nih,  website Sesame street ini berisi konsen-konten yang baik banget untuk anak-anak dalam belajar menjadi sehat.

Ada game menggosok giginya monster cookies, ada lembar aktivitas yang berhubungan dengan kesehatan gigi, ada lagu-lagu yang mengajak anak-anak untuk rajin menyikat gigi. Pokoknya semua hal di website ini cocok banget deh buat membuat kesadaran tentang kesehatan gigi dan mulut dengan cara yang amat sangat menyenangkan bagi orang dewasa dan juga anak-anak.

Nah, ini adalah 5 website tentang kesehatan gigi yang terkeren menurut versi Difa OHC,  gimana menurut kamu?

Read More
anak-anak

Siapakah yang Harus Berperan dalam Pendidikan Kesehatan Untuk Anak ?

drg. Miranda Adriani

Keluarga dan sekolah menjadi kunci dalam perkembangan individu anak-anak. Dan banyak penelitian yang menyatakan bahwa orang tua dan sekolah berperan penting dalam membantu anak dalam menjaga kesehatan gigi.  

Anak-anak menghabiskan sebagian waktunya di institusi pendidikan yang memiliki pengaruh besar terhadap hidup mereka. Sekolah sebagai tempat mereka belajar dan berkembang, menanamkan keyakinan, mengasah ketrampilan, dan menjadi lingkungan penting untuk mengembangkan kebiasaan hidup sehat seperti kesehatan gigi. Dan keluarga sebagai lingkungan yang menjaga dan mendukung kebiasaan hidup sehat yang diberikan di sekolah tersebut.

Bagaimana dengan pendidikan kesehatan, terutama kesehatan gigi?

Kita tahu bahwa pendidikan kesehatan gigi memegang perawan penting dalam kesehatan, perkembangan dan pertumbuhan dan juga prestasi anak di sekolah. (Apakah gigi anak harus dirawat?)

Namun siapakah yang memiliki peranan dalam memberikan pengetahuan kesehatan gigi tersebut? Apakah guru? orangtua? dokter gigi? 

World Health Organization (WHO) mengeluarkan rekomendasi untuk melakukan  promosi kesehatan gigi dan mulut di sekolah-sekolah di seluruh dunia. Sekolah dipandang sebagai tempat yang paling efektif untuk meningkatkan kesehatan gigi karena melalui sekolah promosi kesehatan gigi tersebut dapat menjangkau lebih dari 1 milyar anak di seluruh di dunia. Dengan demikian diharapkan banyak anak-anak sadar untuk menjaga kesehatan giginya dari kecil.

Sebagai nilai tambah, pendidikan kesehatan gigi ini sederhana dan sifatnya tidak hanya sementara.

Sederhana, karena pendidik hanya menciptakan kebiasaan yang baik pada anak untuk menjaga kebersihan gigi dan mulutnya dan kesehatan seluruh tubuhnya.  Lebih mudah dan cost effective daripada di saat anak dewasa, mereka harus bolak-balik ke dokter gigi karena sakit gigi.

Tidak sementara, karena dapat memberikan pesan kepada anak bahwa kesehatan gigi dan mulut adalah hal yang penting dan harus dijaga, sehingga di masa yang akan datang memiliki pengaruh yang besar pada kondisi gigi dan kesehatan tubuhnya secara umum sampai mereka tua nanti.

Nah sudahkan sekolah anda atau sekolah anak anda menjalankan rekomendasi dari WHO ini? Jika sudah menjalankan dengan menyediakan dokter gigi dilingkungan sekolah, apakah dokter gigi tersebut sudah menjalankan upaya promosi kesehatan ini atau hanya mengobati anak-anak yang giginya sakit saja?

Difa Oral Health Education for Childrenposter difaEdu anak

Refrensi:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3222359/pdf/1900.pdf

http://www.ijdr.in/article.asp?issn=0970-9290;year=2010;volume=21;issue=2;spage=253;epage=259;au

http://www.who.int/bulletin/volumes/83/9/677.pdf

http://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S1807-25772015000500285

http://www.hindawi.com/journals/aph/2015/651836/

http://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S1806-83242008000400010

Read More
poster tgl 3 april 2

Buka Mata, Buka Hati – Menjadi dokter gigi untuk semua kalangan-

Dear teman-teman doker gigi,
Difa Oral Health Education mempersembahkan:
“Buka Mata, Buka Hati – menjadi dokter gigi untuk semua kalangan-”

Mari membuka mata dan hati kita tentang HIV / ODHA dan menjadi dokter gigi untuk semua kalangan. #KlinikGigiRamahODHA

Minggu, 3 April 2016
pukul 09:00-14:00
Lokasi: Difa Oral Health Center
Jl. Benda Raya no 98G, kemang-ampera, jakarta selatan

Investasi hanya Rp. 150.000 per peserta! (include lunch)

Materi dan workshop:
– Kondisi HIV/AIDS di Indonesia
– Stigma yang di dapat ODHA dalam layanan dokter gigi
– Apa itu HIV/AIDS dan potensi penularan dalam praktek dokter gigi
– Apa yang harus dokter gigi ketahui ketika merawat pasien ODHA

Konfirmasi pembayaran beserta bukti dan Nama Lengkap, email dan nomer Whatsapp ke +6281316506535 (difaOHC) (WA/SMS Only) atau LINE @difaohc (pake @)

Dapatkan bonus Cairan disinfektan oneMed

Read More
Gigi Sehat Untuk Indonesia Sehat

Apakah Gigi Anak-anak Harus dirawat?

Drg. Miranda Adriani

Pernahkah anda menjumpai anak-anak dengan gigi berlubang? Mungkin anak anda atau keponakan anda yang giginya depannya terlihat menghitam? Atau pada keadaan lebih buruk,pernahkah anda melihat anak mengalami sakit gigi yang berdenyut sehingga susah tidur?

Tentu pernah! Karena nyatanya gigi berlubang merupakan penyakit kronis yang paling umum dijumpai pada anak-anak. Nah berikut alasan mengapa gigi susu pada si kecil harus dirawat:

1. Akan mempengaruhi prestasi di sekolah

Dari penelitian, ternyata hampir 80% anak-anak di di dunia mengalami gigi berlubang. Keadaan ini mengakibatkan lebih dari 50 juta jam sekolah hilang karena anak-anak absen dari sekolah karena giginya sakit. Absennya anak-anak dari sekolah tersebut, akan menurunkan performanya di sekolah akibat waktu belajarnya menjadi terganggu. DAlam penelitian, anak-anak dengan kesehatan gigi yang buruk akan mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas sebanyak 12 kali lebih lipat dari pada anak dengan kesehatan gigi yang baik

2. Menggangu si anak dalam bersosialisasi

Kesehatan gigi yang buruk akan berpengaruh terhadap penampilan dan kepercayaan diri anak-anak dan kemampuan anak dalam berkomunikasi yang secara langsung akan berpengaruh pada kehidupan sosial si kecil bersama teman-temannya.

3. Mempengaruhi pertumbuhan anak

Dengan kondisi kesehatan gigi yang buruk secara otomatis akan menggangu fungsi mengunyah pada si kecil dan pada kondisi sakit gigi, si kecil pasti akan malas makan, sehingga asupan nutrisi pun menjadi terbatas. Sehingga, kesehatan gigi ini mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.

Banyak sekali kan dampak buruknya?

Padahal, banyak dari masalah gigi dapat dicegah dan pada masa awal sifatnya reversible atau bisa kembali sehat loh.

Bagaimana mencegahnya? Tentu dengan asupan makanan atau diet yang baik dan menjaga kebersihan gigi dan mulut anak-anak, yaitu dengan menggosok gigi, dan yang penting adalah pembekalan mengenai pendidikan kesehatan gigi dan mulut sedini mungkin.

Salam Sehat,

Refrensi:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3222359/pdf/1900.pdf

http://www.ijdr.in/article.asp?issn=0970-9290;year=2010;volume=21;issue=2;spage=253;epage=259;au

http://www.who.int/bulletin/volumes/83/9/677.pdf

http://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S1807-25772015000500285

http://www.hindawi.com/journals/aph/2015/651836/

http://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S1806-83242008000400010

 

Read More
HIV selogan

Bila Saya Dokter Gigi dan Pasien Saya Adalah ODHA (1)

drg. Widya Apsari Sp.PM

Satu cerita, ada salah satu dosen dokter gigi berjenis kelamin laki-laki menolak membimbing mahasiswa Co-ass dalam menambal gigi pasien, karena pasien tersebut adalah ODHA (orang yang hidup dengan HIV/AIDS).  Dosen tersebut beralasan karena belum menikah dan belum punya anak.

Apa yang terlintas dipikiran anda pertama kali setelah membaca cerita tersebut?

Ketika saya mendengar teman saya bercerita tentang kejadian tersebut, yang pertama kali terlintas di pikitan saya adalah “emang dokter itu mau ngapain sama pasiennya?”

Nah coba kita telusuri apakah benar pernyataan dokter tersebut, apakah ada korelasinya antara menolak menangani pasien ODHA dalam menambal gigi dan alasan belum menikah dan belum punya anak..

HIV terdapat dalam sebagian cairan tubuh, yaitu:

1. Darah

2. Air mani

3. Cairan vagina

4. Air susu ibu (ASI)

Penularan HIV dapat melalui :

1. Berhubungan seks yang memungkinkan darah, air mani, atau cairan vagina dari orang terinfeksi HIV masuk ke aliran darah orang yang belum terinfeksi (yaitu hubungan seks yang dilakukan tanpa kondom melalui vagina atau dubur, juga melalui mulut, walau dengan kemungkinan lebih kecil)

2. Memakai jarum suntik secara bergantian dengan orang lain yang terinfeksi HIV

3. Menerima transfusi darah dari donor yang terinfeksi HIV

4. Dari ibu terinfeksi HIV ke bayi dalam kandungan, waktu melahirkan, dan jika menyusui sendiri.

Nah, setelah anda tahu dimana virus HIV itu berada dan tahu bagaimana penularan HIV tersebut, apakah anda sudah mengetahui alasan saya kenapa saya berpikir “Emang dokter itu mau ngapain sama pasiennya?”

Anda tidak akan tahu penyakit yang dimiliki oleh pasien bila pasien tersebut tidak berterus terang kepada anda. Dengan pasien jujur dan berterus terang mengenai penyakit yang dimilikinya, berarti pasien tersebut berbaik hati ingin melindungi agar anda dan pasien lainnya agar tidak tertular.

PELAJARI penyakitnya, KENALI orangnya, dan LAYANI dengan seperuh hati

(Refrensi : www.spiritia.or.id, http://spiritia.or.id/dokumen/buku-hidup.pdf)

Read More
Skip to toolbar