Welcome to Difa Oral Health Center

Opening Hours : Selasa-Jumat 14:00-20:00, Sabtu-Minggu 09:00-15:00
  Contact : +62813-1650-6535

major_aphthous_stomatitis

Yuk Kenali Sariawan dari Sisi Medis?

Istilah sariawan sangat tidak asing ditelinga kita, bahkan ada diantara kita yang sering sekali mengalami sariawan dan kondisi ini sangat menggangu aktifitas sehari-hari.

Berikut ini simak wawancara Difa Oral Health Center (Difa OHC) dengan salah satu ower Difa OHC yaitu drg. Widya Apsari Sp.PM

Difa OHC: Sebelum masuk ke topik sariawan, bisa dijelaskan mengenai gelar Sp.PM dibelakang nama dokter?

drg. Widya: Sp.PM singkatan dari Spesialis Penyakit Mulut, termasuk salah satu cabang dari spesialisasi kedokteran gigi. Spesialis penyakit mulut ini mempelajari penyakit dijaringan lunak rongga mulut seperti lidah, bibir, pipi bagian dalam, langit-langit, dan juga gusi.
salah satu jenis penyakit yang dipelajari adalah sariwan tersebut, gambaran khas di rongga mulut dari penyakit di tubuh tertentu, dan juga tatalaksana perawatan gigi dan mulut pada pasien dengan penyakit tertentu.

Difa OHC: Sekarang mengenai sariawan, sebetulnya istilah sariawan dalam pandangan ilmu kedokteran itu apa?

drg. Widya: umumnya masyarakat menyebut sariawan sebagai istilah untuk seluruh jenis luka dalam rongga mulut” apakah itu di pipi, lidah bibir, langit-langit, bahkan gusi.
namun, dalam sisi ilmu penyakit mulut istilah sariawan ini amat luas bahkan terdiri dari berbagai diagnosis sesuai dengan penyebab sariawan itu sendiri.

Difa OHC: Bisa disebutkan diagnosa sariawan yang paling umum ditemukan di masyarakat?

drg. Widya: Sariawan yang paling umum ditemukan adalah Stomatitis Aphotsa Recurrent (SAR). ini dialami oleh kurang lebih 20% dari seluruh populasi di dunia. Sedangkan diagnosa sariawan lainnya yang juga umum ditemukan adalah sariawan akibat trauma tergigit (traumatic ulcer), sariawan akibat alergi (stomatitis alergi), sariawan akibat infeksi virus atau bakteri, infeksi jamur kandidia pada rongga mulut, dan juga ada sariawan tertentu yang khas pada penderita penyakit seperti lupus, pemphigus, HIV, bahkan TBC. Sehingga penegakan suatu sariawan amat tergantung dari kemampuan dokter dalam menganalisa keluhan pasien dan juga gambaran klinis dari sariawan tersebut. Nah, kemampuan membedakan berbagai jenis sariawan ini yang dipelajari oleh spesialis penyakit mulut.

Difa OHC: Sekarang pembahasan kita khusus pada Stomatitis Aphtosa Rekurent (SAR) yang paling umum diamali oleh masyarakat kita. Bisa dijelaskan mengenai SAR ini?

drg. Widya: SAR ini adalah suatu luka di jaringan lunak rongga mulut terutama di lidah, pipi dalam, bibir, dan juga dasar mulut dengan tingkat kekambuhan sampai lebih dari 3 kali dalam satu tahun. Adanya ciri adanya “kekambuhan” ini yang tertuang dalam istilah “Recurrent” dalam diagnosis SAR tersebut.

Difa OHC: Apa sebenernya penyebab dari SAR tersebut?

drg. Widya: Hingga saat ini penyebab pasti dari SAR ini belum diketahui secara pasti. Namun saat ini sudah diketahui adanya keterlibatan gen tertentu dalam timbulnya SAR ini. Hal ini ditunjukkan dengan penelitian pada orang tua yang memiliki SAR akan melahirkan 90% anak yang memiliki SAR juga.

Difa OHC: Beberapa dokter bilang stres, kurang vitamin C, hormon, atau kurang makan buah sebagai penyebab sariawan/ SAR, Nah jika demikian apa hubungannya dengan pengaruh gen yang dokter sebutkan tadi?

drg. Widya: Kita semua pernah mengalami stres, masalah hormonal seperti pada saat menstruasi, atau beberapa orang bahkan ada yang tidak pernah manan sayur atau pun buah-buahan namun tidak pernah mengalami SAR. Namun ada sebagian orang yang setiapkali stres, menstruasi, atau absen makan sayur/buah sekali saja langsung mengalami SAR. Nah, disinilah faktor gen itu berperan.

Dida OHC: Jadi faktor stres, hormon, dan konsumsi sayur bisa dikatakan sebagai apa dalam terjadinya SAR?

drg. Widya: Ketiga faktor tersebut dapat digolongkan sebagai faktor pemicu SAR bersama dengan faktor lain seperti trauma mekanis, kekurangan zat besi, asam folat dan juga zat besi, strs fisik maupun pikiran, dan juga sensitif terhadap makanan tertentu. Faktor-faktor ini dapat menjadi pemicu terjadinya SAR pada seseorang yang memiliki gen keturunan terjadinya SAR.

Difa OHC: Bagaimana pengobatan SAR sesuai dengan anjuran medis?

drg. Widya: Pengobatan SAR terdiri dari 3 hal yaitu, mengurangi nyeri, mempercepat penyembuhan dan mengurangi kekambuhan. Upaya paling sederhana dalam mengurangi nyeri dan mempercepat penyembuhan luka dapat dilakukan dengan berkumur dengan obat kumur/cairan antiseptik. Sedangkan untuk mengurangi kekambuhan dapat dilakukan dengan menghindari faktor yang dapat memicu SAR. Jadi seseorang harus tau apa pencetus dari SAR nya, dan berusaha untuk menghindarinya.

Difa OHC: Cairan/ obat kumur antiseptik apa yang dokter anjurkan untuk mengatasi SAR?

drg. Widya: yang paling sederhana, alami dan aman adalah berkumur dengan air garam atau rebusan sirih.

Difa OHC: Saat ini banyak obat sariawan yang beredar dipasaran, bagaimana kita memilih mana yang paling cocok dan aman?

drg. Widya: Yang perlu diketahui dalam memilih obat sariawan yang pas adalah bagaimana cara kerja dari obat sariawan tersebut. Obat sariawan seharusnya memiliki efek melapisi dan melindungi luka di dalam rongga mulut, dan menghilangkan radang sehingga rasa nyeri dan luka cepat sembuh. Obat sariawan yang baik akan tetap menjada asupan darah ke dalam luka sehingga luka menjadi cepat sembuh.

Difa OHC: Kapan waktunya kita harus mengunjungi dokter untuk masalah SAR ini?

drg. Widya: bila sariawan tersebut menggangu sampai tidak bisa makan dan minum, serta menggangu aktifitas sehari-hari, apabila sariwan sampai menimbulkan demam, apabila sariawan tersebut kambuh secara terus menerus, dan bila sariawan tersebut tidak sembuh juga dalam waktu lebih dari 14 hari.

Difa OHC: Sebagai penutup apa saran dokter bagi teman-teman yang sering mengalami sariwan?

drg. Widya: jangan sepelekan sariawan sekecil apapun, dan jangan takut untuk mencari pengobatan ke dokter gigi terutama spesialis penyakit mulut. Terutama jika sariwan disatu lokasi tidak sembuh dalam waktu 14 hari. karena sariawan tersebut merupakan bukan sariawan biasa tapi bisa kearah keganasan/kanker mulut, atau penanda penyakit sistemik tertentu.

image taken from: yusiariani.wordpress.com

Skip to toolbar