Welcome to Difa Oral Health Center

Opening Hours : Selasa-Jumat 14:00-20:00, Sabtu-Minggu 09:00-15:00
  Contact : +62813-1650-6535

All Posts Tagged: Fluor

fluoride=racun

Fluoride adalah Racun, Benarkah ??

drg. Widya Apsari Sp.PM

Apa itu Fluoride ?

Fluoride merupakan mineral yang secara alami terdapat pada alam, seperti tanah, batu vukanik, dan juga air. Fluoride sendiri sudah sejak lama dikenal sebagai mineral yang dapat mencegah terjadinya gigi berlubang, dengan cara membentuk susunan gigi yang lebih kuat dan tahan terhadap kondisi asam akibat bakteri dan juga sisa makanan. Adanya asam yang dihasilkan oleh bakteri dan sisa makanan menyebabkan larutnya struktur mineral pada lapisan email gigi sehingga menyebabkan terjadinya gigi berlubang. Namun proses larutnya mineral pada lapisan email gigi dapat diperbaiki (remineralisasi) oleh adanya fluoride.

Dalam mencegah terjadinya gigi berlubang, fluoride bekerja secara sistemik (dalam tubuh) dan topikal (luar tubuh). Secara sistemik fluoride diperoleh melalui air minum, makanan, dan juga suplemen fluor. Sedangkan secara topikal umumnya didapat dari pasta gigi, obat kumur, dan juga aplikasi fluoride oleh bahan kedokteran gigi oleh dokter gigi.

Secara sistemik, fluoride mencegah gigi berlubang dengan cara berperan dalam proses pembentukan benih gigi di dalam tubuh, sehingga terbentuk struktur gigi yang kuat dan tahan asam. Serta dengan adanya asupan fluoride yang cukup secara sistemik, maka akan menghasilkan air ludah yang mengandung fluoride yang dapat memberikan perlindungan pada gigi secara topikal. Proses pencegahan gigi berlubang dari fluoride secara topikal adalah dengan proses remineralisasi kembali dari mineral gigi yang telah larut oleh asam sebagai penyebab gigi berlubang.

Namun, sama seperti mineral lain yang juga diperlukan oleh tubuh kita, akan menjadi efektif dan bermanfaat bila dalam asupan yang cukup, dan tidak berlebihan.

Sumber Fluoride

Asupan fluoride terdapat dalam air minum secara alami maupun melalui program fluoridasi melalui air mineral, dengan batas aman yang ditentukan oleh WHO (2011) dan Kementrian Kesehatan RI adalah tidak boleh lebih dari 1.5mg/l.

Selain dari air minum, asupan fluoride sendiri dapat didapat dari berbagai bahan makanan dan minuman. Menurut penelitian kadar fluoride tinggi terdapat pada teh, seafood, daging, bayam, dan gelatin. Dan sedikit pada buah citrus, sayuran, susu, dan telur. Namun kadar fluoride dari tiap bahan makanan tersebut bervariasi sesuai dengan kondisi geografis di suatu wilayah.  Diperkirakan asupan fluoride secara alami tidak akan lebih dari 1mg/l, sehingga tidak memiliki efek samping terhadap kesehatan tubuh manusia.

Untuk mengetahui kadar fluoride dari berbagai makanan dapat dilihat disini

Kadar Fluoride pada Produk Kebersihan dan Kesehatan Gigi dan Mulut

Untuk penggunaan fluoride pada produk kebersihan dan kesehatan gigi mulut umumnya diberikan secara topikal. Pada pasta gigi terdapat kandungan fluoride sebanyak 1.000 – 1.500 mg/kg. Sedangkan pada produk pencegahan gigi berlubang di dokter gigi mengandung fluoride sebanyak 400 – 60.000 mg/kg didalam 10.000 mg/l atau gel.

fluor

Dalam bidang kesehatan pengetahuan mengobati penyakit merupakan hal yang penting, namun pengetahuan mencegah terjadinya penyakit juga tidak kalah pentingnya.

Mari kita kenali dan penuhi asupan fluoride sesuai dengan kadar kebutuhan tubuh, baik melalui sistemik maupun topikal, agar tercipta generasi muda Indonesia yang bebas dari gigi berlubang.

 

Sumber:

  1. http://dinkes.babelprov.go.id/sites/default/files/data/Renc.Program.pdf
  2. http://www.ada.org/~/media/ADA/Member%20Center/FIles/fluoridation_facts.ashx
  3. http://www.ada.org/en/member-center/oral-health-topics/fluoride-supplements
  4. http://www.who.int/water_sanitation_health/dwq/chemicals/fluoride.pdf
  5. http://www.who.int/oral_health/media/en/orh_cdoe_319to321.pdf
  6. http://pppl.depkes.go.id/_asset/_regulasi/53_Permenkes%20492.pdf
Read More
hero brush

Penjahat vs Pahlawan, Kita adalah Sutradaranya

drg. Arfina Arief, MM

Pasukan jahat dan pahlawan di dalam rongga mulut kita

Di dalam rongga mulut kita, akan selalu di huni oleh 2 kelompok ini.

Pasukan jahat terdiri dari bakteri dan sisa makanan dan minuman terutama yang mengandung gula dan karbohidrat (nasi, biskuit, roti, permen, dan lain-lain). Kelompok penjahat akan membentuk rumah di permukaan gigi dalam bentuk plak. Nah, di dalam plak ini bakteri memakan sisa makanan dan menghasilkan asam yang dapat melarutkan mineral gigi dan membentuk lubang pada gigi.

Bila dianalogikan, bakteri memakan sisa makanan di permukaan gigi dan mengasilkan kotoran berupa racun asam, dan tempat dimana racun asam tersebut dilepaskan, maka daerah yang mengenainya akan melepuh dan terjadilah lubang.

Siapa pahlawannya ?

Seperti di dalam film, bila ada tokoh jahat pasti ada tokoh baik yang akan menjadi penyelamat. Nah, penyelamat kita di rongga mulut adalah mineral di dalam air ludah (calcium dan phospat) dan fluor. Dua jagoan ini adalah pahlawan penyelamat yang membuat lubang gigi tidak terjadi.

Jadi ketika bakteri melepaskan asam, dua pahlawan kita ini dengan sigap bekerjasama membasuh permukaan gigi agar mineral gigi yang telah larut bersatu kembali.

Jagoan juga bisa menyerah..

Sayangnya pahlawan yang tidak mati-mati dan tidak akan kalah oleh penjahat hanya ada di cerita. Di dunia nyata, pahlawan pun ada batasnya.

Ketika kita tidak menyikat gigi, maka kita menyimpan banyak sisa makanan di mulut, sehingga ketersediaan makanan bakteri semakin banyak. Dengan demikian bakteri berkembang biak dan jumlahnya menjadi banyak di dalam mulut.

Dengan bertambahnya jumlah bakteri, maka asam yang dihasilkan pun semakin banyak. Sehingga air ludah dan fluor tidak mampu berjuang dalam mengatasi asam, maka mineral gigi pun akan larut dan terjadilah lubang gigi yang bertambah besar.

Anda tahu kapan pertarungan mereka berlangsung di dalam mulut ? Pertarungan ini akan terjadi pada malam hari ketika kita tidur..

Nah, kita adalah sutradara dari pertarungan antara si jahat dan si baik di dalam rongga mulut.

Yuk bantu jagoan kita dengan membersihkan sisa makanan sebelum tidur dengan pasta gigi berfluoride, dan berbagai upaya pemberian fluoride pada permukaan gigi kita. Agar pasukan jahat dapat kita lumpuhkan..

Salam sehat,

Refrensi

http://www.nidcr.nih.gov/oralhealth/OralHealthInformation/ChildrensOralHealth/ToothDecayProcess.htm

http://www.sesamestreet.org/parents/topicsandactivities/toolkits/teeth

Read More
difa1

Praktek ilmu kesehatan pencegahan penyakit, bukti kemajuan suatu negara ?

drg. Widya Apsari Sp.PM

“Penasaran” itu adalah hal yang mendasari saya setiap saya berselancar di internet untuk mencari berbagai penelitian kesehatan gigi dan mulut di luar negeri.

Karena topik minggu ini adalah soal prosedur pencegahan gigi berlubang, maka saya mencari penelitian tentang “Seberapa persen efektifitas pemberian topikal flour dalam mengurangi terjadinya gigi berlubang ?”

Namun bukannya saya menemukan jawaban dari apa yang saya cari, saya terpaku sama satu penelitian dari Morgan dkk tahun 2013 dengan judul Cost-effectiveness models for dental caries prevention programmes among Chilean schoolchildren”

Cost effectiveness ?? Efektifitas biaya ??

Dalam penelitian tersebut diteliti mengenai berapa uang yang bisa dihemat dalam berbagai program pencegahan gigi dan mulut yang dilakukan oleh pemerintah Chile.

Nah, apa patokan dalam mengukur keektifitas biaya ?

Yaitu total biaya untuk menyelenggarakan program pencegahan gigi berlubang dibandingkan dengan harga yang didapat dari tidak terjadinya gigi berlubang selama 6 tahun ke depan. Kemudian perkiraan biaya pengobatan langsung dan biaya kerugian produktivitas akibat gigi berlubang.

Apa saja program pencegahan gigi belubang yang dibandingkan?

Ada fluoridasi melalui garam, fluoridasi melalui air minum, dan pemberian obat kumur mengandung fluor yang dilakukan oleh pemerintah. Dan yang dilakukan oleh individu seperti pasta gigi berfluoride dan pemberian gel mengandung fluor di layanan dokter gigi. Dan hasilnya adalah program fluoridasi melalui garam yang dinilai paling efektif.

Disaat kita masih sibuk dengan carut marut sistem BPJS, orang-orang diluar sana memilirkan sampai segitu detilnya mengenai program pencegahan gigi belubang..

Sebelum anda menyalahkan pemerintah, bukankah seharusnya tugas dokter gigi untuk mengedukasi masyarakat dan pemerintah mengenai hal ini?

Dimulai dari saya, kemudian anda, lalu kita, dan sampai pada kita semua masyarakat Indonesia harus menjadi masyarakat yang cerdas dan sehat, kemudian kita semua akan menghantarkan pemerintahan Indonesia menjadi hebat.

Program kesehatan yang terbaik adalah program pencegahan.. bukan pengobatan

Salam sehat,

Read More
Jika Gigi Berlubang Bisa Dicegah, Maukah Anda Melakukannya ?

Jika Gigi Berlubang Bisa Dicegah, Maukah Anda Melakukannya ?

drg. Dita Firdiana

Tahukah anda bahwa kejadian gigi berlubang pada masyarakat Indonesia adalah berkisar antara 85%-99%.

Jadi bagaimana maksudnya?

Jadi nyaris seluruh masyarakat Indonesia memiliki gigi berlubang. Dan bila anda tidak memiliki gigi berlubang, saya ucapkan selamat karena anda termasuk dalam orang-orang langka.

Nah sekarang, bagi anda yang memiliki gigi berlubang dan sudah ditambal, bagaimana caranya tambalan gigi dapat bertahan selamanya ? bagaimana caranya agar jangan ada lagi gigi lain yang berlubang ? Dan bagi anda yang tidak memiliki gigi berlubang, bagaimana caranya agar kondisi ini dipertahankan sampai seumur hidup anda ?

Jangan anda berpuas hati tambalan gigi bisa bertahan sampai 1-5 tahun. Karena kita harus berupaya untuk membuat tambalan gigi anda bisa bertahan sampai seumur hidup anda.. Nah bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan TOPIKAL FLUORIDASI.

Apa itu topikal fluoridasi ?

Topikal fluoridasi merupakan cara pemberian fluor (dengan dosis lebih tinggi dari pasta gigi) secara topikal atau mengoleskan dipermukaan gigi, dengan tujuan untuk membentukan kembali mineral gigi yang larut akibat proses makan.

Topikal fluoridasi ini diberikan 3 bulan, 6 bulan, sampai 1 tahun sekali tergantung dari tingkatan resiko gigi berlubang masing-masing individu. Makin tinggi resiko gigi berlubang seseorang, aplikasi topikal fluor ini pun harus diberikan lebih sering.

Apakah ini berbahaya ?

Tentu tidak, karena dosis yang diberikan ini dalam batas aman. Dan dalam setiap produk topikal fluoridasi di dokter gigi pasti disertai dengan dosis pemberian sesuai dengan usia pasien.

Bagaimana ini diberikan ?

Prosedurnya sangat sederhana, cukup dioleskan pada permukaan gigi secara merata oleh dokter gigi. Namun proses pengolesan ini harus dilakukan setelah dibersihkan karang giginya.

Perawatan gigi yang paling baik adalah perawatan pencegahan penyakit gigi dan mulut.

Nah, bila anda sudah mengetahui ada prosedur untuk mencegah gigi berlubang, maukah anda melakukannya?

Salam sehat,

Read More
jangan percaya drg

Jangan pernah percaya apa yang dikatakan dokter gigi..

drg. Widya Apsari Sp.PM

Anda terkejut dengan gambar di atas ? Ketika saya membacanya pertama kali pun saya terkejut, sambil berpikir, iya juga  ya..

Saya pikir selama ini dokter gigi terlalu fokus berpikir, belajar, berlatih, dan berkomunikasi kepada pasien tentang bagaimana mengobati gigi yang sakit, bagaimana supaya gigi ditambal seperti gigi aslinya, bagaimana membuat sisa akar bisa dikembalikan menjadi bentuk gigi, dan juga bagaimana caranya gigi putih bersih dan cemerlang.

Mengapa tidak ada dokter gigi yang menyuarakan bagaimana caranya pasien saya tidak ada yg berlubang giginya, agar saya tidak perlu menambal gigi yang lubang, tidak perlu mencabut gigi yang rusak, tidak perlu membuatkan gigi palsu, dan juga bagaimana caranya pasien saya puas dengan gigi aslinya..

Menurut saya dokter itu tidak diciptakan untuk mengobati yang sakit saja, namun tugas utamanya adalah membuat pasien dan masyarakat disekitarnya menjadi sehat dan telindung dari penyakit.

Jadi doa seorang dokter bukan lagi ” Ya Tuhan, berikan rezeki pada hari ini, semoga hari ini pasien sakit giginya banyak…Amin” tapi “Ya Tuhan, semoga pasien saya mengingat bahwa hari ini adalah bulan ke 6 dan waktunya skeling dan topikal fluor, agar saya masih dapat melindungi gigi pasien saya seumur hidup mereka.. Amin”

Ini hanyalah opini saya, boleh setuju dan boleh tidak.. Namun pemikiran ini yang membuat kami di Difa Oral Health Center terus mengedukasi masyarakat Indonesia mengenai  kesehatan rongga mulut, agar tercipta masyarakat Indonesia yang bebas penyakit gigi dan mulut.

Karena tujuan Difa Oral Health Center adalah bukan untuk “mengobati penyakit”, tapi untuk menjaga pasien kami “tetap sehat”.

Salam sehat,

Read More
Yuk kita sama-sama belajar memahami apa itu zat fluoride itu.

Fluor atau Fluoride, Zat Penuh Kontroversi (Bag.1)

Bagi anda yang pernah merasakan sakit gigi, atau anda yang merasakan biaya perawatan gigi yang bolak-balik dan menguras kantong, atau anda memiliki pengalaman dengan anak yang mengalami sakit gigi sehingga menjadi susah makan pasti setuju dengan pertanyaan lebih baik mencegah sakit gigi dan gigi berlubang daripada harus bolak -balik ke dokter gigi.

Anda tidak asing lagi dengan zat fluor atau fluoride yang sering disebut-sebut sebagai zat yang dapat mencegah gigi berlubang. Namun anda juga pasti pernah mendengar atau membaca tentang bahaya fluoride bagi tubuh. terutama anak-anak.

Bahkan beberapa berita secara terang-terangan menyebutkan kita harus hindari makan dan minuman yang mengandung fluor.

Memang apa saja makanan dan minuman yang mengandung fluoride? dan berapa kadarnya? Berapa batas kadar aman bagi tubuh?

Yuk kita sama-sama belajar memahami apa itu zat fluoride itu.

(Penulis : drg. Widya Apsari Sp.PM)

Baca selanjutnya

Read More
Skip to toolbar