Welcome to Difa Oral Health Center

Opening Hours : Selasa-Jumat 14:00-20:00, Sabtu-Minggu 09:00-15:00
  Contact : +62813-1650-6535

All Posts Tagged: HIV

poster acara VCT (2)

Dokter Untuk Semua: Voluntary Counseling and Testing HIV 15 Mei 2016

Apakah selama berperaktek sebagai dokter gigi pernah merasa curiga mengenai jangan-jangan pasien ini HIV?

Sebagai dokter gigi tentu kita sudah dibekali mengetahui gambaran oral dari HIV/AIDS. Dan kita tahu bahwa gambaran oral tertentu mengarahkan pada kemungkinan adanya infeksi HIV pada pasien.

Namun pertanyaannya adalah, bagaimana kita sebagai dokter gigi menyampaikan ke pasien?

Hari Minggu, Tanggal 15 Mei 2015. Pukul 10-16 WIB, di Difa Oral Health Center

Bersama dokter Lusia Sirait, seorang dokter umum yang malang melintang di dunia konseling dan pengobatan HIV dan saat ini menjadi tim Poli HIV di Puskesmas Koja, Dokter gigi Sarah Mersil, dokter gigi spesialis penyakit mulut dan Dosen Universitas Mustopo, dan Suksma Ratri, aktivis ODHA yang sudah malang melintang dalam kegiatan penanggulangan HIV baik di tingkat nasional maupun internasional.

Materi:

1.Gambaran dan penyakit sistemik dari pasien HIV/AIDS – dr. Lusia Sirait

2.Manifestasi oral dari HIV – drg Sarah Mersil Sp.PM

3. Teknik konseling dan testing HIV – Suksma Ratri

4. Simulasi konseling dan testing HIV dan games

Investasi hanya sebesar Rp.300.000,- dan peserta terbatas hanya untuk 10 orang.

Mari menjadi dokter untuk semua kalangan, dan mari membantu pasien dalam mendeteksi HIV melalui pengetahuan anda sebagai dokter gigi..

Read More
quote dr zaenal abidin

Mengapa dokter gigi harus membekali diri dengan pengetahuan tentang HIV?

Program bersama PBB untuk HIV/AIDS (UNAIDS) dan WHO memperkirakan sekitar 4,9 juta orang hidup dengan HIV di Asia pada tahun 2007, termasuk 440.000 orang yang baru terinfeksi pada tahun terakhir. Di wilayah Pasifik diperkirakan 75.000 orang hidup dengan virus ini dengan 14.000 terinfeksi pada tahun 2007. Pada wilayah ini, Papua Nugini memiliki beban penyakit terbesar dengan lebih dari 70% junmlah total dari odha di kawasan Pasifik.

Sebagian besar individu dengan infeksi HIV tidak menyadari status HIV dan datang ke sistem layanan kesehatan pada stadium lanjut, saat respon pengobatan kurang menguntungkan. Mereka datang pada keadaan lanjut oleh karena kurangnya tingkat kesadaran mengenai resiko perorangan terhadap infeksi HIV atau terhalang oleh kekhawatiran terhadap diskriminasi dan sigmatisasi, yang keduanya dapat menghalangi orang-orang untuk menjalani tes. Di sisi lain, dapat pula hilang kesempatan untuk diagnosa dini HIV saat pasien datang kepada tenaga kesehatan yang kurang berpengalaman dengan keadaan klinis umum pada infeksi HIV dalam berbagai stadium penyakitnya.

Deteksi dini infeksi HIV penting untuk berbagai alasan. Konseling dan intervensi dapat diterapkan untuk mencegah penularan HIV yang berlanjut kepada orang lain. Upaya-upaya untuk mengurangi resiko yang dapat memperkuat yaitu penggunaan kondom secara konsisten, menghidari penggunaan jarum suntik bersama-sama, dan menggunakan obat anti retroviral untuk mencegah penularan dari ibu ke bayi. Seorang pasien datang pada stadium dini infeksi HIV dapat dimonitor secara ketat sehingga kombinasi antiretroviral dapat dimulai pada waktu yang tepat untuk mencegah perburukan penyakit.

Dokter gigi dapat berperan dalam upaya deteksi dini infeksi HIV pada pasien melalui bekal pengetahuan keadaan klinis umum maupun ciri klinis pada rongga mulut. Nah sebagai tenaga kesehatan maukah anda menambah pengetahuan mengenai HIV dan turut berpartisipasi dalam program penanggulangan HIV bersama PBB dan WHO?

Sumber: Buku Inikah HIV? Buku Pegangan Petugas Kesehatan, The Australlian Society for HIV Medicine ASHM, 2009

Read More
dokter gigi pasien hiv cover

Dokter Gigi, Pasien HIV, Konseling HIV dan Testing HIV

drg. Widya Apsari Sp.PM

Ini adalah satu pengalaman yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya, ketika saya merujuk seorang pasien untuk tes HIV, dan kemudian pasien tersebut datang kembali dan mengucapkan terimakasih kepada saya.

Hari itu adalah hari minggu, ketika ada seorang pria datang menemui saya karena keluhan pada gusinya. Pria ini berperawakan tegap, muda, dan dengan kemeja santai yang disetrika rapih dan dipadukan dengan jeans dan sepatu kets. Tidak ada beda dengan pria kebanyakan di Jakarta.

Seperti ritual saya dengan pasien lainnya, kami pun saling berjabat tangan dahulu untuk memperkenalkan nama masing-masing. Kemudian beliau mulai bercerita kepada saya mengenai keluhan pada gusi yang sudah dirasa sejak 3 hari belakangan ini. Keluhan yang dirasa adalah sakit dan nyeri yang teramat sangat.

Sepintas terdapat bagian berwarna keabu-abuan pada ujung gingiva interdental papila (bagian gusi berbentuk segitiga pada gusi di antara 2 gigi), dan terlihat ada ulcer pada mukosa pipi (luka menyerupai sariawan pada kulit di bagian dalam pipi) yang menghadap pada bagian yang berwarna abu pada gusi tersebut.

Jujur ini bukan merupakan kali pertama saya melihat lesi (luka) pada gusi semacam ini pada pasien. Sepanjang saya bertugas di RSCM, semasa menempuh pendidikan sebagai dokter gigi spesialis melihat berbagai lesi pada rongga mulut memang sudah hal yang umum saya temukan, termasuk juga kondisi gusi pada pasien ini.

Namun posisi saya saat itu adalah saya masih menjadi dokter yang sedang menempuh pendidikan spesialis, segala keputusan yang saya buat pada pasien  ada di bawah superfisi dokter penanggung jawab pasien. Sedangkan pada saat ini, saya sudah menyandang gelar sebagai Spesiali Penyakit Mulut dibelakang nama saya. Dan pasien ini datang dan membayar saya secara profesional, jadi segala hal yang saya ucapkan dan akan saya lakukan harus se-profesional mungkin.

Lesi pada gusi pasien tersebut merupakan gambaran khas dari kondisi penyakit yang disebut dengan Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG). Umumnya terjadi pada seseorang dengan sistem imun yang rendah, bisa karena malnutrisi maupun karena penyakit  yang menurunkan sistem pertahanan tubuh (imun), seperti leukemia dan juga HIV/AIDS.

Melihat perawakan dan juga pola hidup pasien yang saya ketahui dari sesi tanya jawab, sedikit mustahil bila gambaran ANUG tersebut disebabkan oleh kondisi malnutrisi maupun leukemia.

Berarti kemungkinan penyebab terakhir adalah HIV.

Namun untuk mulai membuka pembicaraan mengenai HIV bagi saya, dan mungkin bagi sebagian besar dokter bukan sesuatu hal yang gampang untuk dilakukan. Walaupun sudah 2 kali mengikuti kursus untuk konseling dan testing HIV, namun pada kondisi “real” tetap saja menjadi sulit dan canggung.  Karena saya harus menemukan alasan tepat mengapa harus cek HIV, dan alasan tepat tersebut terletak pada “faktor resiko” HIV pada pasien.

Kata demi kata yang saya susun dikepala, dan saya ucapkan senatural mungkin, dengan ekspresi wajah yang “lempeng” dibutuhkan dalam melakukan upaya menggiring pasien untuk tes HIV.

Mungkin sebetulnya akan menjadi mudah bila saya langsung memberi obat untuk ANUG dan menyuruh pasien pulang. Namun hal itu tidak saya lakukan.  Saya memilih untuk memutar otak menyusun kata-kata yang halus, enak didengar, dan tidak menyinggung pasien, untuk mencari tahu mengapa sampai ANUG ini dapat terjadi pada gusinya. Karena bila benar ANUG ini disebabkan oleh penurunan sistem imun akibat HIV, maka memberikan obat hanya bersifat menutupi proses penurunan sistem imun yang sedang dibuat oleh HIV yang dapat berakibat lebih parah ke depannya.

Dengan segala keterbatasan komunikasi verbal yang saya miliki, setelah hampir 1 jam kita berbicara akhirnya sampai pada satu titik, pasien setuju untuk melakukan tes HIV.

Namun, apakah saya sudah lega karena sudah mendapat kesediaan untuk melakukan tes HIV?

Belum, setelah itu saya masih berpikir, apakah dia betul mau tes HIV, apakah persetujuan itu dilakukan agar saya senang? dan hanya karena ingin mengakhiri sesi konsultasi dengan saya?

Ternyata kemudian 1 bulan kemudian,  pasien tersebut datang kembali ke saya untuk pembersihan karang gigi. Saya sangat ingat tatapan mata dan wajahnya saat itu lebih berseri, jauh berbeda pada saat pertama kali kita bertemu. Saya kemudian berusaha tidak “kepo” untuk bertanya mengenai bagaimana hasil tes HIV nya.

Di saat saya sudah selesai melakukan pembersihan karang gigi, secara mengejutkan, beliau cerita bahwa hasil tes HIV nya adalah positif, namun dibalik itu, ada mengucapkan terimakasih kepada saya karena saya dapat mendeteksi dini keberadaan HIV pada tubuhnya, sehingga dapat menerima terapi ARV sedini mungkin sebelum terjadi fase penurunan sistem imun yang mungkin membuatnya bisa mencapai fase AIDS bila terlambat dalam deteksi HIV.

Menjadi dokter gigi bukan hanya memeriksa kondisi gigi dan mengobati apa yang dikeluhkan oleh pasien. Namun menulusur dan berusaha mencari tahu mengapa kondisi tersebut terjadi juga perlu dilakukan.

Terimakasih yang tidak terhingga karena bersedia memilih dan mempercayakan keluhannya kepada saya, sehingga memberikan pengalaman hidup yang sangat berharga bagi saya.

Salam sehat selalu dari saya dan seluruh tim Difa Oral Health Center..

Read More
poster tgl 3 april 2

Buka Mata, Buka Hati – Menjadi dokter gigi untuk semua kalangan-

Dear teman-teman doker gigi,
Difa Oral Health Education mempersembahkan:
“Buka Mata, Buka Hati – menjadi dokter gigi untuk semua kalangan-”

Mari membuka mata dan hati kita tentang HIV / ODHA dan menjadi dokter gigi untuk semua kalangan. #KlinikGigiRamahODHA

Minggu, 3 April 2016
pukul 09:00-14:00
Lokasi: Difa Oral Health Center
Jl. Benda Raya no 98G, kemang-ampera, jakarta selatan

Investasi hanya Rp. 150.000 per peserta! (include lunch)

Materi dan workshop:
– Kondisi HIV/AIDS di Indonesia
– Stigma yang di dapat ODHA dalam layanan dokter gigi
– Apa itu HIV/AIDS dan potensi penularan dalam praktek dokter gigi
– Apa yang harus dokter gigi ketahui ketika merawat pasien ODHA

Konfirmasi pembayaran beserta bukti dan Nama Lengkap, email dan nomer Whatsapp ke +6281316506535 (difaOHC) (WA/SMS Only) atau LINE @difaohc (pake @)

Dapatkan bonus Cairan disinfektan oneMed

Read More
HIV selogan

Bila Saya Dokter Gigi dan Pasien Saya Adalah ODHA (1)

drg. Widya Apsari Sp.PM

Satu cerita, ada salah satu dosen dokter gigi berjenis kelamin laki-laki menolak membimbing mahasiswa Co-ass dalam menambal gigi pasien, karena pasien tersebut adalah ODHA (orang yang hidup dengan HIV/AIDS).  Dosen tersebut beralasan karena belum menikah dan belum punya anak.

Apa yang terlintas dipikiran anda pertama kali setelah membaca cerita tersebut?

Ketika saya mendengar teman saya bercerita tentang kejadian tersebut, yang pertama kali terlintas di pikitan saya adalah “emang dokter itu mau ngapain sama pasiennya?”

Nah coba kita telusuri apakah benar pernyataan dokter tersebut, apakah ada korelasinya antara menolak menangani pasien ODHA dalam menambal gigi dan alasan belum menikah dan belum punya anak..

HIV terdapat dalam sebagian cairan tubuh, yaitu:

1. Darah

2. Air mani

3. Cairan vagina

4. Air susu ibu (ASI)

Penularan HIV dapat melalui :

1. Berhubungan seks yang memungkinkan darah, air mani, atau cairan vagina dari orang terinfeksi HIV masuk ke aliran darah orang yang belum terinfeksi (yaitu hubungan seks yang dilakukan tanpa kondom melalui vagina atau dubur, juga melalui mulut, walau dengan kemungkinan lebih kecil)

2. Memakai jarum suntik secara bergantian dengan orang lain yang terinfeksi HIV

3. Menerima transfusi darah dari donor yang terinfeksi HIV

4. Dari ibu terinfeksi HIV ke bayi dalam kandungan, waktu melahirkan, dan jika menyusui sendiri.

Nah, setelah anda tahu dimana virus HIV itu berada dan tahu bagaimana penularan HIV tersebut, apakah anda sudah mengetahui alasan saya kenapa saya berpikir “Emang dokter itu mau ngapain sama pasiennya?”

Anda tidak akan tahu penyakit yang dimiliki oleh pasien bila pasien tersebut tidak berterus terang kepada anda. Dengan pasien jujur dan berterus terang mengenai penyakit yang dimilikinya, berarti pasien tersebut berbaik hati ingin melindungi agar anda dan pasien lainnya agar tidak tertular.

PELAJARI penyakitnya, KENALI orangnya, dan LAYANI dengan seperuh hati

(Refrensi : www.spiritia.or.id, http://spiritia.or.id/dokumen/buku-hidup.pdf)

Read More
dokter gigi dan HIV

Bila saya ODHA dan saya harus ke dokter gigi (1)

Permasalahan stigma dan diskriminasi orang yang hidup dengan HIV (ODHA) di praktek dokter gigi merupakan permasalahan yang dialami banyak negara di dunia. Kondisi ini menyebabkan ODHA cenderung tidak terbuka terhadap status kesehatannya kepada dokter gigi karena takut ditolak.

Apa perlunya harus terbuka kepada dokter gigi mengenai status kesehatan ?

Human Immunodeficiency Virus atau HIV merupakan suatu infeksi virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, yang ditunjukkan dengan penurunan jumlah CD4. Sehingga pada ODHA memiliki kekebalan tubuh yang lebih rendah atau lebih rentan terkena infeksi penyakit dari pada yang bukan ODHA. Prinsip ini yang sebetulnya harus dipegang oleh tenaga kesehatan terutama dokter gigi dalam menangani pasien ODHA.

Beberapa tindakan oleh dokter gigi seperti pembersihan karang gigi dan pencabutan gigi, merupakan tindakan yang dapat digolongkan dalam tindakan invasif (tindakan medis yang mempengaruhi keutuhan jaringan tubuh pasien). Tindakan invasif perawatan di dokter gigi pada pasien ODHA dapat beresiko menimbulkan infeksi pasca tindakan bila dilakukan pada saat jumlah CD4 pasien ODHA sedang rendah (dibawah 200).

Penting bagi dokter gigi untuk mengetahui status kesehatan pada pasien ODHA agar dapat merawat pasien dengan baik, dan juga dapat melindungi pasien dari terjadinya infeksi dan efek samping lain pasca tindakan.

Selain itu, obat anti retroviral (ARV) yang dikonsumsi rutin oleh ODHA juga seharusnya menjadi hal yang patut diketahui oleh dokter gigi, sebagai pertimbangan dalam meresepkan obat. Beberapa obat seperti anti nyeri dapat menimbulkan interaksi silang dengan ARV yang dikonsumsi oleh ODHA.

Obat ARV seperti efaviren dan etravirin dapat menyebabkan peningkatan efek dari obat anti nyeri seperti asam mefenamat, diklofenak dan ibuprofen yang lazim diberikan oleh dokter gigi dalam mengatasi sakit gigi. Selain itu kombinasi ARV tenofovir dengan asam mefenamat dan diklofenak dapat menyebabkan peningkatan efek obat ARV di dalam tubuh dan menyebabkan kerusakan ginjal bila dikomsumsi bersamaan dalam jangka waktu panjang. (untuk lebih lengkap dapat dilihat di sini )

Oleh karena itu menjadi penting bagi ODHA untuk mengetahui status kesehatan diri sendiri dan jenis obat ARV yang dikonsumsi agar dapat membantu dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik dan aman.

Salam sehat,

Penulis : drg. Widya Apsari Sp.PM

Refrensi:

  1. http://www.hiv-druginteractions.org/PrintableCharts.aspx
  2. http://www.dentalcare.com/media/en-us/education/ce70/ce70.pdf

 

Read More
saliva

Air Ludah, Cairan Tubuh yang Terabaikan..

Air ludah, atau saliva dalam bahasa kedokteran merupakan cairan tubuh yang sering dianggap menjijikkan. Namun tahukah bahwa air ludah atau saliva ini menyimpan berbagai rahasia kesehatan tubuh kita, terutama mengenai diagnosa berbagai penyakit, seperti pada infeksi HIV

Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin air ludah dapat mendeteksi HIV ?

Penggunaan air ludah untuk screening dan diagnosis infeksi HIV sudah dikenal sejak tahun 1986. Pemilihan air ludah sebagai media screening dan diagnosis suatu penyakit didasari karena pertimbangan kemudahan dan keamanan dalam mendapatkan sample.

Kandungan apa saja yang ada di dalam air ludah sehingga membuat dapat mendiagnosis infeksi HIV?

Saliva atau air ludah merupakan cairan tubuh yang kompleks dan unik, mengandung berbagai mineral, hormon, dan juga antibodi tubuh. Nah, dalam hubungannya dengan infeksi HIV, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan telah membawa kemampuan mendeteksi antibodi HIV di dalam air ludah yang kemudian dimanfaatkan sebagai salah satu cara diagnosis dini infeksi HIV.

Bila air ludah dapat mendeteksi keberadaan HIV, maka HIV pun dapat tertular melalui air ludah ?

Seperti yang tadi disebutkan diawal, air ludah merupakan sample terbaik dalam mendiagnosa suatu penyakit karena faktor akses yang mudah dan keamanan. Dari pada prosedur pengambilan darah yang beresiko menyebabkan penularan infeksi karena tertusuk jarum suntik, air ludah dipandang lebih aman karena tidak memiliki resiko penularan HIV melalui air ludah.

Semoga kedepannya penelitian mengenai air ludah dalam diagnosis berbagai penyakit dapat dihasilkan oleh peneliti-peneliti dari Indonesia.

Salam Sehat,

(drg. Widya Apsari Sp.PM)

Refrensi:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15566769

http://www.ada.org/~/media/ADA/Science%20and%20Research/Files/saliva_diagnostics.ashx

Read More
IMG_3570

Tes HIV di Dokter Gigi?

Selama ini dokter gigi selalu identik dengan senyum indah dan gigi bagus. Namun terkadang dokter gigi lupa bahwa ruang lingkup dari dokter gigi bukan hanya gigi semata, tapi juga berbagai bagian rongga mulut seperti gusi, bibir, langit-langit, bahkan air ludah.

Saat ini berbagai penelitian di luar negri sudah melibatkan dokter gigi dalam pemeliharaan kesehatan tubuh dan juga diagnosis penyakit tubuh seperti HIV.

Bahkan bahwa tes HIV yang selama ini identik dengan menggunakan darah dapat dilakukan dengan cairan air ludah. Tes HIV dengan menggunakan air ludah dipandang lebih mudah, sederhana, dan tanpa rasa sakit, namun dengan keakuratan yang sama dengan menggunakan darah.

Nah, inovasi pemeriksaan HIV dengan air ludah ini menjadi sangat berguna dan dapat mendukung upaya pemerintah dalam mengajak sebanyak-banyaknya masyarakat untuk melakukan tes HIV dan mengenal status HIV nya.

Tadi siang tim Difa OHC berkesempatan mencoba tes HIV dengan menggunakan air ludah yang bernama ChemBio yang dibawa oleh drg. Theodorus Hedwin Sp.PM dari Amerika.

Semoga dalam waktu dekat Chembio ini dapat masuk ke Indonesia dan dapat digunakan oleh masyarakat Indonesia.. Amin

Read More
IMG_0453

Difa Oral Health Center di Program Sapa Pagi KompasTV

Hari Senin, tanggal 30 November 2015 merupakan hari yang tidak dapat kami lupakan sepajang berdirinya Difa Oral Health Center.

Secara tidak terduga kami mendapat telpon dari Kompas TV, bahwa Kompas TV mengudang kami sebagai salah satu tamu dalam program Sapa Pagi  dalam rangka mempertingati Hari AIDS Sedunia, tanggal 1 Desember. Tanpa berpikir panjang kami menerima tawaran dari Kompas TV tersebut dengan senang hati. Namun, mengapa kami?

Mengapa Difa Oral Health Center terpilih menjadi tamu dalam program Sapa Pagi ?

Bisa dikatakan Difa Oral Center merupakan klinik dokter gigi yang pada saat itu bahkan belum genap berumur 1 tahun, tapi kenapa kami terpilih? Itu merupakan pertanyaan yang terus ada di dalam kepala kami setelah mendapat telpon dari Kompas TV. Namun pertanyaan tersebut terjawab setelah dari pihak Kompas TV mengatakan bahwa Difa Oral Health Center terpilih karena konsep dari klinik gigi ramah ODHA yang gencar kami sosialisasikan melalui web dan juga sosial media. Dan hal ini menjadi sesuai dengan topik memperingati Hari AIDS Sedunia.

IMG_0443

Difa Oral Health Center sebagai pelopor klinik gigi non diskriminasi dan stigma

Pada tayangan tersebut dijelaskan oleh drg Widya Apsari bahwa melalui tagline Difa OHC sebagai #KlinikGigiRamahOdha, selain untuk memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang layak bagi teman-teman ODHA, juga untuk mengedukasi masyarakat mengenai adanya standar universal precaution dalam  kontrol infeksi pada layanan kesehatan. Juga mengedukasi perlunya memberitahukan riwayat kesehatan tubuh bukan hanya pada HIV saja, namun berbagai penyakit seperti TBC, hepatitis, penyakit jantung, diabetes, asma dan lain-lain kepada dokter gigi, agar dokter gigi dapat merawat kesehatan gigi dan mulut secara optimal dan tepat.

Dengan kita saling terbuka mengenai status kesehatan kita, kita membantu dokter dalam memberikan layanan kesehatan yang baik. Dan masing-masing dapat saling melindungi dalam penularan penyakit antara dokter-pasien, pasien-dokter dan juga antar pasien.

Terimakasih kepada Tim Sapa Pagi Kompas TV atas kepercayaan terhadap kami sebagai bintang tamu.. :))

Read More
Pentingnya Mengetahui Gambaran Infeksi HIV di dalam Rongga Mulut

Pentingnya Mengetahui Gambaran Infeksi HIV di dalam Rongga Mulut

Sejak human immunodeficiency virus (HIV) pertama kali di’temukan’ pada tahun 1981, berbagai kondisi di dalam rongga mulut yang terkait dengan penyakit HIV telah dipelajari.

Penelitian telah menunjukkan bahwa 70% -90% dari orang yang terinfeksi HIV akan memiliki setidaknya satu manifestasi di dalam mulut. Studi dari kedokteran gigi menunjukkan bahwa adanya lesi di dalam rongga mulut yang berkaitan dengan HIV menjadi bahan pertimbangan untuk:
• Indikator klinis infeksi HIV pada orang yang sehat, yang belum terdiagnosis;
• Gambaran klinis awal infeksi HIV;
• Penanda klinis untuk klasifikasi dan pemetaan stadium HIV; dan
• Untuk memprediksi perkembangan HIV di dalam tubuh.

Di negara maju, perkembangan HIV dipantau melalui pemeriksaan laboratorium dengan melihat: limfosit CD4 + dan viral load HIV. Sayangnya, tes ini tidak banyak tersedia di negara berkembang. Kalaupun ada, biasanya biaya-nya tidak murah.

Sehingga adanya temuan klinis lainnya penting untuk memandu dokter mengevaluasi dan mengobati HIV. Lalu karena rongga mulut mudah diakses pada pemeriksaan klinis, maka lesi di dalam rongga mulut yang terkait dengan infeksi HIV dapat digunakan sebagai penanda klinis perkembangan penyakit HIV.

Pada tahun 1996, muncul terapi antiretroviral (ARV) yang sangat mengurangi tingkat kematian dan ‘kondisi sakit’ pasien terinfeksi HIV yang memiliki akses terhadap pengobatan tersebut. Tingkat infeksi oportunistik pada ODHA pun telah menurun, termasuk yang terkait HIV lesi didalam rongga mulut.

Evaluasi kesehatan gigi dan mulut adalah bagian penting dari perawatan kesehatan rutin. Pemeriksaan rongga mulut yang menyeluruh penting pada setiap tahap dalam pengelolaan infeksi HIV. Hal ini juga maksudkan untuk mendorong kolaborasi antara praktisi medis umum, dokter khusus penyakit menular, dokter gigi umum dan anak, dan patologi oral untuk memberikan perawatan terbaik bagi pasien yang terinfeksi HIV.

Jadi. kenapa sih perawatan kesehatan rongga mulut adalah bagian penting dari perawatan primer HIV?

Karena manifestasi di dalam rongga mulut adalah tanda-klinis yang umum dijumpai pada ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) baik dewasa maupun anak-anak. Sehingga diagnosis dini dan pengelolaan gambaran tersebut di dalam rongga mulut penting untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup ODHA.

Source: BIPAI: HIV-Curriculum, picture taken from downtren.com

Read More
Skip to toolbar