Welcome to Difa Oral Health Center

Opening Hours : Selasa-Jumat 14:00-20:00, Sabtu-Minggu 09:00-15:00
  Contact : +62813-1650-6535

All Posts Tagged: kedokteran gigi pencegahan

fluoride=racun

Fluoride adalah Racun, Benarkah ??

drg. Widya Apsari Sp.PM

Apa itu Fluoride ?

Fluoride merupakan mineral yang secara alami terdapat pada alam, seperti tanah, batu vukanik, dan juga air. Fluoride sendiri sudah sejak lama dikenal sebagai mineral yang dapat mencegah terjadinya gigi berlubang, dengan cara membentuk susunan gigi yang lebih kuat dan tahan terhadap kondisi asam akibat bakteri dan juga sisa makanan. Adanya asam yang dihasilkan oleh bakteri dan sisa makanan menyebabkan larutnya struktur mineral pada lapisan email gigi sehingga menyebabkan terjadinya gigi berlubang. Namun proses larutnya mineral pada lapisan email gigi dapat diperbaiki (remineralisasi) oleh adanya fluoride.

Dalam mencegah terjadinya gigi berlubang, fluoride bekerja secara sistemik (dalam tubuh) dan topikal (luar tubuh). Secara sistemik fluoride diperoleh melalui air minum, makanan, dan juga suplemen fluor. Sedangkan secara topikal umumnya didapat dari pasta gigi, obat kumur, dan juga aplikasi fluoride oleh bahan kedokteran gigi oleh dokter gigi.

Secara sistemik, fluoride mencegah gigi berlubang dengan cara berperan dalam proses pembentukan benih gigi di dalam tubuh, sehingga terbentuk struktur gigi yang kuat dan tahan asam. Serta dengan adanya asupan fluoride yang cukup secara sistemik, maka akan menghasilkan air ludah yang mengandung fluoride yang dapat memberikan perlindungan pada gigi secara topikal. Proses pencegahan gigi berlubang dari fluoride secara topikal adalah dengan proses remineralisasi kembali dari mineral gigi yang telah larut oleh asam sebagai penyebab gigi berlubang.

Namun, sama seperti mineral lain yang juga diperlukan oleh tubuh kita, akan menjadi efektif dan bermanfaat bila dalam asupan yang cukup, dan tidak berlebihan.

Sumber Fluoride

Asupan fluoride terdapat dalam air minum secara alami maupun melalui program fluoridasi melalui air mineral, dengan batas aman yang ditentukan oleh WHO (2011) dan Kementrian Kesehatan RI adalah tidak boleh lebih dari 1.5mg/l.

Selain dari air minum, asupan fluoride sendiri dapat didapat dari berbagai bahan makanan dan minuman. Menurut penelitian kadar fluoride tinggi terdapat pada teh, seafood, daging, bayam, dan gelatin. Dan sedikit pada buah citrus, sayuran, susu, dan telur. Namun kadar fluoride dari tiap bahan makanan tersebut bervariasi sesuai dengan kondisi geografis di suatu wilayah.  Diperkirakan asupan fluoride secara alami tidak akan lebih dari 1mg/l, sehingga tidak memiliki efek samping terhadap kesehatan tubuh manusia.

Untuk mengetahui kadar fluoride dari berbagai makanan dapat dilihat disini

Kadar Fluoride pada Produk Kebersihan dan Kesehatan Gigi dan Mulut

Untuk penggunaan fluoride pada produk kebersihan dan kesehatan gigi mulut umumnya diberikan secara topikal. Pada pasta gigi terdapat kandungan fluoride sebanyak 1.000 – 1.500 mg/kg. Sedangkan pada produk pencegahan gigi berlubang di dokter gigi mengandung fluoride sebanyak 400 – 60.000 mg/kg didalam 10.000 mg/l atau gel.

fluor

Dalam bidang kesehatan pengetahuan mengobati penyakit merupakan hal yang penting, namun pengetahuan mencegah terjadinya penyakit juga tidak kalah pentingnya.

Mari kita kenali dan penuhi asupan fluoride sesuai dengan kadar kebutuhan tubuh, baik melalui sistemik maupun topikal, agar tercipta generasi muda Indonesia yang bebas dari gigi berlubang.

 

Sumber:

  1. http://dinkes.babelprov.go.id/sites/default/files/data/Renc.Program.pdf
  2. http://www.ada.org/~/media/ADA/Member%20Center/FIles/fluoridation_facts.ashx
  3. http://www.ada.org/en/member-center/oral-health-topics/fluoride-supplements
  4. http://www.who.int/water_sanitation_health/dwq/chemicals/fluoride.pdf
  5. http://www.who.int/oral_health/media/en/orh_cdoe_319to321.pdf
  6. http://pppl.depkes.go.id/_asset/_regulasi/53_Permenkes%20492.pdf
Read More
title artikel makanan

Diet dan Nutrisi Tepat demi Senyum Sehat Si Kecil

drg. Arfina Arief MM.

“Food choices and dietary patterns are essential determinants of dental caries”

Kita semua setuju bahwa makanan manis seperti permen dan coklat dapat menyebabkan gigi berlubang pada si kecil. Dan kita semua setuju bahwa keseimbangan diet dan nutrisi penting untuk si kecil.

Namun tahukah anda bahwa pola makan dan pilihan makanan yang dimakan oleh si kecil memegang peranan penting dalam pencegahan gigi berlubang dan juga pada proses terjadinya gigi berlubang. Dan  tahukah anda selain faktor makanan manis, masih terdapat jenis makanan yang juga berpotensi menimbulkan gigi berlubang.

Sehingga pemilihan jenis makanan untuk si kecil menjadi penting kita ketahui agar si kecil terhindar dari gigi berlubang dan sakit gigi.

Masih ingatkah anda dengan 4 golongan makanan menurut kecenderungan terjadinya gigi berlubang? (cari tahu di sini)

Potensi Acidogenic pada Makanan

Tidak atau kurang acidogenic:  sayuran mentah (wortel, brokoli, daun selada, dll), daging merah, ikan, daging putih, susu, keju, yogurt, jagung, lemak, minyak, mentega, margarin, pemanis non gula.

Acidogenic: sayuran yang dimasak, buah segar, buah kaleng, jus buah, minuman buah, creamers, es krim, puding, keripik kentang, krekers, marshmallows, nasi, pasta, roti, cereals, kentang goreng, kue, cookies, pie, pastry, permen, permen mint, permen pereda batuk, pisang, buah kering.

Berbagai makanan dan minuman yang selama ini kita pikir sehat ternyata memiliki peranan dalam terjadinya gigi berlubang pada si kecil.

Namun jangan kuatir, hal ini bisa di siasati dengan pola pemberian dan kombinasi makanan yang tepat.

Frekuensi dan Waktu Makan

Frekuensi makan memegang peranan dalam kecenderungan si kecil mengalami gigi berlubang. Frekuensi makan yang terus-menerus menyebabkan penurunan pH pada rongga mulut yang akan mengakibatkan larutnya mineral pada email dan meningkatkan resiko terjadinya gigi berlubang.  Menurut penelitian makin seringnya frekuensi makan seseorang, akan meningkatkan terjadinya resiko gigi berlubang. Penelitian Vipeholm menunjukkan terjadinya kecenderungan gigi berlubang yang lebih tinggi pada seseorang yang nyemil makanan mengandung gula di sela-sela jam makannya.

Selain itu waktu atau jam makan. Makan makanan mengandung karbohidrat pada jam tidur akan mengurangi produksi air ludah pada waktu tidur, sehingga akan meningkatkan resiko terjadinya gigi berlubang.

Kombinasi Makanan

Ketika makan yang mengandung karbohidrat dimakan tanpa disetai makanan jenis lain, akan meningkatkan produksi asam dan menurunkan pH dalam rongga mulut, sehingga resiko gigi berlubang menjadi bertambah. Namun kondisi ini dapat dicegah bila mengkonsumsi makanan yang tidak mengandung gula seperti keju, susu, dll, yang dapat merangsang keluarnya air ludah pada sebelum, selama, atau sesudah konsumsi makanan yang mengandung karbohidrat tersebut.

Maka kombinasi antara makanan mengandung karbohidrat, protein dan lemak dapat menurunkan resiko terjadinya gigi berlubang pada si kecil.

Air putih sebagai nutrisi penting dalam mencegah terjadinya gigi berlubang

Selama ini air putih menjadi bagian dari kebutuhan nutrisi yang sering diabaikan oleh kita. Namun air putih ini merupakan komponen terpenting dalam terbentuknya air ludah. Dimana air ludah ini mengandung berbagai mineral pencegah terjadinya gigi berlubang, seperti kalsium. fosfat, dan mineral yang penting untuk gigi. Air ludah dapat merangsang remineralisasi atau terbentuknya kembali mineral gigi pada lubang gigi kecil.

Selain itu, air ludah juga mengandung protein antibakteri sehingga bersama dengan aliran air ludah yang timbil dapat membersihkan gigi dari sisa makanan yang dapat menyebabkan gigi berlubang.

Saran dari kami dokter gigi dalam mengurangi resiko gigi berlubang bagi si kecil

1. Kurangi frekuensi konsumsi makanan atau minum yang mengandung fermentasi karbohidrat, terutama di sela-sela jam makan

2. Akhiri makan atau minum dengan makanan atau minuman yang bersifat anticariogenic dan cariostatic

3. Minum air putih yang banyak

4. Kombinasikan konsumsi makanan manis maupun asam dengan makanan atau minuman yang dapat menetralisir penurunan pH rongga mulut.

5. Mengunyah permen karet xylitol mampu mengurangi resiko karies dengan menetralisir pH rongga mulut dan juga meningkatkan produksi air ludah

 

Salam Sehat,

Refrensi:

  1. Palmer Carole A., Diet and Nutrition in Oral Health 2nd Ed, Pearson, 2007
  2. http://www.mouthhealthy.org/en/nutrition
  3. http://www.dentalcare.com/media/en-US/education/ce301/ce301.pdf
Read More
Gigi Sehat Untuk Indonesia Sehat

Apakah Gigi Anak-anak Harus dirawat?

Drg. Miranda Adriani

Pernahkah anda menjumpai anak-anak dengan gigi berlubang? Mungkin anak anda atau keponakan anda yang giginya depannya terlihat menghitam? Atau pada keadaan lebih buruk,pernahkah anda melihat anak mengalami sakit gigi yang berdenyut sehingga susah tidur?

Tentu pernah! Karena nyatanya gigi berlubang merupakan penyakit kronis yang paling umum dijumpai pada anak-anak. Nah berikut alasan mengapa gigi susu pada si kecil harus dirawat:

1. Akan mempengaruhi prestasi di sekolah

Dari penelitian, ternyata hampir 80% anak-anak di di dunia mengalami gigi berlubang. Keadaan ini mengakibatkan lebih dari 50 juta jam sekolah hilang karena anak-anak absen dari sekolah karena giginya sakit. Absennya anak-anak dari sekolah tersebut, akan menurunkan performanya di sekolah akibat waktu belajarnya menjadi terganggu. DAlam penelitian, anak-anak dengan kesehatan gigi yang buruk akan mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas sebanyak 12 kali lebih lipat dari pada anak dengan kesehatan gigi yang baik

2. Menggangu si anak dalam bersosialisasi

Kesehatan gigi yang buruk akan berpengaruh terhadap penampilan dan kepercayaan diri anak-anak dan kemampuan anak dalam berkomunikasi yang secara langsung akan berpengaruh pada kehidupan sosial si kecil bersama teman-temannya.

3. Mempengaruhi pertumbuhan anak

Dengan kondisi kesehatan gigi yang buruk secara otomatis akan menggangu fungsi mengunyah pada si kecil dan pada kondisi sakit gigi, si kecil pasti akan malas makan, sehingga asupan nutrisi pun menjadi terbatas. Sehingga, kesehatan gigi ini mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.

Banyak sekali kan dampak buruknya?

Padahal, banyak dari masalah gigi dapat dicegah dan pada masa awal sifatnya reversible atau bisa kembali sehat loh.

Bagaimana mencegahnya? Tentu dengan asupan makanan atau diet yang baik dan menjaga kebersihan gigi dan mulut anak-anak, yaitu dengan menggosok gigi, dan yang penting adalah pembekalan mengenai pendidikan kesehatan gigi dan mulut sedini mungkin.

Salam Sehat,

Refrensi:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3222359/pdf/1900.pdf

http://www.ijdr.in/article.asp?issn=0970-9290;year=2010;volume=21;issue=2;spage=253;epage=259;au

http://www.who.int/bulletin/volumes/83/9/677.pdf

http://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S1807-25772015000500285

http://www.hindawi.com/journals/aph/2015/651836/

http://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S1806-83242008000400010

 

Read More
global economic impact

Sakit Gigi dan Pengaruhnya terhadap Perekonomian Dunia

drg. Miranda Adriani 

Kesehatan mulut yang buruk tentu saja akan banyak berpengaruh pada setiap orang. Dari mulai merasakan sakit yang luar biasa dari sakit giginya, tidak bisa mengunyah dengan baik, kurangnya rasa percaya diri karena gigi yang ompong atau kehitaman, dan yang paling terasa tidak enak, tentu saja uang atau beban finansial yang harus ditanggung setiap orang ketika berobat ke dokter gigi. Tapi apakah pernah terpikir, adakah pengaruhnya terhadap perekonomian dunia?

Baru – baru ini terdapat sebuah jurnal yang berisi penelitian tentang efek penyakit pada mulut pada perekonomian dunia. Jurnal tersebut berjudul “Global Economic Impact of Dental Diseases” yang dipublikasikan oleh JDR (Journal of Dental Research). Dari penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa dampak perekonomian global penyakit gigi pada tahun 2010 mencapai US$442.000.000.000.

Perhitungan ini dibagi menjadi dua, yaitu dari pengeluaran langsung (direct costs) sebesar US$298.000.000.000 dan pengeluaran tidak langsung (indirect costs) sebesar US$144.000.000.000.

Kebayang gak sih banyaknya jika dirupiahkan?

Pengeluaran langsung atau yang bisa disebut direct costs, dihitung dari jumlah uang yang dikeluarkan setiap orang untuk merawat sakit giginya. Misalnya ketika sakit gigi, kita ke dokter gigi untuk merawat gigi kita, dan kita membayar biaya perawatan di dokter gigi tersebut. Nah total direct costs inilah yang mencapai US$298.000.000.000 per tahunnya. Angka ini sesuai dengan rata-rata 4,6% dari total keseluruhan belanja kesehatan global. Cukup banyak ya jumlahnya untuk penyakit yang mungkin dianggap sepele untuk banyak orang.

Sedangkan untuk pengeluaran tidak langsung atau indirect costs, dihitung dari jumlah kerugian yang terjadi ketika kita tidak masuk kerja, tidak masuk sekolah atau bahkan konsentrasi yang menurun karena sakit gigi. Ketika kita sakit gigi, baik karena gusinya bengkak atau sakit nyut-nyutan sampai ke kepala, tentu aktivitas kita sehari-hari jadi terhambat, dan tidak jarang banyak orang yang izin dari kantor atau sekolah.

Jutaan jam kerja dan sekolah telah hilang pertahunnya, sehingga terjadi dampak negatif ekonomi jangka panjang yang menghambat kemajuan dan perkembangan individu maupun lingkup sosial. Nah, kerugian-kerugian seperti inilah yang ketika dihitung totalnya mencapai US$144.000.000.000 per tahunnya.

Besar sekali ya kerugian yang ditimbulkan karena sakit gigi ini!

Bila ditelaah lagi, memang penyakit gigi dan mulut ini bisa menimbulkan kerugian dari berbagai sisi. Dari segi ekonomi seperti yang sudah disebutkan di atas, ada direct costs dan indirects costs. Ditambah lagi jika pasien tidak selesai melakukan perawatan, lalu kembali lagi ketika keadaan penyakitnya sudah semakin parah. Biaya akan semakin meningkat bukan?

Selain itu, sakit gigi juga berkaitan dengan penyakit-penyakit lainnya lho. Seperti penyakit jantung, diabetes, kanker, bahkan berhubungan dengan kondisi kehamilan. Biaya pengobatan-pengobatan ini tentu tidak kecil.

Sayang kan, hanya karena sakit gigi, jadi merembet kemana-mana dan biaya yang dikeluarkan semakin besar.

Jadi, bisa dilihat ya, menjaga kesehatan gigi dan mulut efeknya begitu besar bahkan sampai ke tingkat global. Dengan adanya perbaikan kesehatan gigi dan mulut secara global, bisa memberikan dampak positif terhadap perekonomian, tidak hanya dari segi menurunnya kerugian dari perawatan gigi, tetapi juga menurunnya kerugian tingkat produktivitas di pasar tenaga kerja.

Sekarang kembali ke diri kita masing-masing, apakah mau menjaga kesehatan gigi dan mulut atau ikut berkontribusi dalam kerugian perekonomian dunia.

Salam sehat

Sumber:

http://jdr.sagepub.com/content/94/10/1355

http://www.worldoralhealthday.com/wp-

content/uploads/2014/03/FDIWhitePaper_OralHealthWorldwide.pdf

http://www.fdiworldental.org/media/77552/complete_oh_atlas.pdf

http://www.scielosp.org/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S0042-96862005000900011

Read More
TOBACO

Rokok.. Gaya Hidup, Kebutuhan, Candu, dan Kesehatan Rongga Mulut

drg. Benedict N. Sunarja

Rokok dan gaya hidup dan pergaulan, merupakan 2 hal yang tidak dapat terpisahkan. Walaupun pemerintah membuat kebijakan dengan menampilkan gambar penyakit yang seram di bungkus rokok, tetap saja bagi anda yang merokok itu tidak berpengaruh apapun..

Artikel ini bukan saya buat untuk menceramahi anda tentang bahaya rokok, racun yang terdapat pada rokok dan juga bukan tentang penyakit apa saja yang ditimbulkan oleh rokok. Karena saya percaya, informasi tersebut tidak akan membuat anda berhenti merokok.

Namun disini mari kita belajar mengenali gambaran rongga mulut yang ditimbulkan oleh rokok yang setiap hari anda hisap. Dan apa yang anda harus lakukan agar bahaya yang ditimbulkan oleh rokok pada rongga mulut anda tidak berlanjut.

Tahukah anda bahwa tembakau dapat menghambat aliran darah ke gusi, sehingga dapat mengakibatkan berkurangnya pasokan nutrisi dan oksigen ke gusi, akibatnya gusi menjadi lebih rentan terkena infeksi.

Apa efek yang dapat ditimbulkan rokok terhadap kondisi rongga mulut secara langsung?

Perubahan warna pada gigi. Rokok dapat menyebabkan perubahan warna akibat deposit/ penumpukan nikotin di permukaan gigi.

Berkurangnya kepadatan tulang rahang. Selain dapat menghambat asupan nutrisi menuju gusi, ternyata rokok juga menghambat asupan nutrisi ke tulang. Sehingga kepadatan tulang menjadi berkurang, dan dapat menyebabkan gigi goyang dan lepas dengan sendirinya.

Penumpukan plak. Menurut penelitian, ditemukan adanya hubungan antara rokok dengan penumpukan plak pada permukaan gigi. Sehingga pada orang yang merokok memiliki kecenderungan untuk terbentuk karang gigi yang lebih banyak dibandingkan dengan anda yang tidak merokok.

Penyakit Periodontal. Dengan kecenderungan terjadinya penumpukan karang gigi pada orang yang merokok, dan juga kepadatan tulang yg berkurang akibat rokok, maka perokok juga lebih rentan terjadi penyakit periodontal. Penyakit periodontal ini dapat menyebabkan gigi anda tanggal dengan sendirinya.

Bau mulut. Sudah menjadi rahasia umum bahwa seseorang yang merokok dapat diketahui melalui bau mulutnya. Perokok memiliki bau mulut yang khas, dan hal ini susah dihilangkan dengan menyikat gigi dan juga dengan obat kumur.

Resiko lubang pada gigi. Rokok dapat menyebabkan peningkatan resiko terjadinya lubang pada gigi akibat kondisi panas yang ditimbulkan oleh asap rokok yang masuk ke dalam rongga mulut.

Apa yang harus dilakukan agar kondisi ini tidak terjadi pada anda ?

Siapa lagi yang dapat melindungi diri anda sendiri kalau bukan anda sendiri. Kesadaran dan kepatuhan dalam menjaga kebersihan rongga mulut menjadi kunci dalam mencegah hal ini jangan sampai terjadi.

Kepatuhan dalam menyikat gigi minimal 2 kali sehari, pagi dan malam sebelum tidur. Serta kesadaran memeriksakan kondisi rongga mulut anda dan membersihkan karang gigi anda secara rutin ke dokter gigi mejadi hal terpenting yang bisa anda lakukan untuk menghindari bahaya rokok terhadap rongga mulut anda.

Mari jadikan dokter gigi sebagai patner anda dalam melindungi kesehatan gigi dan mulut, serta kesehatan tubuh anda.

Merokok dapat menyebabkan bau mulut, gigi berlubang, memudahkan akumulasi plak sehingga gusi cenderung mudah berdarah.

Salam sehat.

Sumber

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9919032

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16223098

https://www.adha.org/sites/default/files/7232_Tobacco_Use_Periodontal_Disease_1.pdf

Read More
43288540_s

Harus ya ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali ?

drg. Dita Firdiana

Pasti kita sering mendengar selogan yang mengajak kita melalukan kunjungan rutin ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali untuk kesehatan gigi dan mulut..

Nah, sekarang percayakah anda bahwa kunjungan rutin ke dokter gigi minimal setiap 6 bulan sekali dapat melindungi kesehatan gigi dan mulut anda ? Saya percaya masih banyak masyarakat Indonesia yang menganggap ajakan untuk kunjungan rutin ke dokter gigi sebagai bagian dari strategi jualan dari dokter gigi..

ADA

American Dental Association (ADA) pada tahun 2013 mengeluarkan rekomendasi untuk mengunjungi dokter gigi secara teratur dengan intervalnya ditentukan oleh dokter gigi, untuk melindungi kesehatan gigi dan mulut. Rekomendasi ini berdasarkan studi baru yang diterbitkan oleh Journal of Dental Research berjudul “Patient Stratification for Preventive Care in Dentistry”

Dalam penelitian ini, menjelajahi hubungan antara kondisi gigi secara jangka panjang dan frekuensi kunjungan untuk pencegahan gigi berlubang pada orang dewasa, dengan dan tanpa tiga faktor risiko untuk penyakit periodontal, yaitu merokok, diabetes dan interleukin variasi genetik -1.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor risiko individu membantu untuk menentukan frekuensi pembersihan yang dibutuhkan per tahun untuk membantu mencegah penyakit periodontal.

Berdasarkan analisis data, peneliti berspekulasi bahwa pasien berisiko tinggi kemungkinan akan mendapat manfaat dari kunjungan yang lebih sering gigi, sementara pasien berisiko rendah dapat melihat manfaat yang sama dari satu kali kunjungan per tahun.

Sehingga ADA mendorong orang-orang untuk bekerja sama dengan dokter gigi mereka untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko potensial yang akan menentukan kebutuhan dan frekuensi kunjungan tindak lanjut untuk meningkatkan hasil perawatan pencegahan.

Dengan adanya rekomendasi dari ADA ini, apakah anda masih menganggap kunjungan rutin ke dokter gigi sebagai hal yang mengada-ngada ?

Sumber:

http://www.ada.org/en/press-room/news-releases/2013-archive/june/american-dental-association-statement-on-regular-dental-visits

 

Read More
hero brush

Penjahat vs Pahlawan, Kita adalah Sutradaranya

drg. Arfina Arief, MM

Pasukan jahat dan pahlawan di dalam rongga mulut kita

Di dalam rongga mulut kita, akan selalu di huni oleh 2 kelompok ini.

Pasukan jahat terdiri dari bakteri dan sisa makanan dan minuman terutama yang mengandung gula dan karbohidrat (nasi, biskuit, roti, permen, dan lain-lain). Kelompok penjahat akan membentuk rumah di permukaan gigi dalam bentuk plak. Nah, di dalam plak ini bakteri memakan sisa makanan dan menghasilkan asam yang dapat melarutkan mineral gigi dan membentuk lubang pada gigi.

Bila dianalogikan, bakteri memakan sisa makanan di permukaan gigi dan mengasilkan kotoran berupa racun asam, dan tempat dimana racun asam tersebut dilepaskan, maka daerah yang mengenainya akan melepuh dan terjadilah lubang.

Siapa pahlawannya ?

Seperti di dalam film, bila ada tokoh jahat pasti ada tokoh baik yang akan menjadi penyelamat. Nah, penyelamat kita di rongga mulut adalah mineral di dalam air ludah (calcium dan phospat) dan fluor. Dua jagoan ini adalah pahlawan penyelamat yang membuat lubang gigi tidak terjadi.

Jadi ketika bakteri melepaskan asam, dua pahlawan kita ini dengan sigap bekerjasama membasuh permukaan gigi agar mineral gigi yang telah larut bersatu kembali.

Jagoan juga bisa menyerah..

Sayangnya pahlawan yang tidak mati-mati dan tidak akan kalah oleh penjahat hanya ada di cerita. Di dunia nyata, pahlawan pun ada batasnya.

Ketika kita tidak menyikat gigi, maka kita menyimpan banyak sisa makanan di mulut, sehingga ketersediaan makanan bakteri semakin banyak. Dengan demikian bakteri berkembang biak dan jumlahnya menjadi banyak di dalam mulut.

Dengan bertambahnya jumlah bakteri, maka asam yang dihasilkan pun semakin banyak. Sehingga air ludah dan fluor tidak mampu berjuang dalam mengatasi asam, maka mineral gigi pun akan larut dan terjadilah lubang gigi yang bertambah besar.

Anda tahu kapan pertarungan mereka berlangsung di dalam mulut ? Pertarungan ini akan terjadi pada malam hari ketika kita tidur..

Nah, kita adalah sutradara dari pertarungan antara si jahat dan si baik di dalam rongga mulut.

Yuk bantu jagoan kita dengan membersihkan sisa makanan sebelum tidur dengan pasta gigi berfluoride, dan berbagai upaya pemberian fluoride pada permukaan gigi kita. Agar pasukan jahat dapat kita lumpuhkan..

Salam sehat,

Refrensi

http://www.nidcr.nih.gov/oralhealth/OralHealthInformation/ChildrensOralHealth/ToothDecayProcess.htm

http://www.sesamestreet.org/parents/topicsandactivities/toolkits/teeth

Read More
difa1

Praktek ilmu kesehatan pencegahan penyakit, bukti kemajuan suatu negara ?

drg. Widya Apsari Sp.PM

“Penasaran” itu adalah hal yang mendasari saya setiap saya berselancar di internet untuk mencari berbagai penelitian kesehatan gigi dan mulut di luar negeri.

Karena topik minggu ini adalah soal prosedur pencegahan gigi berlubang, maka saya mencari penelitian tentang “Seberapa persen efektifitas pemberian topikal flour dalam mengurangi terjadinya gigi berlubang ?”

Namun bukannya saya menemukan jawaban dari apa yang saya cari, saya terpaku sama satu penelitian dari Morgan dkk tahun 2013 dengan judul Cost-effectiveness models for dental caries prevention programmes among Chilean schoolchildren”

Cost effectiveness ?? Efektifitas biaya ??

Dalam penelitian tersebut diteliti mengenai berapa uang yang bisa dihemat dalam berbagai program pencegahan gigi dan mulut yang dilakukan oleh pemerintah Chile.

Nah, apa patokan dalam mengukur keektifitas biaya ?

Yaitu total biaya untuk menyelenggarakan program pencegahan gigi berlubang dibandingkan dengan harga yang didapat dari tidak terjadinya gigi berlubang selama 6 tahun ke depan. Kemudian perkiraan biaya pengobatan langsung dan biaya kerugian produktivitas akibat gigi berlubang.

Apa saja program pencegahan gigi belubang yang dibandingkan?

Ada fluoridasi melalui garam, fluoridasi melalui air minum, dan pemberian obat kumur mengandung fluor yang dilakukan oleh pemerintah. Dan yang dilakukan oleh individu seperti pasta gigi berfluoride dan pemberian gel mengandung fluor di layanan dokter gigi. Dan hasilnya adalah program fluoridasi melalui garam yang dinilai paling efektif.

Disaat kita masih sibuk dengan carut marut sistem BPJS, orang-orang diluar sana memilirkan sampai segitu detilnya mengenai program pencegahan gigi belubang..

Sebelum anda menyalahkan pemerintah, bukankah seharusnya tugas dokter gigi untuk mengedukasi masyarakat dan pemerintah mengenai hal ini?

Dimulai dari saya, kemudian anda, lalu kita, dan sampai pada kita semua masyarakat Indonesia harus menjadi masyarakat yang cerdas dan sehat, kemudian kita semua akan menghantarkan pemerintahan Indonesia menjadi hebat.

Program kesehatan yang terbaik adalah program pencegahan.. bukan pengobatan

Salam sehat,

Read More
Jika Gigi Berlubang Bisa Dicegah, Maukah Anda Melakukannya ?

Jika Gigi Berlubang Bisa Dicegah, Maukah Anda Melakukannya ?

drg. Dita Firdiana

Tahukah anda bahwa kejadian gigi berlubang pada masyarakat Indonesia adalah berkisar antara 85%-99%.

Jadi bagaimana maksudnya?

Jadi nyaris seluruh masyarakat Indonesia memiliki gigi berlubang. Dan bila anda tidak memiliki gigi berlubang, saya ucapkan selamat karena anda termasuk dalam orang-orang langka.

Nah sekarang, bagi anda yang memiliki gigi berlubang dan sudah ditambal, bagaimana caranya tambalan gigi dapat bertahan selamanya ? bagaimana caranya agar jangan ada lagi gigi lain yang berlubang ? Dan bagi anda yang tidak memiliki gigi berlubang, bagaimana caranya agar kondisi ini dipertahankan sampai seumur hidup anda ?

Jangan anda berpuas hati tambalan gigi bisa bertahan sampai 1-5 tahun. Karena kita harus berupaya untuk membuat tambalan gigi anda bisa bertahan sampai seumur hidup anda.. Nah bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan TOPIKAL FLUORIDASI.

Apa itu topikal fluoridasi ?

Topikal fluoridasi merupakan cara pemberian fluor (dengan dosis lebih tinggi dari pasta gigi) secara topikal atau mengoleskan dipermukaan gigi, dengan tujuan untuk membentukan kembali mineral gigi yang larut akibat proses makan.

Topikal fluoridasi ini diberikan 3 bulan, 6 bulan, sampai 1 tahun sekali tergantung dari tingkatan resiko gigi berlubang masing-masing individu. Makin tinggi resiko gigi berlubang seseorang, aplikasi topikal fluor ini pun harus diberikan lebih sering.

Apakah ini berbahaya ?

Tentu tidak, karena dosis yang diberikan ini dalam batas aman. Dan dalam setiap produk topikal fluoridasi di dokter gigi pasti disertai dengan dosis pemberian sesuai dengan usia pasien.

Bagaimana ini diberikan ?

Prosedurnya sangat sederhana, cukup dioleskan pada permukaan gigi secara merata oleh dokter gigi. Namun proses pengolesan ini harus dilakukan setelah dibersihkan karang giginya.

Perawatan gigi yang paling baik adalah perawatan pencegahan penyakit gigi dan mulut.

Nah, bila anda sudah mengetahui ada prosedur untuk mencegah gigi berlubang, maukah anda melakukannya?

Salam sehat,

Read More
jangan percaya drg

Jangan pernah percaya apa yang dikatakan dokter gigi..

drg. Widya Apsari Sp.PM

Anda terkejut dengan gambar di atas ? Ketika saya membacanya pertama kali pun saya terkejut, sambil berpikir, iya juga  ya..

Saya pikir selama ini dokter gigi terlalu fokus berpikir, belajar, berlatih, dan berkomunikasi kepada pasien tentang bagaimana mengobati gigi yang sakit, bagaimana supaya gigi ditambal seperti gigi aslinya, bagaimana membuat sisa akar bisa dikembalikan menjadi bentuk gigi, dan juga bagaimana caranya gigi putih bersih dan cemerlang.

Mengapa tidak ada dokter gigi yang menyuarakan bagaimana caranya pasien saya tidak ada yg berlubang giginya, agar saya tidak perlu menambal gigi yang lubang, tidak perlu mencabut gigi yang rusak, tidak perlu membuatkan gigi palsu, dan juga bagaimana caranya pasien saya puas dengan gigi aslinya..

Menurut saya dokter itu tidak diciptakan untuk mengobati yang sakit saja, namun tugas utamanya adalah membuat pasien dan masyarakat disekitarnya menjadi sehat dan telindung dari penyakit.

Jadi doa seorang dokter bukan lagi ” Ya Tuhan, berikan rezeki pada hari ini, semoga hari ini pasien sakit giginya banyak…Amin” tapi “Ya Tuhan, semoga pasien saya mengingat bahwa hari ini adalah bulan ke 6 dan waktunya skeling dan topikal fluor, agar saya masih dapat melindungi gigi pasien saya seumur hidup mereka.. Amin”

Ini hanyalah opini saya, boleh setuju dan boleh tidak.. Namun pemikiran ini yang membuat kami di Difa Oral Health Center terus mengedukasi masyarakat Indonesia mengenai  kesehatan rongga mulut, agar tercipta masyarakat Indonesia yang bebas penyakit gigi dan mulut.

Karena tujuan Difa Oral Health Center adalah bukan untuk “mengobati penyakit”, tapi untuk menjaga pasien kami “tetap sehat”.

Salam sehat,

Read More
Skip to toolbar