Welcome to Difa Oral Health Center

Opening Hours : Selasa-Jumat 14:00-20:00, Sabtu-Minggu 09:00-15:00
  Contact : +62813-1650-6535

All Posts Tagged: preventive

Skeling

Siapa Bilang Bersihin Karang Gigi itu Mahal ?!

Apa sih hal yang kalian tangkap setiap membaca artikel di website ini?

Sakit gigi itu bisa dicegah?  Kesehatan gigi dan mulut menyebabkan penyakit tubuh? Perawatan gigi itu bukan bagian dari estetik? Menjaga kesehatan dan kebersihan gigi dan mulut itu penting? Penumpukan karang gigi bisa menyebabkan berbagai penyakit?

Yup, bener banget kalau kalian menjawab itu semua.. Jadi kita harus rajin ke dokter gigi biar gigi dan mulut kita sehat? Bersihin karang gigi itu bisa dilakuin sendiri gak si? Gak usah ke dokter gigi bisa? Dokter gigi kan mahal..

Coba bayangin bakteri dari karang gigi aja bisa menyebar ke berbagai organ lewat pembuluh darah, berarti kalau kamu coba-coba nyongkel karang gigi pake alat yang gak steril, berarti bukan hal yang mustahil bakteri dari alat congkel karang gigi yang kamu pake itu bisa menyebar ke pembuluh darah dan menyebabkan infeksi. Duh sereeem..

Tapi bersihin karang gigi di dokter gigi itu mahal..

Nah, di Difa Oral Health Center gak mahal kok. Karena kita punya program khusus buat kamu-kamu yang peduli akan kesehatan gigi mulut dan berkomitment untuk memeriksakan kondisi gigi dan mulutnya secara rutin.

Apa programnya? Ini dia..skeling rutin

Jadi bersihin karang gigi rutin di Difa Oral Health Center itu cuma 123 ribu rupiah loh.. Harga segini masih kamu bilang mahal? Gak dong ya..

Mau? Boleh, tapi ada syaratnya ya, yaitu kamu sebelumnya harus pernah membersihkan karang gigi atau skeling pertama kali di Difa Oral Health Center dan harga ini berlaku bila kamu mengikuti jadwal yang sudah disepakati pada kunjungan sebelumnya sesuai dengan petunjuk dokter gigi yang pertama kali nanganin kamu. Kalau lewat dari jadwal? Ya terpaksa kembali menjadi harga normal..

Gampang banget kan caranya? Takut lupa? Tenang aja, ada tim dari Difa Oral Health Center yang akan mengingatkan kamu kalau sudah waktunya sekeling dan cek rutin kok..

Menjaga kesehatan gigi dan mulut itu mudah kok dan kita sama-sama bikin menyenangkan bersama Difa Oral Health Center 🙂

Read More
TOBACO

Rokok.. Gaya Hidup, Kebutuhan, Candu, dan Kesehatan Rongga Mulut

drg. Benedict N. Sunarja

Rokok dan gaya hidup dan pergaulan, merupakan 2 hal yang tidak dapat terpisahkan. Walaupun pemerintah membuat kebijakan dengan menampilkan gambar penyakit yang seram di bungkus rokok, tetap saja bagi anda yang merokok itu tidak berpengaruh apapun..

Artikel ini bukan saya buat untuk menceramahi anda tentang bahaya rokok, racun yang terdapat pada rokok dan juga bukan tentang penyakit apa saja yang ditimbulkan oleh rokok. Karena saya percaya, informasi tersebut tidak akan membuat anda berhenti merokok.

Namun disini mari kita belajar mengenali gambaran rongga mulut yang ditimbulkan oleh rokok yang setiap hari anda hisap. Dan apa yang anda harus lakukan agar bahaya yang ditimbulkan oleh rokok pada rongga mulut anda tidak berlanjut.

Tahukah anda bahwa tembakau dapat menghambat aliran darah ke gusi, sehingga dapat mengakibatkan berkurangnya pasokan nutrisi dan oksigen ke gusi, akibatnya gusi menjadi lebih rentan terkena infeksi.

Apa efek yang dapat ditimbulkan rokok terhadap kondisi rongga mulut secara langsung?

Perubahan warna pada gigi. Rokok dapat menyebabkan perubahan warna akibat deposit/ penumpukan nikotin di permukaan gigi.

Berkurangnya kepadatan tulang rahang. Selain dapat menghambat asupan nutrisi menuju gusi, ternyata rokok juga menghambat asupan nutrisi ke tulang. Sehingga kepadatan tulang menjadi berkurang, dan dapat menyebabkan gigi goyang dan lepas dengan sendirinya.

Penumpukan plak. Menurut penelitian, ditemukan adanya hubungan antara rokok dengan penumpukan plak pada permukaan gigi. Sehingga pada orang yang merokok memiliki kecenderungan untuk terbentuk karang gigi yang lebih banyak dibandingkan dengan anda yang tidak merokok.

Penyakit Periodontal. Dengan kecenderungan terjadinya penumpukan karang gigi pada orang yang merokok, dan juga kepadatan tulang yg berkurang akibat rokok, maka perokok juga lebih rentan terjadi penyakit periodontal. Penyakit periodontal ini dapat menyebabkan gigi anda tanggal dengan sendirinya.

Bau mulut. Sudah menjadi rahasia umum bahwa seseorang yang merokok dapat diketahui melalui bau mulutnya. Perokok memiliki bau mulut yang khas, dan hal ini susah dihilangkan dengan menyikat gigi dan juga dengan obat kumur.

Resiko lubang pada gigi. Rokok dapat menyebabkan peningkatan resiko terjadinya lubang pada gigi akibat kondisi panas yang ditimbulkan oleh asap rokok yang masuk ke dalam rongga mulut.

Apa yang harus dilakukan agar kondisi ini tidak terjadi pada anda ?

Siapa lagi yang dapat melindungi diri anda sendiri kalau bukan anda sendiri. Kesadaran dan kepatuhan dalam menjaga kebersihan rongga mulut menjadi kunci dalam mencegah hal ini jangan sampai terjadi.

Kepatuhan dalam menyikat gigi minimal 2 kali sehari, pagi dan malam sebelum tidur. Serta kesadaran memeriksakan kondisi rongga mulut anda dan membersihkan karang gigi anda secara rutin ke dokter gigi mejadi hal terpenting yang bisa anda lakukan untuk menghindari bahaya rokok terhadap rongga mulut anda.

Mari jadikan dokter gigi sebagai patner anda dalam melindungi kesehatan gigi dan mulut, serta kesehatan tubuh anda.

Merokok dapat menyebabkan bau mulut, gigi berlubang, memudahkan akumulasi plak sehingga gusi cenderung mudah berdarah.

Salam sehat.

Sumber

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9919032

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16223098

https://www.adha.org/sites/default/files/7232_Tobacco_Use_Periodontal_Disease_1.pdf

Read More
43288540_s

Harus ya ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali ?

drg. Dita Firdiana

Pasti kita sering mendengar selogan yang mengajak kita melalukan kunjungan rutin ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali untuk kesehatan gigi dan mulut..

Nah, sekarang percayakah anda bahwa kunjungan rutin ke dokter gigi minimal setiap 6 bulan sekali dapat melindungi kesehatan gigi dan mulut anda ? Saya percaya masih banyak masyarakat Indonesia yang menganggap ajakan untuk kunjungan rutin ke dokter gigi sebagai bagian dari strategi jualan dari dokter gigi..

ADA

American Dental Association (ADA) pada tahun 2013 mengeluarkan rekomendasi untuk mengunjungi dokter gigi secara teratur dengan intervalnya ditentukan oleh dokter gigi, untuk melindungi kesehatan gigi dan mulut. Rekomendasi ini berdasarkan studi baru yang diterbitkan oleh Journal of Dental Research berjudul “Patient Stratification for Preventive Care in Dentistry”

Dalam penelitian ini, menjelajahi hubungan antara kondisi gigi secara jangka panjang dan frekuensi kunjungan untuk pencegahan gigi berlubang pada orang dewasa, dengan dan tanpa tiga faktor risiko untuk penyakit periodontal, yaitu merokok, diabetes dan interleukin variasi genetik -1.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor risiko individu membantu untuk menentukan frekuensi pembersihan yang dibutuhkan per tahun untuk membantu mencegah penyakit periodontal.

Berdasarkan analisis data, peneliti berspekulasi bahwa pasien berisiko tinggi kemungkinan akan mendapat manfaat dari kunjungan yang lebih sering gigi, sementara pasien berisiko rendah dapat melihat manfaat yang sama dari satu kali kunjungan per tahun.

Sehingga ADA mendorong orang-orang untuk bekerja sama dengan dokter gigi mereka untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko potensial yang akan menentukan kebutuhan dan frekuensi kunjungan tindak lanjut untuk meningkatkan hasil perawatan pencegahan.

Dengan adanya rekomendasi dari ADA ini, apakah anda masih menganggap kunjungan rutin ke dokter gigi sebagai hal yang mengada-ngada ?

Sumber:

http://www.ada.org/en/press-room/news-releases/2013-archive/june/american-dental-association-statement-on-regular-dental-visits

 

Read More
difa1

Praktek ilmu kesehatan pencegahan penyakit, bukti kemajuan suatu negara ?

drg. Widya Apsari Sp.PM

“Penasaran” itu adalah hal yang mendasari saya setiap saya berselancar di internet untuk mencari berbagai penelitian kesehatan gigi dan mulut di luar negeri.

Karena topik minggu ini adalah soal prosedur pencegahan gigi berlubang, maka saya mencari penelitian tentang “Seberapa persen efektifitas pemberian topikal flour dalam mengurangi terjadinya gigi berlubang ?”

Namun bukannya saya menemukan jawaban dari apa yang saya cari, saya terpaku sama satu penelitian dari Morgan dkk tahun 2013 dengan judul Cost-effectiveness models for dental caries prevention programmes among Chilean schoolchildren”

Cost effectiveness ?? Efektifitas biaya ??

Dalam penelitian tersebut diteliti mengenai berapa uang yang bisa dihemat dalam berbagai program pencegahan gigi dan mulut yang dilakukan oleh pemerintah Chile.

Nah, apa patokan dalam mengukur keektifitas biaya ?

Yaitu total biaya untuk menyelenggarakan program pencegahan gigi berlubang dibandingkan dengan harga yang didapat dari tidak terjadinya gigi berlubang selama 6 tahun ke depan. Kemudian perkiraan biaya pengobatan langsung dan biaya kerugian produktivitas akibat gigi berlubang.

Apa saja program pencegahan gigi belubang yang dibandingkan?

Ada fluoridasi melalui garam, fluoridasi melalui air minum, dan pemberian obat kumur mengandung fluor yang dilakukan oleh pemerintah. Dan yang dilakukan oleh individu seperti pasta gigi berfluoride dan pemberian gel mengandung fluor di layanan dokter gigi. Dan hasilnya adalah program fluoridasi melalui garam yang dinilai paling efektif.

Disaat kita masih sibuk dengan carut marut sistem BPJS, orang-orang diluar sana memilirkan sampai segitu detilnya mengenai program pencegahan gigi belubang..

Sebelum anda menyalahkan pemerintah, bukankah seharusnya tugas dokter gigi untuk mengedukasi masyarakat dan pemerintah mengenai hal ini?

Dimulai dari saya, kemudian anda, lalu kita, dan sampai pada kita semua masyarakat Indonesia harus menjadi masyarakat yang cerdas dan sehat, kemudian kita semua akan menghantarkan pemerintahan Indonesia menjadi hebat.

Program kesehatan yang terbaik adalah program pencegahan.. bukan pengobatan

Salam sehat,

Read More
Jika Gigi Berlubang Bisa Dicegah, Maukah Anda Melakukannya ?

Jika Gigi Berlubang Bisa Dicegah, Maukah Anda Melakukannya ?

drg. Dita Firdiana

Tahukah anda bahwa kejadian gigi berlubang pada masyarakat Indonesia adalah berkisar antara 85%-99%.

Jadi bagaimana maksudnya?

Jadi nyaris seluruh masyarakat Indonesia memiliki gigi berlubang. Dan bila anda tidak memiliki gigi berlubang, saya ucapkan selamat karena anda termasuk dalam orang-orang langka.

Nah sekarang, bagi anda yang memiliki gigi berlubang dan sudah ditambal, bagaimana caranya tambalan gigi dapat bertahan selamanya ? bagaimana caranya agar jangan ada lagi gigi lain yang berlubang ? Dan bagi anda yang tidak memiliki gigi berlubang, bagaimana caranya agar kondisi ini dipertahankan sampai seumur hidup anda ?

Jangan anda berpuas hati tambalan gigi bisa bertahan sampai 1-5 tahun. Karena kita harus berupaya untuk membuat tambalan gigi anda bisa bertahan sampai seumur hidup anda.. Nah bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan TOPIKAL FLUORIDASI.

Apa itu topikal fluoridasi ?

Topikal fluoridasi merupakan cara pemberian fluor (dengan dosis lebih tinggi dari pasta gigi) secara topikal atau mengoleskan dipermukaan gigi, dengan tujuan untuk membentukan kembali mineral gigi yang larut akibat proses makan.

Topikal fluoridasi ini diberikan 3 bulan, 6 bulan, sampai 1 tahun sekali tergantung dari tingkatan resiko gigi berlubang masing-masing individu. Makin tinggi resiko gigi berlubang seseorang, aplikasi topikal fluor ini pun harus diberikan lebih sering.

Apakah ini berbahaya ?

Tentu tidak, karena dosis yang diberikan ini dalam batas aman. Dan dalam setiap produk topikal fluoridasi di dokter gigi pasti disertai dengan dosis pemberian sesuai dengan usia pasien.

Bagaimana ini diberikan ?

Prosedurnya sangat sederhana, cukup dioleskan pada permukaan gigi secara merata oleh dokter gigi. Namun proses pengolesan ini harus dilakukan setelah dibersihkan karang giginya.

Perawatan gigi yang paling baik adalah perawatan pencegahan penyakit gigi dan mulut.

Nah, bila anda sudah mengetahui ada prosedur untuk mencegah gigi berlubang, maukah anda melakukannya?

Salam sehat,

Read More
jangan percaya drg

Jangan pernah percaya apa yang dikatakan dokter gigi..

drg. Widya Apsari Sp.PM

Anda terkejut dengan gambar di atas ? Ketika saya membacanya pertama kali pun saya terkejut, sambil berpikir, iya juga  ya..

Saya pikir selama ini dokter gigi terlalu fokus berpikir, belajar, berlatih, dan berkomunikasi kepada pasien tentang bagaimana mengobati gigi yang sakit, bagaimana supaya gigi ditambal seperti gigi aslinya, bagaimana membuat sisa akar bisa dikembalikan menjadi bentuk gigi, dan juga bagaimana caranya gigi putih bersih dan cemerlang.

Mengapa tidak ada dokter gigi yang menyuarakan bagaimana caranya pasien saya tidak ada yg berlubang giginya, agar saya tidak perlu menambal gigi yang lubang, tidak perlu mencabut gigi yang rusak, tidak perlu membuatkan gigi palsu, dan juga bagaimana caranya pasien saya puas dengan gigi aslinya..

Menurut saya dokter itu tidak diciptakan untuk mengobati yang sakit saja, namun tugas utamanya adalah membuat pasien dan masyarakat disekitarnya menjadi sehat dan telindung dari penyakit.

Jadi doa seorang dokter bukan lagi ” Ya Tuhan, berikan rezeki pada hari ini, semoga hari ini pasien sakit giginya banyak…Amin” tapi “Ya Tuhan, semoga pasien saya mengingat bahwa hari ini adalah bulan ke 6 dan waktunya skeling dan topikal fluor, agar saya masih dapat melindungi gigi pasien saya seumur hidup mereka.. Amin”

Ini hanyalah opini saya, boleh setuju dan boleh tidak.. Namun pemikiran ini yang membuat kami di Difa Oral Health Center terus mengedukasi masyarakat Indonesia mengenai  kesehatan rongga mulut, agar tercipta masyarakat Indonesia yang bebas penyakit gigi dan mulut.

Karena tujuan Difa Oral Health Center adalah bukan untuk “mengobati penyakit”, tapi untuk menjaga pasien kami “tetap sehat”.

Salam sehat,

Read More
35130210_m

Jadikan kebiasaan menyikat gigi malam hari sebagai investasi kesehatan anda

drg. Miranda Adriani

Bagi kebanyakan orang, menyikat gigi di pagi hari akan terasa lebih berguna. Karena menyikat gigi pada pagi hari akan menghilangkan bau mulut dan rasa tidak enak pada mulut saat bangun pagi, sehingga nafas terasa lebih segar.

Namun tahukah anda, menyikat gigi di pagi hari juga membantu membersihkan sisa – sisa plak yang ada di dalam mulut.

Bagaimana dengan menyikat gigi malam sebelum tidur?

Banyak alasan yang membuat kita tidak menggosok gigi di malam hari. Bisa karena lupa, ketiduran, capek, atau memang merasa menyikat gigi di malam hari bukan merupakan suatu kewajiban.

Nah mulai sekarang, kebiasaan tersebut sebaiknya dihilangkan ya, karena sama seperti menyikat gigi di pagi hari, menyikat gigi di malam hari sangat penting untuk kesehatan gigi dan mulut. Gak percaya?

Apa yang terjadi di dalam rongga mulut di malam hari saat kita tidur?

Saat kita tidur, produksi saliva (air liur) akan menurun. Saliva merupakan salah satu bentuk pertahanan  dari tubuh untuk melawan bakteri dalam mulut dan juga menghilangkan plak.

Kondisi saliva yang berkurang dalam mulut ketika tidur ini merupakan lingkungan yang menguntungkan bagi bakteri penyebab gigi berlubang.

Pada kondisi kita tidur, bakteri menjadi lebih “aktif”  dan berkembang biak dengan bebas. Ketika disela-sela gigi kita terdapat sisa makanan, sisa makanan di gigi ini lah yang akan menjadi sumber energi untuk bakter dalam melakukan aktifitas berkembang biak dan memproduksi asam demi menghancurkan gigi dan gusi kita.

Gigi itu anugrah dari Tuhan yang wajib kita rawat.jadi biasakan menyikat gigi tepat sebelum tidur untuk membantu menghilangkan sisa – sisa plak setelah makan malam dan plak yang sudah “menempel” seharian. Sehingga bakteri tidak dapat berkembang biak untuk menghancurkan gigi kita..

Jadi, mulai sekarang kita tidak boleh melupakan sikat gigi di malam hari ya! Juga tidak boleh “cheating” hanya dengan berkumur saja, karena berkumur tidak cukup untuk membersihkan plak.

Menyikat gigi dengan rutin dan di waktu dan cara yang tepat akan mengurangi terjadi resiko gigi berlubang, dan membuat mulut kita merasa lebih segar, bersih dan kita menjadi lebih percaya diri.

Salam Sehat,

Sumber:

http://www.worldoralhealthday.com/wp-content/uploads/2014/03/FDIWhitePaper_OralHealthWorldwide.pdf

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16451540

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21356014

http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/egigi/article/view/6406

Read More
Visi dan Misi

Menyikat gigi sebagai bagian dari kesehatan tubuh

drg. Miranda Adriani

Waktu dan rutinitas menyikat gigi pada setiap orang bisa berbeda – beda. Bisa di pagi hari saja, pagi dan sore hari, pagi dan malam, atau bahkan hanya saat mandi.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, 76,6% masyarakat Indonesia  menyikat gigi pada saat mandi pagi maupun mandi sore, yaitu sejumlah 76,6%.

Organisasi dokter gigi dunia (FDI) merekomendasikan waktu menyikat gigi yang direkomendasikan yaitu dua kali sehari, yaitu pagi dan malam sebelum tidur. Bisa dibayangkan kan, berarti lebih dari setengah penduduk Indonesia memiliki pola waktu menyikat gigi yang salah.

Berbagai penelitian telah membuktikan menyikat gigi 2 kali sehari, pagi dan sebelum tidur mampu menurunkan tingkat terjadinya gigi berlubang dan juga ternyata dapat meningkatkan kesehatan gusi. Jadi intinya menyikat gigi itu dapat meningkatkan kesehatan rongga mulut kita.

Kondisi kesehatan rongga mulut merupakan cermin kesehatan tubuh kita. Bagaimana mencapai kesehatan rongga mulut? Cukup mudah biasakan menyikat gigi 2 kali sehari, pagi dan sebelum tidur. Sangat mudah bukan ?

Salam Sehat

Refrensi

http://www.worldoralhealthday.com/wp-content/uploads/2014/03/FDIWhitePaper_OralHealthWorldwide.pdf

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16451540

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21356014

http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/egigi/article/view/6406

Read More
fluor

Fluor atau Fluoride, Zat Penuh Kontroversi (Bag.3-Habis)..

Jika memang fluoride berguna untuk melindungi terjadinya gigi berlubang, mengapa masih banyak kelompok yang anti terhadap fluoride ini?

Kita semua tentu setuju dengan pernyataan segala sesuatu yang berlebihan menjadi tidak baik. Nah, hal tersebut juga berlaku untuk asupan fluoride dalam tubuh.

Berapa kadar fluoride yang aman untuk tubuh ?

Air Kemasan

Kandungan fluoride pada air kemasan di Indoensia mengikuti atutan WHO (2011) dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum, yaitu tidak lebih dari 1,5 mg/l.

Bidang Kedokteran Gigi

Untuk penggunaan di kedokteran gigi, konsentrasi fluoride rendah adalah sebanyak 0.25 – 1 mg per tablet; 1000 – 1500 mg per kg pada pasta gigi, atau konsentrasi fluoride tinggi sebanyak 400-60000 mg/kg di dalam 10 000 mg/liter atau gel, untuk penggunaan secara topikal.

Untuk konsentrasi rendah umumnya terdapat pada produk kesehatan gigi dan mulut yang dijual bebas, seperti pasta gigi dan obat kumur. Sedangkan untuk kadar tinggi, terdapat dalam produk gel dan juga varnish yang aplikasinya harus dengan petunjuk dokter gigi.

Makanan

Kadar fluoride dalam makanan seperti sayur, buah, dan daging, sangat tergantung dari kondisi alam disekitar makanan tersebut berada dengan kadar yang bervariasi.

Namun diperkitakan paparan fluoride secara alami tidak akan lebih dari 1 mg/liter, sehingga tidak memiliki pengaruh terhadap berbagai efek samping yang selama ini takuti oleh sekelompok masyarakat.

Sehingga hal yang harus kita pertanyakan adalah sudah cukupkah asupan fluoride saya ?

Jangan sampai anda sibuk menghindari flouride sampai kesehatan gigi dan tubuh anda dan keluarga menjadi taruhannya.. Karena bagaimanapun gigi adalah anugerah dari Tuhan yang harus kita jaga seumur hidup kita.

Salam Sehat,

(Penulis : drg Widya Apsari Sp.PM)

Sumber:

 

Baca juga:

Read More
Fluoride+benefits

Fluor atau Fluoride, Zat Penuh Kontroversi (Bag. 2)

Fluoride merupakan mineral ion yang secara natural terdapat pada air, tanah, udara, dan juga berbagai makanan secara alami. Umumnya paparan fluoride pada makanan dan minuman berasal dari paparan ion flouride dari alam (vulkanik, mata air, tanah, dll).

Apa saja makanan dan minuman yang mengandung fluoride ?

Pada penelitian, diketahui kadar fluoride tertinggi terdapat pada teh, seafood, daging, bayam, dan gelatin. Dan sedikit pada buah citrus, sayuran, telur, dan susu. Namun kadar fluoride sendiri menjadi bervariasi tergantung dari kondisi geografis di suatu wilayah.

Untuk mengecek kandungan fluoride dari berbagai makanan bisa cek disini

Sedangkan produk kesehatan gigi yang selama ini mengandung fluoride adalah pasta gigi, obat kumur, dan juga berbagai produk pencegahan gigi berlubang di dokter gigi adalah varnish dan gel

Fluoride+benefits

Bagaimana fluoride dapat mencegah terjadinya gigi berlubang ?

Fluoride dapat melindungi gigi secara sistemik (melalui asupan ke dalam tubuh) dan topikal (melalui paparan dari luar).

Secara sistemik fluoride berperan dalam proses mineralisasi pembentukan gigi di dalam tulang rahang dan juga dengan peningkatan kadar fluoride di dalam air ludah. Sehingga pada saat pembentukan benih gigi, dengan adanya kadar fluoride yang cukup, akan terbentuk gigi yang susunan mineral yang kuat dan tidak mudah larut oleh asam dari bakteri dan juga makanan.

Sedangkan secara topikal, fluoride berperan pada saat gigi sudah tumbuh sempurna, dengan cara melapisi gigi sehingga tahan terhadap bakteri penyebab gigi berlubang, dengan cara membantu pembentukan kembali mineral dari lapisan gigi yang larut akibat asam dari bakteri penyebab gigi berlubang dan makanan.

Sejauh mana fluoride dapat mencegah terjadinya gigi berlubang ?

Menurut penelitian yang ada, paparan fluoride, terutama melalui air minum, dapat mencegah terjadinya gigi belubang pada gigi susu sebesar 35% dan pada gigi permanen sebesar 26%. Dan secara signifikan meningkatkan individu dengan bebas gigi berlubang pada gigi susu sebesar 15% dan pada gigi permanen sebesar 14%.

Secara umum, fluoride di dalam air minum dapat mengurangi terjadinya gigi berlubang sebesar 40 -60 %

Jika fluoride sangat signifikan untuk membantu kita memiliki struktur gigi yang kuat, mengapa fluoride ini terus menjadi kontroversi ? Berapa banyak asupan fluoride total yang kita dapatkan dari makanan ? Apakah kebutuhan fluoride sudah tercukupi melalui makanan ?

(Penulis : drg. Widya Apsari Sp.PM)

Sumber:

Baca selanjutnya:

Read More
Skip to toolbar