Welcome to Difa Oral Health Center

Opening Hours : Selasa-Jumat 14:00-20:00, Sabtu-Minggu 09:00-15:00
  Contact : +62813-1650-6535

All Posts Tagged: Indonesia Sehat

poster difaEdu anak

Yuk ikut ambil bagian dalam mewujudkan anak-anak Indonesia sehat

Hai teman-teman semua..

Masih inget gak sama artikel kami yang berjudul “Jangan pernah percaya apa yang dikatakan dokter gigi” ? Belum pernah baca? Yuk baca dulu di sini.. 

Artikel tersebut berisikan kegalauan kami di Difa Oral Health Center soal pola pendidikan dokter gigi dan juga profesi dokter gigi saat ini..

Perasaan galau itu kan gak boleh terlalu berlarut-larut ya. Makanya demi menjadi dokter gigi turut berkontribusi dalam menyehatkan masyarakat Indonesia maka kita membuat 2 program yaitu #skeling123rbseumurhidup dan program kurikulum kesehatan gigi bagi anak usia TK dan SD.

Untuk program #skeling123rbseumurhidup bisa dibaca di sini..

Nah, program kurikulum kesehatan gigi itu apa?

Teman2 tahu gak sih, kalau kondisi rongga mulut kamu itu mempengaruhi kualitas hidup kita sebagai manusia. Adanya sakit gigi selain menyebabkan penurunan produktivitas pada orang dewasa, ternyata mempengaruhi prestasi anak-anak disekolah loh.

Seperti pada penelitian dari Jacson dkk (2011) berjudul Impact of Poor Oral Health on Children’s School Attendance and Performance http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3222359/ yang menunnjukkan anak-anak dengan kondisi kesehatan gigi yang buruk mengalami kecenderungan penurunan prestasi disekolah 3 kali lipat, yg terlihat dengan peningkatan absesnsi dan penurunan konsentrasi disekolah dibandingkan dengan anak-anak dengan kesehatan gigi yang baik.

Selama ini solusi dari umumnya dokter gigi adalah menambal dan mencabut gigi yang rusak, padahal menurut kita itu sama sekali bukan solusi.

Solusi yang paling tepat adalah bagaimana kami sebagai dokter gigi dan kalian sebagai masyarakat umum saling bekerjasama untuk membuat jangan sampai anak-anak Indonesia yang memiliki gigi berlubang.

Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan gigi sedini mungkin.

Makanya Difa Oral Health Center membuat satu kurikulum kesehatan gigi yang menyenangkan untuk anak-anak. Dimana anak-anak bisa bermain dan belajar mengenai kesehatan gigi dengan cara yang menyenangkan.

Tapi terkadang apa yang baik menurut dokter gigi, belum tentu dapat diterima oleh masyarakat umum. Jadi kami mengajak teman-teman semuanya dalam partisipasinya untuk menyempurnakan kurikulum kesehatan gigi dan mulut DifaEdu untuk anak-anak yang sudah kami buat ini.

Mohon partisipasinya dengan mengirimkan data diri dan latar belakang kalian (misalnya ibu dengan 2 anak, atau guru sekolah, atau karyawan dengan 1 anak, bahkan dokter gigi juga boleh ikutan kok) ke email difaohc.edu@gmail.com. Nanti kami akan mengirimkan ringkasan kurikulum difaEdu yang sudah kami buat, dan mohon kirimkan feedback ke kami dengan menuliskan kritik, saran, pendapat, usulan, atau apaa aja ke kami.

Partisipasi teman-teman sangat membantu anak-anak Indonesia untuk menjadi sehat dan berprestasi, dan mari menjadi bagian dari perubahan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Indonesia.

Ditunggu partisipasinya ya \o/

Read More
Untitled design (1)

Liputan Acara Pasien Cerdas 21 Februari 2016

Pada tanggal 21 Februari 2016 kemarin Difa Oral Health Center mengadakan acara ngobrol seru “Menjadi Pasien Cerdas menuju Indonesia Bebas Penyakit Gigi dan Mulut”.

Acara ini merupakan acara ke 5 yang kita adain loh..

Berbeda dari acara sharing session sebelumnya yang selalu ada topik, kali ini lebih didominasi mengenai diskusi antara Difa Oral Health Center dan peserta sharing session.

Berbagai diskusi dilakukan mulai dari sharing pengalaman pribadi ketika ke dokter, perilaku dokter gigi di ruang praktek yang menyebalkan, ilmu kesehatan gigi mulut yang terbaru, apa yang diharapkan dari masyarakat terhadap dokter gigi, apa yang harus ditanyakan kepada dokter gigi sebagai pasien cerdas, sampai tips mengenai menjaga gigi bebas dari lubang.

Acara kali in bikin semua yang hadir bertambah sehat. Selain karena ngomongin kesehatan gigi dan mulut, juga karena acara ngobrolnya ditemenin pake cemilan buah sehat dari Sunpride.

Jadi penasaran pengen ikutan acara kita selanjutnya? Follow twitter, facebook, dan instagram, dan subcribe website kami untuk dapetin informasi terbaru dan terupdate dari kami ya..

Sampai jumpa di acara Difa Oral Health Center selanjutnya..

Sumary acara 21 feb

 

Read More
poster acara 21 feb

Yuk menjadi #PasienCerdas bersama Difa Oral Health Center

Hai.. teman-teman ikutan event Difa OHC terbaru yuk

Berbeda dari acara sharing session yang sebelumnya udah pernah kita adain, kali ini Difa Oral Health Center mengajak teman-teman semua untuk menjadi bagian dari generasi sehat dan pasien cerdas.

Kita bakal ngadain acara ngobrol santai dan seru seputar kesehatan gigi dan mulut bersama kami Difa Oral Health Center..

Kita ngobrolin apa aja tentang pekerjaan dokter gigi, tahapan perawatan gigi dan mulut yang ideal, mitos dan fakta seputar kesehatan gigi dan mulut, dan hal apa saja yang menjadi ganjalan di hati kamu soal dokter gigi dan perawatan gigi dan mulut bisa ditanyakan di acara ini..

Bayar?

Gratis dong.. teman-teman boleh ajak siapa saja buat di acara ini.. Dan dijamin teman-teman pasti bertambah sehat karena ara ngobrolnya bakal ditemenin sama buah sehat dari Sunpride..

Oiya buat teman-teman yang mau hadir dimohon membawa tumbler atau tempat minum masing-masing ya, karena ada sesi minum smoothies buah segar dari Sunpride juga.

Pelit banget sih gak modal gelas sekali pakai buang ?!

Bukannya pelit sih, tapikan kita sebagai generasi muda, udah saatnya memperhatikan kelestarian bumi kita. HIDUP GO GREEN.. 🙂

Satu lagi yg harus temen-temen tahu.. Siapkan uang kecil ya, karena selain acara ngobrol seru ini, ada garage sale untuk charity \o/

Dan yang terakhir, Siapkan hati kamu jangan sampai kamu terkejut. Karena kami dari Difa Oral Health Center mau bagi-bagi perawatan skeling dan topikal fluoridasi gratis bagi 3 orang beruntung..

Seru banget kan acaranya…

Kapan?

Catet tanggalnya yaaa.. hari minggu, tgl 21 Februari 2016, pukul 14-17

Yuk kita ambil bagian dalam gerakan #PasienCerdas menuju #IndonesiaSehat #IndoensiaBebasPenyakitGigiMulut #IndonesiaBebasGigiBerlubang

 

Bekerjasama dengan:

sunpride logo

Read More
angsamerah title

Kesehatan gigi dan mulut se-TABU kesehatan reproduksi ?

drg. Widya Apsari Sp.PM

Mungkin anda berpikiran apa hubungannya kesehatan gigi dan mulut dengan kesehatan reproduksi?

Anda merasa dua hal ini adalah hal yang sangat bertolak belakang? Apakah anda masih menganggap klinik gigi dan mulut itu lebih memiliki kemiripan dengan klinik kecantikan daripada klinik reproduksi?

Saya tidak akan menyalahkan opini anda. Tapi menurut saya tidak demikian.. Mengapa?

Privasi

Beberapa masyarakat masih menganggap rongga mulut merupakan bagian tubuh yang bersifat pribadi dan privasi. Merasa yang boleh melihat kondisi rongga mulut adalah hanya diri sendiri. Adanya rasa malu ketika membuka mulut lebar-lebar menunjukkan rongga mulut merupakan bagian tubuh penuh privasi.

Nah, bagaimana dengan orgam reproduksi? Tentu  tidak usah kita bahas lagi, sedari kecil kita sudah diajari bahwa organ reproduksi adalah bagian tubuh yg tidak pantas untuk diperlihatkan. Sampai bagian tubuh yang berhubungan dengan organ reproduksi ini dinamakan organ intim bukan?

Permasalahan dengan aroma tidak sedap

Baik rongga mulut maupun organ reproduksi sama-sama memiliki masalah dengan “bau”. Dan berlomba-lomba masyarakat maupun perusahaan membuat produk “Pewangi” baik untuk organ reproduksi maupun rongga mulut.

Satu gejala banyak kemungkinan penyakit

Rongga mulut dan organ reproduksi sama-sama memiliki rahasia tersembunyi. Contohnya keluhan sariawan. Apakah sariawan adalah sekedar sariawan? Mayoritas dari keluhan sariawan dapat menjadi penanda penyakit lain pada tubuh anda seperti alergi, infeksi virus herpes, kanker mulut, atau sariawan yg anda keluhkan bisa jadi tampilan penyakit menulat seksual (PMS) pada rongga mulut.

Hal yang sama juga pada keluhan keputihan pada organ reproduksi. Keputihan dapat dianggap normal, sampai akibat infeksi bakteri, maupun dapat menjadi suatu gejala kanker serviks.

Do It Your Self

Mungkin ini terdengar ekstrim, tp menurut saya dalam mengobati keluhan baik pada rongga mulut maupun organ reproduksi, masyarakat kita cenderung berani coba-coba.

Mengapa? Karena sama-sama malu atau malas berobat, takut ketahuan penyakitnya apa, dan takut mahal. Tapi kalau sudah parah, pasti berobat. Kalau sudah merasa baikan, tidak akan kembali lagi untuk kontrol dan melanjutkan pengobatan. Jadi selagi masih bisa pergi ke toko obat dan membeli obat sendiri, mengapa harus saya pergi ke dokter?

Contohnya, keluhan bau mulut yang diatasi dengan obat kumur, bau pada organ intim diatasi dengan cairan pembersih organ intim. Padahal keluhan “bau” tersebut dapat teratasi dengan cara tersebut? Belum tentu..

Mungkin karena faktor rongga mulut dan organ reproduksi ini dianggap “urusan pribadi” maka hal yang berkaitan dengan pengobatan pun dianggap sebagai urusan pribadi juga

Mau sampai kapan kita terjebak dengan stigma ini? Yuk saatnya kita berubah..

Berani memeriksakan dan sadar akan kesehatan gigi, mulut dan organ reproduksi itu keren..

 

Spesial untuk anda dari Klinik/Yayasan Angsamerah

1510_Promo Poster_Difa-Angsamerah_ref

*untuk keterangan lebih lengkap hubungi kami.

Read More
43288540_s

Harus ya ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali ?

drg. Dita Firdiana

Pasti kita sering mendengar selogan yang mengajak kita melalukan kunjungan rutin ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali untuk kesehatan gigi dan mulut..

Nah, sekarang percayakah anda bahwa kunjungan rutin ke dokter gigi minimal setiap 6 bulan sekali dapat melindungi kesehatan gigi dan mulut anda ? Saya percaya masih banyak masyarakat Indonesia yang menganggap ajakan untuk kunjungan rutin ke dokter gigi sebagai bagian dari strategi jualan dari dokter gigi..

ADA

American Dental Association (ADA) pada tahun 2013 mengeluarkan rekomendasi untuk mengunjungi dokter gigi secara teratur dengan intervalnya ditentukan oleh dokter gigi, untuk melindungi kesehatan gigi dan mulut. Rekomendasi ini berdasarkan studi baru yang diterbitkan oleh Journal of Dental Research berjudul “Patient Stratification for Preventive Care in Dentistry”

Dalam penelitian ini, menjelajahi hubungan antara kondisi gigi secara jangka panjang dan frekuensi kunjungan untuk pencegahan gigi berlubang pada orang dewasa, dengan dan tanpa tiga faktor risiko untuk penyakit periodontal, yaitu merokok, diabetes dan interleukin variasi genetik -1.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor risiko individu membantu untuk menentukan frekuensi pembersihan yang dibutuhkan per tahun untuk membantu mencegah penyakit periodontal.

Berdasarkan analisis data, peneliti berspekulasi bahwa pasien berisiko tinggi kemungkinan akan mendapat manfaat dari kunjungan yang lebih sering gigi, sementara pasien berisiko rendah dapat melihat manfaat yang sama dari satu kali kunjungan per tahun.

Sehingga ADA mendorong orang-orang untuk bekerja sama dengan dokter gigi mereka untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko potensial yang akan menentukan kebutuhan dan frekuensi kunjungan tindak lanjut untuk meningkatkan hasil perawatan pencegahan.

Dengan adanya rekomendasi dari ADA ini, apakah anda masih menganggap kunjungan rutin ke dokter gigi sebagai hal yang mengada-ngada ?

Sumber:

http://www.ada.org/en/press-room/news-releases/2013-archive/june/american-dental-association-statement-on-regular-dental-visits

 

Read More
difa1

Praktek ilmu kesehatan pencegahan penyakit, bukti kemajuan suatu negara ?

drg. Widya Apsari Sp.PM

“Penasaran” itu adalah hal yang mendasari saya setiap saya berselancar di internet untuk mencari berbagai penelitian kesehatan gigi dan mulut di luar negeri.

Karena topik minggu ini adalah soal prosedur pencegahan gigi berlubang, maka saya mencari penelitian tentang “Seberapa persen efektifitas pemberian topikal flour dalam mengurangi terjadinya gigi berlubang ?”

Namun bukannya saya menemukan jawaban dari apa yang saya cari, saya terpaku sama satu penelitian dari Morgan dkk tahun 2013 dengan judul Cost-effectiveness models for dental caries prevention programmes among Chilean schoolchildren”

Cost effectiveness ?? Efektifitas biaya ??

Dalam penelitian tersebut diteliti mengenai berapa uang yang bisa dihemat dalam berbagai program pencegahan gigi dan mulut yang dilakukan oleh pemerintah Chile.

Nah, apa patokan dalam mengukur keektifitas biaya ?

Yaitu total biaya untuk menyelenggarakan program pencegahan gigi berlubang dibandingkan dengan harga yang didapat dari tidak terjadinya gigi berlubang selama 6 tahun ke depan. Kemudian perkiraan biaya pengobatan langsung dan biaya kerugian produktivitas akibat gigi berlubang.

Apa saja program pencegahan gigi belubang yang dibandingkan?

Ada fluoridasi melalui garam, fluoridasi melalui air minum, dan pemberian obat kumur mengandung fluor yang dilakukan oleh pemerintah. Dan yang dilakukan oleh individu seperti pasta gigi berfluoride dan pemberian gel mengandung fluor di layanan dokter gigi. Dan hasilnya adalah program fluoridasi melalui garam yang dinilai paling efektif.

Disaat kita masih sibuk dengan carut marut sistem BPJS, orang-orang diluar sana memilirkan sampai segitu detilnya mengenai program pencegahan gigi belubang..

Sebelum anda menyalahkan pemerintah, bukankah seharusnya tugas dokter gigi untuk mengedukasi masyarakat dan pemerintah mengenai hal ini?

Dimulai dari saya, kemudian anda, lalu kita, dan sampai pada kita semua masyarakat Indonesia harus menjadi masyarakat yang cerdas dan sehat, kemudian kita semua akan menghantarkan pemerintahan Indonesia menjadi hebat.

Program kesehatan yang terbaik adalah program pencegahan.. bukan pengobatan

Salam sehat,

Read More
35130210_m

Jadikan kebiasaan menyikat gigi malam hari sebagai investasi kesehatan anda

drg. Miranda Adriani

Bagi kebanyakan orang, menyikat gigi di pagi hari akan terasa lebih berguna. Karena menyikat gigi pada pagi hari akan menghilangkan bau mulut dan rasa tidak enak pada mulut saat bangun pagi, sehingga nafas terasa lebih segar.

Namun tahukah anda, menyikat gigi di pagi hari juga membantu membersihkan sisa – sisa plak yang ada di dalam mulut.

Bagaimana dengan menyikat gigi malam sebelum tidur?

Banyak alasan yang membuat kita tidak menggosok gigi di malam hari. Bisa karena lupa, ketiduran, capek, atau memang merasa menyikat gigi di malam hari bukan merupakan suatu kewajiban.

Nah mulai sekarang, kebiasaan tersebut sebaiknya dihilangkan ya, karena sama seperti menyikat gigi di pagi hari, menyikat gigi di malam hari sangat penting untuk kesehatan gigi dan mulut. Gak percaya?

Apa yang terjadi di dalam rongga mulut di malam hari saat kita tidur?

Saat kita tidur, produksi saliva (air liur) akan menurun. Saliva merupakan salah satu bentuk pertahanan  dari tubuh untuk melawan bakteri dalam mulut dan juga menghilangkan plak.

Kondisi saliva yang berkurang dalam mulut ketika tidur ini merupakan lingkungan yang menguntungkan bagi bakteri penyebab gigi berlubang.

Pada kondisi kita tidur, bakteri menjadi lebih “aktif”  dan berkembang biak dengan bebas. Ketika disela-sela gigi kita terdapat sisa makanan, sisa makanan di gigi ini lah yang akan menjadi sumber energi untuk bakter dalam melakukan aktifitas berkembang biak dan memproduksi asam demi menghancurkan gigi dan gusi kita.

Gigi itu anugrah dari Tuhan yang wajib kita rawat.jadi biasakan menyikat gigi tepat sebelum tidur untuk membantu menghilangkan sisa – sisa plak setelah makan malam dan plak yang sudah “menempel” seharian. Sehingga bakteri tidak dapat berkembang biak untuk menghancurkan gigi kita..

Jadi, mulai sekarang kita tidak boleh melupakan sikat gigi di malam hari ya! Juga tidak boleh “cheating” hanya dengan berkumur saja, karena berkumur tidak cukup untuk membersihkan plak.

Menyikat gigi dengan rutin dan di waktu dan cara yang tepat akan mengurangi terjadi resiko gigi berlubang, dan membuat mulut kita merasa lebih segar, bersih dan kita menjadi lebih percaya diri.

Salam Sehat,

Sumber:

http://www.worldoralhealthday.com/wp-content/uploads/2014/03/FDIWhitePaper_OralHealthWorldwide.pdf

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16451540

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21356014

http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/egigi/article/view/6406

Read More
Visi dan Misi

Menyikat gigi sebagai bagian dari kesehatan tubuh

drg. Miranda Adriani

Waktu dan rutinitas menyikat gigi pada setiap orang bisa berbeda – beda. Bisa di pagi hari saja, pagi dan sore hari, pagi dan malam, atau bahkan hanya saat mandi.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, 76,6% masyarakat Indonesia  menyikat gigi pada saat mandi pagi maupun mandi sore, yaitu sejumlah 76,6%.

Organisasi dokter gigi dunia (FDI) merekomendasikan waktu menyikat gigi yang direkomendasikan yaitu dua kali sehari, yaitu pagi dan malam sebelum tidur. Bisa dibayangkan kan, berarti lebih dari setengah penduduk Indonesia memiliki pola waktu menyikat gigi yang salah.

Berbagai penelitian telah membuktikan menyikat gigi 2 kali sehari, pagi dan sebelum tidur mampu menurunkan tingkat terjadinya gigi berlubang dan juga ternyata dapat meningkatkan kesehatan gusi. Jadi intinya menyikat gigi itu dapat meningkatkan kesehatan rongga mulut kita.

Kondisi kesehatan rongga mulut merupakan cermin kesehatan tubuh kita. Bagaimana mencapai kesehatan rongga mulut? Cukup mudah biasakan menyikat gigi 2 kali sehari, pagi dan sebelum tidur. Sangat mudah bukan ?

Salam Sehat

Refrensi

http://www.worldoralhealthday.com/wp-content/uploads/2014/03/FDIWhitePaper_OralHealthWorldwide.pdf

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16451540

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21356014

http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/egigi/article/view/6406

Read More
fluor

Fluor atau Fluoride, Zat Penuh Kontroversi (Bag.3-Habis)..

Jika memang fluoride berguna untuk melindungi terjadinya gigi berlubang, mengapa masih banyak kelompok yang anti terhadap fluoride ini?

Kita semua tentu setuju dengan pernyataan segala sesuatu yang berlebihan menjadi tidak baik. Nah, hal tersebut juga berlaku untuk asupan fluoride dalam tubuh.

Berapa kadar fluoride yang aman untuk tubuh ?

Air Kemasan

Kandungan fluoride pada air kemasan di Indoensia mengikuti atutan WHO (2011) dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum, yaitu tidak lebih dari 1,5 mg/l.

Bidang Kedokteran Gigi

Untuk penggunaan di kedokteran gigi, konsentrasi fluoride rendah adalah sebanyak 0.25 – 1 mg per tablet; 1000 – 1500 mg per kg pada pasta gigi, atau konsentrasi fluoride tinggi sebanyak 400-60000 mg/kg di dalam 10 000 mg/liter atau gel, untuk penggunaan secara topikal.

Untuk konsentrasi rendah umumnya terdapat pada produk kesehatan gigi dan mulut yang dijual bebas, seperti pasta gigi dan obat kumur. Sedangkan untuk kadar tinggi, terdapat dalam produk gel dan juga varnish yang aplikasinya harus dengan petunjuk dokter gigi.

Makanan

Kadar fluoride dalam makanan seperti sayur, buah, dan daging, sangat tergantung dari kondisi alam disekitar makanan tersebut berada dengan kadar yang bervariasi.

Namun diperkitakan paparan fluoride secara alami tidak akan lebih dari 1 mg/liter, sehingga tidak memiliki pengaruh terhadap berbagai efek samping yang selama ini takuti oleh sekelompok masyarakat.

Sehingga hal yang harus kita pertanyakan adalah sudah cukupkah asupan fluoride saya ?

Jangan sampai anda sibuk menghindari flouride sampai kesehatan gigi dan tubuh anda dan keluarga menjadi taruhannya.. Karena bagaimanapun gigi adalah anugerah dari Tuhan yang harus kita jaga seumur hidup kita.

Salam Sehat,

(Penulis : drg Widya Apsari Sp.PM)

Sumber:

 

Baca juga:

Read More
Fluoride+benefits

Fluor atau Fluoride, Zat Penuh Kontroversi (Bag. 2)

Fluoride merupakan mineral ion yang secara natural terdapat pada air, tanah, udara, dan juga berbagai makanan secara alami. Umumnya paparan fluoride pada makanan dan minuman berasal dari paparan ion flouride dari alam (vulkanik, mata air, tanah, dll).

Apa saja makanan dan minuman yang mengandung fluoride ?

Pada penelitian, diketahui kadar fluoride tertinggi terdapat pada teh, seafood, daging, bayam, dan gelatin. Dan sedikit pada buah citrus, sayuran, telur, dan susu. Namun kadar fluoride sendiri menjadi bervariasi tergantung dari kondisi geografis di suatu wilayah.

Untuk mengecek kandungan fluoride dari berbagai makanan bisa cek disini

Sedangkan produk kesehatan gigi yang selama ini mengandung fluoride adalah pasta gigi, obat kumur, dan juga berbagai produk pencegahan gigi berlubang di dokter gigi adalah varnish dan gel

Fluoride+benefits

Bagaimana fluoride dapat mencegah terjadinya gigi berlubang ?

Fluoride dapat melindungi gigi secara sistemik (melalui asupan ke dalam tubuh) dan topikal (melalui paparan dari luar).

Secara sistemik fluoride berperan dalam proses mineralisasi pembentukan gigi di dalam tulang rahang dan juga dengan peningkatan kadar fluoride di dalam air ludah. Sehingga pada saat pembentukan benih gigi, dengan adanya kadar fluoride yang cukup, akan terbentuk gigi yang susunan mineral yang kuat dan tidak mudah larut oleh asam dari bakteri dan juga makanan.

Sedangkan secara topikal, fluoride berperan pada saat gigi sudah tumbuh sempurna, dengan cara melapisi gigi sehingga tahan terhadap bakteri penyebab gigi berlubang, dengan cara membantu pembentukan kembali mineral dari lapisan gigi yang larut akibat asam dari bakteri penyebab gigi berlubang dan makanan.

Sejauh mana fluoride dapat mencegah terjadinya gigi berlubang ?

Menurut penelitian yang ada, paparan fluoride, terutama melalui air minum, dapat mencegah terjadinya gigi belubang pada gigi susu sebesar 35% dan pada gigi permanen sebesar 26%. Dan secara signifikan meningkatkan individu dengan bebas gigi berlubang pada gigi susu sebesar 15% dan pada gigi permanen sebesar 14%.

Secara umum, fluoride di dalam air minum dapat mengurangi terjadinya gigi berlubang sebesar 40 -60 %

Jika fluoride sangat signifikan untuk membantu kita memiliki struktur gigi yang kuat, mengapa fluoride ini terus menjadi kontroversi ? Berapa banyak asupan fluoride total yang kita dapatkan dari makanan ? Apakah kebutuhan fluoride sudah tercukupi melalui makanan ?

(Penulis : drg. Widya Apsari Sp.PM)

Sumber:

Baca selanjutnya:

Read More
Skip to toolbar